Di Balik Adopsi AI, Redaksi Tetap Menjaga Prinsip Verifikasi

Sukabumiupdate.com
Rabu 01 Apr 2026, 13:39 WIB
Di Balik Adopsi AI, Redaksi Tetap Menjaga Prinsip Verifikasi

Para pemateri dalam acara Showcasing Google AI Tools yang diikuti perwakilan dari  media online, di Jakarta, Selasa 31 Maret 2026. (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com - Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di ruang redaksi kian meluas, termasuk di media besar seperti Kompas.com dan IDN Times. Namun, keduanya sepakat, bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan sumber utama dalam kerja jurnalistik.

Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menyebut tantangan terbesar media saat ini bukan lagi sesama perusahaan pers, melainkan blank space, ruang digital tempat audiens bisa mencari, mengolah, dan mendapatkan informasi secara mandiri.

“Kompetitor paling mengerikan adalah blank space. Di sana orang bisa bertanya dan riset apa saja,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta.

Baca Juga: Ditengah Penghematan Anggaran, Warga Sukabumi Lintasi Jembatan Uji Nyali

Menurut Amir, ketergantungan media terhadap infrastruktur Google juga menghadirkan dilema, terutama ketika algoritma dan lanskap digital terus berubah. Meski demikian, Kompas.com tetap mengembangkan berbagai produk berbasis AI, seperti morning brief, hingga konten audio dan visual berbasis AI.

AI juga digunakan untuk membantu riset, misalnya dalam memahami dokumen kompleks seperti perjanjian bilateral. Namun, Amir menegaskan batas yang tidak boleh dilanggar, yaitu AI tidak boleh menjadi sumber berita.

“AI alat bantu, bukan sumber berita. Kalau dijadikan sumber, berisiko dan berbahaya,” katanya.

Baca Juga: Lantik 3 Pejabat Baru, Bupati Sukabumi: ASN Harus Responsif dan Siap Dikritik Publik

Ia menekankan prinsip human in the loop. Dalam prinsip tersebut, setiap output AI harus tetap diverifikasi oleh jurnalis. Tanpa tahapan ini, risiko kesalahan dan penalti dari platform seperti Google bisa terjadi.

Di sisi lain, Wakil Pemimpin Redaksi IDN Times, Umi Kalsum, mengungkapkan bahwa redaksinya telah mengintegrasikan AI langsung ke dalam sistem manajemen konten (CMS), termasuk untuk menyederhanakan bahasa berita agar lebih mudah dipahami pembaca.

Namun, Umi mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan kehati-hatian. Ia mencontohkan kasus ketika AI menghasilkan informasi yang keliru terkait seorang tokoh, yang berpotensi menyesatkan jika tidak diverifikasi.

Baca Juga: WFH Sektor Swasta Segera Berlaku? Airlangga: Tunggu SE dari Kemenaker

“Editor wajib membaca. Kalau jurnalis tidak teliti, bisa menyesatkan,” ujarnya.

Selain penulisan, AI di IDN Times juga dimanfaatkan untuk merekomendasikan visual yang relevan dengan judul berita serta menganalisis data untuk meningkatkan engagement audiens. Bahkan, penggunaan AI telah menjadi bagian dari target kerja redaksi.

Meski demikian, keterbatasan sumber daya manusia tetap menjadi tantangan. Baik Kompas.com maupun IDN Times mengakui bahwa integrasi AI, terutama ke dalam sistem internal, tidak selalu berjalan mulus.

Baca Juga: Ragu Soal Harga BBM: Pemerintah Akhirnya Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, 50 Liter Per Hari

Di tengah percepatan adopsi teknologi, kedua media ini menegaskan satu prinsip yang sama. AI dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi akurasi dan kredibilitas tetap bergantung pada peran manusia di baliknya.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat Citra Dyah Prastuti menekankan bahwa AI seharusnya diperlakukan sebagai "asisten intern" di newsroom. "Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat," ujarnya. 

Ia menyebutkan, sebanyak 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari upaya transformasi bersama agar industri media tetap bertahan di tengah perubahan teknologi.

Baca Juga: MBG Dikurangi Jadi 5 Kali Sepekan, Pemerintah Hemat Rp 20 Triliun Di Tengah Krisis

Dari sisi teknologi, Google News Partner Manager, Yos Kusuma, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendorong jurnalisme berkelanjutan di Indonesia melalui kolaborasi dengan Dewan Pers dan AMSI. Ia menegaskan, meski AI dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja, peran manusia tetap krusial.

"Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media," kata Yos. Ia juga menambahkan bahwa inovasi alat berbasis AI yang diperkenalkan Google dirancang untuk mendukung ekosistem berita yang lebih adaptif dan inklusif.

Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, pers bukan hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. "Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat," ujarnya.

Pada Oktober 2025, AMSI menyelenggarakan pelatihan Google AI Tools bagi 40 media, yang dilanjutkan dengan program fellowship pada November 2025 hingga Januari 2026. Di akhir program ini, AMSI menampilkan hasil pelatihan dan fellowship, termasuk manfaat penggunaan Google AI Tools di ruang redaksi. 



Berita Terkait
Berita Terkini