Fenomena Sinkhole di Sumbar: Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Lubang dan Air Kebiruan

Sukabumiupdate.com
Kamis 08 Jan 2026, 11:00 WIB
Fenomena Sinkhole di Sumbar: Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Lubang dan Air Kebiruan

Fenomena Alam Sinkhole dengan air kebiruan yang baru-baru ini terjadi di sumbar (Sumber : X/@pemanahrasa101)

SUKABUMIUPDATE.com - Pada awal Januari 2026, warga Sumbar dikejutkan oleh munculnya sebuah lubang besar yang tiba-tiba terbentuk di tengah lahan persawahan. Lubang yang terbentuk lebar sekitar 20 meter dan kedalamannya diperkirakan besar puluhan meter.

Fenomena alam ini dikenal sebagai sinkhole  sebuah kejadian di mana tanah permukaan amblas dan membentuk lubang besar yang terkadang berisi air. Peristiwa ini langsung menarik banyak perhatian masyarakat karena ukuran luasan lubang dan warna airnya yang terlihat kebiruan.

Apa Itu Sinkhole?

Secara ilmiah, sinkhole adalah suatu cekungan atau lubang di permukaan tanah yang terbentuk akibat runtuhnya rongga bawah tanah. Proses terbentuknya berkaitan erat dengan pelarutan batuan yang mudah larut, seperti batu kapur atau batuan karbonat lainnya, oleh air yang bergerak melalui tanah. 

Baca Juga: Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Resmi Bercerai Setelah 29 Tahun Menikah

Penyebab Sinkhole di Sumbar Menurut Ahli

Dikutip dari berbagai sumber, Menurut penjelasan dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Badan Geologi, ada beberapa faktor utama yang diduga menjadi penyebab munculnya sinkhole di kawasan persawahan Limapuluh Kota:

  1. Batuan Karst yang Larut Air. Wilayah tersebut diperkirakan berada di atas struktur batuan kapur yang mudah larut. Ketika air hujan terus menerus meresap, batuan tersebut akan terkikis, membentuk rongga besar di bawah tanah. Ketika rongga tidak lagi dapat menahan beban tanah di atasnya, amblesan terjadi dan membentuk sinkhole.
  2. Erosi Aliran Air Bawah Permukaan (Erosi Buluh). Proses erosi buluh (underground pipe erosion) juga dapat menjadi penyebab. Air bawah tanah yang mengalir melalui rekahan material batuan lapuk akan ikut menggerus tanah, memperlebar rongga bawah tanah yang kemudian menjadi tidak stabil.
  3. Faktor Curah Hujan dan Hidrologi. Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir di wilayah Sumbar meningkatkan tekanan dan volume air tanah. Kombinasi air yang banyak dan tanah yang mudah terlarut mempercepat proses pembentukan rongga bawah tanah.

Dilansir dari Universitas Gadjah Mada, Ahli dari Universitas tersebut juga menambahkan bahwa faktor-faktor seperti pelarutan batuan, material lapuk, dan curah hujan tinggi secara kolektif dapat mempercepat terbentuknya rongga bawah tanah yang kemudian ambruk menjadi sinkhole.

Baca Juga: Sederet Manfaat Terong Ungu, dari Anti‑Kanker hingga Kontrol Gula Darah

Kenapa Air di Dalam Sinkhole Terlihat Biru?

Salah satu hal yang paling menarik dari fenomena sinkhole di Sumbar adalah warna air yang tampak kebiruan atau kehijauan di dalam lubang tersebut. Berdasarkan pengamatan tim geologi dan pejabat setempat:

  • Air di dalam sinkhole sebenarnya sangat jernih, bahkan ketika air diambil langsung oleh warga di lokasi pengamatan. Secara kasat mata dan melalui foto, air itu terlihat kebiruan, tetapi ketika diambil langsung warnanya tampak bening dan jernih.
  • Warna kebiruan ini kemungkinan besar bukan karena ada zat berbahaya, tetapi merupakan efek optik yang terjadi ketika cahaya dipantulkan dan diserap oleh air yang jernih pada kedalaman tertentu. Cahaya biru memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dan lebih mudah dipantulkan oleh partikel kecil atau kedalaman air, sehingga tampak biru dari permukaan. 
  • Fenomena optik seperti ini mirip dengan apa yang terjadi pada danau atau mata air jernih lain di alam, di mana warna air tampak biru atau kehijauan karena kondisi pencahayaan, kedalaman, dan kejernihan airnya.

Fenomena sinkhole yang terjadi di Sumatera Barat pada awal Januari 2026 adalah contoh nyata bagaimana proses geologi bawah permukaan dapat memunculkan kejadian alam yang dramatis  tanah tiba-tiba ambles membentuk lubang besar yang berisi air jernih berwarna kebiruan.

Proses ini tidaklah mistis, tetapi merupakan kombinasi faktor geologi seperti pelarutan batuan, erosi bawah tanah, dan kondisi hidrologi setempat. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kondisi geologi suatu wilayah, khususnya yang berada di atas batuan kapur atau sistem sungai bawah tanah, perlu dipahami dengan baik untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan.

Baca Juga: Marc Cucurella Kartu Merah, Chelsea Kalah 2-1 dari Fulham

Sumber: Berbagai Sumber

Berita Terkait
Berita Terkini