SUKABUMIUPDATE.com - Setelah ratusan santri Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, mengalami mual dan muntah hingga harus mendapat perawatan, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi belum buru-buru menyimpulkan penyebabnya. Sampel makanan MBG dan muntahan santri kini diperiksa di laboratorium untuk memastikan apakah keluhan tersebut benar disebabkan keracunan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai santri yang dirawat di RSUD Al-Mulk. Setelah mendapat informasi tersebut, Dinkes langsung melakukan pemantauan ke rumah sakit dan menemukan adanya santri lain yang juga mendapat perawatan di RSUD R. Syamsudin, SH atau RS Bunut.
Berdasarkan data yang disampaikan Ida, sebanyak 58 pasien sempat dirawat di RS Bunut. Dari jumlah tersebut, 43 orang sudah diperbolehkan kembali ke pondok karena kondisinya stabil.
Baca Juga: Gaji 20-35 Juta Rupiah Per Bulan, Pemkot Sukabumi Kembali Kirim Pekerja Migran Ke Timur Tengah
Sementara di RSUD Al-Mulk terdapat 82 pasien yang mendapat perawatan. Sebanyak 37 orang diantaranya telah diperbolehkan kembali ke pondok, sedangkan sisanya masih menjalani observasi. Ida mengatakan kondisi pasien yang masih menjalani perawatan secara umum menunjukkan perkembangan yang membaik.
Namun, Dinkes belum dapat memastikan penyebab keluhan yang dialami para santri. Secara awal, gejala yang ditemukan memang mengarah pada dugaan keracunan, tetapi kesimpulan tersebut masih harus didukung pemeriksaan laboratorium.
"Diagnosis awal mungkin dugaan memang ada keracunan. Tapi yang jelas, kami masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya," kata Ida saat ditemui, Sabtu (15/8/2026).
Baca Juga: Prabowo Pertimbangkan Kewarganegaraan Ganda Terbatas, Peluang Keturunan Indonesia Balik Kandang
Laporan mengenai santri yang mulai mendapatkan penanganan di rumah sakit diterima Dinkes sejak pagi setelah waktu Subuh. Dari hasil pemantauan, para santri rata-rata mengalami gejala berupa mual dan muntah.
Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui penyelidikan epidemiologi atau PE. Petugas Dinkes tidak hanya menggali informasi dari para santri dan pihak pesantren, tetapi juga mengambil sejumlah sampel untuk mengetahui penyebab munculnya gejala.
Sampel yang diambil berupa muntahan santri dan sisa makanan. Untuk makanan, Dinkes mengambil beberapa jenis sampel, mulai dari sayuran, telur, tempe hingga susu.
Baca Juga: HUT ke-81 RI: UPTD BP Mektan Rebut Juara Turnamen Voli Distanhorti Jabar
Pemeriksaan juga tidak hanya dilakukan terhadap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinkes turut mengambil sampel makanan yang tersedia di dapur pesantren.
"Semua, termasuk sampel makanan yang ada di dapur pesantren juga kita ambil sampelnya," ujar Ida.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut diperlukan karena Dinkes belum bisa memastikan apakah keluhan para santri berkaitan dengan MBG atau berasal dari sumber lainnya. "Nah, itu juga belum bisa saya sampaikan, menyimpulkan apakah ini dari MBG atau apa, makanya kita semua periksa," katanya.
Baca Juga: Ombak Cimaja Taklukkan Dunia, Peselancar Lokal hingga Mancanegara Adu Skill di Sukabumi
Untuk pemeriksaan laboratorium, sebagian sampel harus dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Hal itu karena tidak semua jenis pemeriksaan tersedia di laboratorium milik Dinkes Kota Sukabumi.
Ida memperkirakan hasil pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Ia menegaskan, hasil laboratorium menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab keluhan, termasuk apabila terdapat bakteri tertentu.
"Tidak bisa kita harus dipastikan dengan data penunjang laboratorium yang kuat untuk memastikan penyebabnya, kalau bakteri, bakteri apa," ujarnya.
Baca Juga: Local Media Community: Dukungan Google untuk Penguatan Ekosistem Media Lokal
Dinkes juga masih menggali informasi mengenai waktu mulai munculnya gejala pada para santri. Ida mengatakan informasi yang diperoleh sejauh ini masih beragam sehingga belum dapat menentukan secara pasti kapan gejala pertama kali muncul.
Menurutnya, seluruh informasi tersebut nantinya akan disandingkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium agar kesimpulan yang diambil tidak berdasarkan satu sumber saja. "Kita tidak bisa memastikan ini mulai kapannya. Nanti didukung kuat dengan hasil data laboratorium. Jadi nanti secara utuh kita bisa simpulkan seperti apa," katanya.
Dinkes kini masih melanjutkan penyelidikan sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel. Sementara itu, kondisi para santri yang masih menjalani perawatan terus dipantau, sedangkan mereka yang telah stabil diperbolehkan kembali ke pondok.
Baca Juga: Contoh Pidato Hari Kemerdekaan Indonesia dengan bahasa Formal
Kantongi SLHS
Di sisi lain, Ida memastikan SPPG yang menyuplai menu MBG ke Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), yang menjadi salah satu persyaratan dalam operasional SPPG. Namun, ia menegaskan kepatuhan terhadap standar higiene dan sanitasi tidak berhenti setelah sertifikat diterbitkan.
Standar tersebut harus tetap dipenuhi selama SPPG menjalankan operasionalnya. "SLHS sudah diterbitkan. Tetapi kepatuhan terhadap standar untuk layanan itu harus bukan saja pada saat untuk pemenuhan administrasi ini terbit, tetapi sepanjang dia beroperasi," ujar Ida.
Terkait kewenangan untuk menghentikan atau melanjutkan operasional SPPG selama pemeriksaan berlangsung, Ida menyebut hal tersebut berada pada ranah Badan Gizi Nasional (BGN). Dinkes sendiri berfokus pada aspek kesehatan, penanganan pasien, serta penyelidikan epidemiologi. Untuk tindakan lebih lanjut apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya kontaminasi, Ida belum memberikan kesimpulan.
Baca Juga: Ucapan Selamat 17 Agustus yang Penuh Semangat Peringati Hari Kemerdekaan RI
"Kita tunggu hasil laboratoriumnya," pungkasnya.
Disuplai 2 SPPG
Kepada awak media, pimpinan Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Faid Fauzan menyebut dugaan keracunan ini dialami oleh 134 orang di Pondok Pesantren. Terdiri dari 133 santri dan 1 pengurus pesantren Alam Baiti Jannati.
Gejala keracunan mulai dilaporkan para santri sekitar pukul 14.30 WIB atau setelah mereka menyantap MBG pada pukul 12.30 WIB. "Anak-anak sakit dengan gejala muntah-muntah memang mengarah pada keracunan, masih menunggu rilis resmi dari rumah sakit bahwa ini adalah keracunan," kata Faid Sabtu (15/8/2026).
Faid menegaskan bahwa MBG untuk pondok Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati disuplai oleh 2 SPPG, yaitu Al Muslim dan SPPG Cemerlang. "Banyaknya dari AL Muslim, dari SPPG cemerlang 100 ompreng," tegas Faid.














