SUKABUMIUPDATE.com - Selama ini, penyakit jantung sering dikaitkan dengan orang dewasa atau lansia. Padahal, anak-anak juga dapat mengalami gangguan pada jantung, baik sejak lahir maupun akibat kondisi tertentu yang berkembang seiring waktu.
Sayangnya, gejala penyakit jantung pada anak kerap tidak disadari karena terlihat samar atau dianggap sebagai keluhan biasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali jenis penyakit jantung yang terjadi pada anak serta tanda-tandanya.
Jenis Penyakit Jantung pada Anak
1. Penyakit Jantung Bawaan (Kongenital)
Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada struktur jantung yang sudah terjadi sejak bayi masih dalam kandungan. Kondisi ini muncul akibat perkembangan jantung janin yang tidak sempurna. Penyakit jantung bawaan termasuk kelainan bawaan yang paling sering ditemukan pada anak.
Kelainan yang terjadi bisa berupa lubang pada sekat jantung, penyempitan katup atau pembuluh darah, hingga kombinasi beberapa kelainan sekaligus.
Penyakit jantung bawaan dibagi menjadi dua jenis, yaitu sianotik dan non-sianotik.
Baca Juga: Yuk Perhatikan! 5 Cara Mudah Membedakan Kutil dan Skin Tag pada Kulit
Pada jenis sianotik, anak dapat mengalami kebiruan pada bibir atau lidah akibat kurangnya oksigen dalam darah. Sementara itu, penyakit jantung bawaan non-sianotik umumnya tidak menimbulkan warna kebiruan, tetapi dapat menyebabkan gejala gagal jantung seperti sesak napas, pembengkakan, serta gangguan pertumbuhan.
Faktor risiko penyakit ini meliputi faktor genetik, infeksi saat kehamilan, paparan asap rokok, konsumsi obat tertentu, hingga kondisi medis ibu seperti diabetes. Penanganan penyakit jantung bawaan bergantung pada jenis dan tingkat keparahannya, mulai dari pemantauan rutin hingga tindakan medis lanjutan.
2. Aterosklerosis
Aterosklerosis adalah kondisi penumpukan lemak dan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Meski lebih sering terjadi pada orang dewasa, proses aterosklerosis sebenarnya bisa dimulai sejak masa anak-anak, terutama pada anak dengan obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Penumpukan plak ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan kaku, sehingga meningkatkan risiko gangguan aliran darah ke jantung. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala di awal, sehingga pemeriksaan rutin menjadi penting bagi anak dengan faktor risiko tertentu.
3. Aritmia
Aritmia merupakan gangguan irama jantung, di mana detak jantung bisa menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Pada anak, aritmia dapat disebabkan oleh faktor bawaan, gangguan sistem listrik jantung, atau pengaruh lingkungan.
Beberapa jenis aritmia yang dapat terjadi pada anak meliputi bradikardia, takikardia, serta gangguan irama yang berasal dari serambi atau bilik jantung. Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, mudah lelah, pusing, hingga pingsan. Diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan irama jantung dan tes lanjutan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: 5 Tren Self-Improvement Favorit Gen Z yang Bikin Hidup Lebih Seimbang
4. Penyakit Kawasaki
Penyakit Kawasaki adalah penyakit langka yang menyebabkan peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh dan umumnya menyerang bayi serta anak kecil. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama gangguan jantung pada anak.
Gejala awalnya meliputi demam tinggi berkepanjangan, mata merah, bibir kering dan pecah-pecah, pembengkakan pada tangan dan kaki, serta anak tampak sangat rewel. Jika tidak segera ditangani, penyakit Kawasaki dapat menimbulkan komplikasi serius pada jantung.
Penyakit jantung pada anak tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas sejak awal. Oleh karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan kondisi anak dan tidak ragu untuk berkonsultasi ke dokter jika muncul tanda yang mencurigakan.
Baca Juga: 9 Manfaat Buah Kiwi bagi Kesehatan Tubuh yang Jarang Orang Tahu
Deteksi dan penanganan dini berperan penting dalam mencegah komplikasi serta menjaga kualitas hidup anak ke depannya.
Sumber: hellosehat





