SUKABUMIUPDATE.com – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi mulai mengubah strategi peningkatan produksi pangan dengan mengedepankan modernisasi pertanian melalui Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). Program ini ditargetkan diterapkan di lahan seluas 5.000 hektare sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan peningkatan produksi padi tidak cukup hanya mengandalkan perluasan luas tanam. Menurut dia, produktivitas lahan, efisiensi penggunaan sarana produksi, pemanfaatan teknologi, hingga perlindungan lahan sawah harus berjalan secara terpadu.
"PM-AAS merupakan salah satu upaya meningkatkan produktivitas lahan sawah. Prinsipnya menggunakan pertanian modern, mulai dari penyiapan lahan, penggunaan alat dan mesin pertanian, digitalisasi, pemilihan benih, hingga pengaturan pupuk dan pengendalian gulma," ujar Aep saat Sosialisasi PM-AAS di Balai Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, baru-baru ini.
Baca Juga: CSR AQUA Sukabumi: Jalan Sehat dan Bakti Sosial KPSAB RW 08 Mekarsari
Saat ini produktivitas padi di Kabupaten Sukabumi berada di kisaran 5,7 ton per hektare. Melalui penerapan PM-AAS, Distan menargetkan produktivitas tersebut terus meningkat seiring penggunaan teknologi pertanian modern.
"Produktivitas kita saat ini sekitar 5,7 ton per hektare. Harapannya tentu bisa meningkat. Target yang didorong melalui PM-AAS cukup tinggi sehingga kami akan menerapkannya secara bertahap sesuai kondisi di lapangan," katanya.
Dalam konsep PM-AAS, kata Aep, seluruh proses budidaya dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengolahan lahan hingga panen. Teknologi seperti drone untuk penyemprotan, alat tanam modern, combine harvester, hingga sistem digital menjadi bagian dari transformasi tersebut.
Distan juga mulai menguji metode tanam benih langsung (tabela) yang dinilai mampu memangkas proses persemaian sehingga budidaya menjadi lebih efisien. Namun, penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi lahan, cuaca, ketersediaan air, dan karakteristik tanah.
"Karena itu, penerapan PM-AAS akan terus dievaluasi berdasarkan hasil uji coba di lapangan," ujar Aep.
Sebagai tahap awal, Aep mengungkapkan bahwa Distan Kabupaten Sukabumi telah melakukan uji coba PM-AAS di Kecamatan Waluran sekitar tiga pekan lalu. Hingga kini, luas lahan yang digunakan untuk uji coba mencapai sekitar 18 hektar.
Baca Juga: Andri Hidayana Apresiasi Pajampangan Eundeur: Silaturahmi Komunitas Soundsystem Sukabumi
Ke depan, Distan akan membangun demplot PM-AAS di 47 kecamatan. Setiap Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) akan memiliki lahan percontohan sebagai media pembelajaran dan evaluasi penerapan teknologi pertanian modern.
"Kami sudah mulai sekitar tiga minggu lalu di Waluran. Saat ini sudah sekitar 18 hektar yang kami coba. Selanjutnya kami akan membuat demplot di 47 kecamatan agar prinsip PM-AAS dapat dipahami dan diterapkan sesuai petunjuk teknis," jelasnya.
Program tersebut juga menjadi bagian dari peningkatan kapasitas penyuluh pertanian. Pengetahuan dari demplot akan disebarluaskan kepada sekitar 140 penyuluh pertanian sebelum diterapkan kepada petani di seluruh Kabupaten Sukabumi.
Baca Juga: Mengenal 52 Istilah saat Musim Kemarau dalam Bahasa Sunda, Ada Halodo, Cinyusu hingga Hanaang
Selain modernisasi budidaya, Distan menilai perlindungan lahan sawah menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan. Pemerintah daerah mendorong lahan sawah masuk ke dalam skema Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) agar tidak beralih fungsi.
Menurut Aep, dari sekitar 62 ribu hektare lahan sawah yang menjadi perhatian pemerintah daerah, sedikitnya 87 persen ditargetkan masuk ke dalam kawasan LP2B.
"Kalau lahannya tidak ada, kita mau menetapkan sentra produksi bagaimana? Karena itu lahan sawah harus tetap dipertahankan. Produktivitas ditingkatkan, tetapi lahannya juga harus dijaga," tegasnya.
Baca Juga: KUR hingga Rp 100 Juta Tanpa Agunan Tambahan, Sertifikat Tanah dan BPKB Tak Boleh Diminta
Ia menambahkan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari bertambahnya luas tanam, tetapi juga peningkatan produktivitas per hektar, efisiensi biaya produksi, keberlanjutan lahan pertanian, serta kemampuan petani mengadopsi teknologi modern.
"Harapannya luas tanam padi pada 2026 meningkat dan diikuti peningkatan produktivitas. Kami ingin pertanian modern ini benar-benar memberikan hasil, bukan hanya pada produksi, tetapi juga terhadap keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan petani," pungkas Aep. (*)

















