SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr Daryono, menjelaskan bahwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,6 yang terjadi di Laut Jawa sebelah utara Jakarta pada Sabtu (12/9/2026) pukul 04.23 WIB merupakan contoh gempa bumi dalam (deep focus earthquake).
Berdasarkan analisis seismologi dan tektonik, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan gempa tersebut dirasakan luas, termasuk di wilayah Sukabumi.
Gempa Berasal dari Lempeng Australia yang Menunjam
Menurut Daryono, gempa ini bukan dipicu aktivitas sesar aktif di dekat permukaan bumi. Sumber gempa berasal dari batuan pada Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Pulau Jawa hingga kedalaman sekitar 358 kilometer.
Peristiwa patahan yang terjadi di dalam lempeng yang tersubduksi tersebut dikenal sebagai gempa intra-slab atau gempa dalam.
"Proses deformasi batuan di dalam lempeng tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab," kata Daryono dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Gempa Kepulauan Seribu M6,5 Terasa Hingga Sukabumi, BMKG Ungkap Penyebabnya
Mengapa Sukabumi Merasakan Guncangan Lebih Kuat?
Meski pusat gempa berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran justru dirasakan lebih awal dan relatif lebih kuat di sejumlah wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.
Daryono menyampaikan bahwa hal tersebut terjadi karena gelombang seismik merambat lebih efisien melalui jalur lempeng yang padat dan homogen. Energi gempa bergerak mengikuti slab Lempeng Australia ke arah selatan sebelum kemudian menyebar ke permukaan.
Dirasakan Luas, tetapi Tidak Berpotensi Merusak
Eks Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG tersebut menjelaskan, kedalaman gempa yang mencapai lebih dari 300 kilometer menyebabkan energi gempa menyebar ke wilayah yang sangat luas, mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan.
Namun karena sumber gempa berada sangat dalam, energi yang mencapai permukaan bumi sudah banyak berkurang sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan pada bangunan.
"Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural," jelas Daryono.
Gempa Dalam Umumnya Tidak Memiliki Banyak Gempa Susulan
Adapun karakteristik lain dari gempa dalam adalah minimnya gempa susulan.
Menurut Daryono, batuan pada litosfer samudra di kedalaman ratusan kilometer memiliki struktur yang relatif homogen. Kondisi tersebut membuat pelepasan tegangan terjadi hampir seluruhnya dalam satu kejadian utama.
"Karena gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama. Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan (aftershocks)," pungkasnya.















