Craniosynostosis pada Bayi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pilihan Pengobatan

Sukabumiupdate.com
Sabtu 24 Jan 2026, 10:30 WIB
Craniosynostosis pada Bayi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pilihan Pengobatan

Ilustrasi Craniosynostosis pada Bayi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pilihan Pengobatan (Sumber: Freepik/@pvproductions)

SUKABUMIUPDATE.com - Craniosynostosis adalah kelainan bawaan yang terjadi pada tulang tengkorak bayi. Kondisi ini ditandai dengan menutupnya ubun-ubun atau jahitan tulang kepala terlalu dini, sebelum otak bayi berkembang secara optimal. 

Akibatnya, bentuk kepala bayi tampak tidak normal. Meski demikian, pada beberapa kasus ringan, fungsi otak masih dapat berkembang dengan baik jika ditangani sejak dini.

Secara normal, tulang tengkorak bayi terdiri dari beberapa lempeng yang dipisahkan oleh sutura. Sutura ini berfungsi memberi ruang bagi otak untuk tumbuh seiring bertambahnya usia. Pada craniosynostosis, satu atau lebih sutura menutup lebih cepat, sehingga pertumbuhan tengkorak menjadi tidak seimbang dan dapat menekan otak.

Penyebab Craniosynostosis pada Bayi

Hingga saat ini, penyebab pasti craniosynostosis belum sepenuhnya diketahui. Namun, kondisi ini umumnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu craniosynostosis non-sindromik dan sindromik. Jenis non-sindromik merupakan yang paling sering terjadi dan diduga dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Baca Juga: Anak Usia 2 Tahun Belum Bisa Bicara? Ini Penyebab dan Cara Menstimulasinya

Sementara itu, craniosynostosis sindromik berkaitan dengan kelainan genetik tertentu, seperti sindrom Apert, Crouzon, atau Pfeiffer. Pada kondisi ini, craniosynostosis sering disertai gangguan perkembangan lain yang mempengaruhi wajah, mata, atau anggota tubuh.

Berdasarkan letak sutura yang menutup lebih cepat, craniosynostosis dibagi menjadi empat tipe utama, yaitu sagital, koronal, metopik, dan lambdoid. Masing-masing tipe memiliki ciri bentuk kepala yang berbeda, mulai dari kepala memanjang, dahi tidak simetris, hingga bentuk kepala segitiga.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala craniosynostosis biasanya terlihat sejak bayi lahir atau beberapa bulan setelahnya. Tanda yang paling mudah dikenali adalah bentuk kepala yang tidak proporsional. Selain itu, ubun-ubun bayi dapat terasa sangat kecil atau bahkan tidak teraba.

Beberapa bayi juga mengalami pertumbuhan lingkar kepala yang lebih lambat dibandingkan anak seusianya. Pada kondisi tertentu, peningkatan tekanan di dalam kepala dapat menyebabkan gangguan penglihatan, pendengaran, hingga keterlambatan perkembangan. Jika tidak ditangani, craniosynostosis dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang, termasuk gangguan kognitif dan masalah psikologis.

Baca Juga: 6 Dampak Positif Konsumsi Makanan Fermentasi bagi Kesehatan Tubuh

Diagnosis Craniosynostosis

Diagnosis craniosynostosis dilakukan melalui pemeriksaan menyeluruh oleh dokter. Tahap awal meliputi pemeriksaan fisik untuk menilai bentuk kepala, ukuran lingkar kepala, serta kondisi ubun-ubun. Riwayat kehamilan dan faktor genetik keluarga juga akan ditanyakan.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya merekomendasikan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI. 

Pemeriksaan ini membantu melihat struktur tulang tengkorak dan kondisi otak secara lebih detail. Pada kasus tertentu, tes genetik juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan sindrom bawaan.

Pilihan Pengobatan Craniosynostosis

Penanganan craniosynostosis bergantung pada tingkat keparahan dan usia bayi. Pada kasus ringan, dokter dapat menyarankan penggunaan helm khusus yang membantu membentuk ulang tengkorak seiring pertumbuhan otak.

Namun, pada kondisi yang lebih berat, tindakan operasi diperlukan. Operasi bertujuan mengurangi tekanan di dalam kepala, memberi ruang bagi otak untuk berkembang, serta memperbaiki bentuk tengkorak.

Baca Juga: 5 Cara Efektif Membiasakan Anak Bangun Pagi untuk Sekolah

Terdapat dua metode operasi, yaitu bedah terbuka dan bedah endoskopi. Bedah endoskopi umumnya dilakukan pada bayi di bawah usia enam bulan karena prosesnya lebih singkat dan pemulihan lebih cepat.

Sumber: Mayo Clinic

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini