SUKABUMIUPDATE.com - Beda dari yang lain, produsen obat sakit kepala ternyata lebih memiliki sosok laki-laki sebagai gambar promosi di kemasan atau bungkus produk penjualan. Karena bungkus atau kemasan produk bukan sekedar alat pembungkus, lalu apa maksud dan pesan komunikasi visual yang ingin disampaikan produsen obat sakit kepala dengan memilih laki-laki sebagai figur promosinya.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta, Muhamad Rafi coba menjelaskan hal ini melalui pendekatan analisis semiotika. Menurut Rafi, desain kemasan produk dirancang untuk menarik perhatian konsumen dan juga membangun kepercayaan terhadap efektivitas suatu produk.
“Desain suatu kemasan mengandung pesan yang kaya akan makna. Salah satu elemen yang menarik dalam kemasan obat sakit kepala adalah penggunaan citra laki-laki. Citra laki-laki kerapkali digambarkan sebagai sosok yang kuat, tangguh, dan tegar,” tulisnya dalam artikel yang pernah ditayangkan pada 2024 silam.
Baca Juga: Jay Idzes Blunder, Sassuolo Kalah 0-3 atas Juventus
Menurut Rafi, obat sakit kepala merupakan produk yang menempel pada kehidupan sehari-hari. Dengan kacamata semiotika, kemasan obat sakit kepala bisa menjadi jendela untuk mengamati konstruksi sosial terkait gender terutama maskulinitas yang direpresentasikan melalui visual.
Untuk menjawab ini, Rafi menggunakan pisau bedah semiotika Ferdinand de Saussure, dimana fenomena kemasan obat sakit kepala dapat dipahami secara kompleks.
“Saussure memiliki dua konsep tanda yang memiliki dua sisi, yaitu penanda dan petanda.Penanda disebut sebagai gambaran akustik dari aspek material, seperti gambar, bunyi, dan kata-kata. Petanda merupakan aspek konsep. Keduanya memiliki kaitan yang bersifat arbitrer,” beber Rafi.
Baca Juga: Rutin Konsumsi Toge? Ini 7 Manfaatnya untuk Tubuhmu
Dengan demikian, kemasan obat sakit kepala dengan menggunakan semiotik Saussure dapat mengungkap tanda-tanda visual yang digunakan untuk menjelaskan makna yang dikonstruksi dan dikomunikasikan kepada konsumen. Representasi pada laki-laki penting untuk digali dan dipahami dalam kemasan obat sakit kepala, karena dapat mencerminkan serta membentuk ekspektasi konsumen terhadap peran dan citra laki-laki di kehidupan sehari-hari.
Pada analisis semiotik Saussure, penanda pada kemasan obat sakit kepala yang terdapat pada gambar di atas berupa gambar laki-laki sambil memegang kepala dan mengenakan pakaian formal kemeja. Petanda laki-laki dalam kemasan obat sakit kepala digambarkan dengan memegang kepala serta ekspresi kesakitan, namun tetap menggunakan pakaian formal.
Hal tersebut menggambarkan bahwa laki-laki yang sedang mengalami sakit kepala, ia harus terlihat kuat dalam menghadapi masalah, terutama masalah dalam pekerjaan. Pada kemasan obat sakit kepala, dapat diketahui bahwa terdapat citra laki-laki sebagai visual dari kemasan obat tersebut yang menunjukkan adanya beban pada laki-laki, misalnya beban pekerjaan, beban rumah tangga, permasalahan keluarga, dan sebagainya.
Baca Juga: Lolos Eliminasi 1, Syiva Meidina Tampil Percaya Diri Bawakan Lagu Mencintaimu dari Krisdayanti
Dengan demikian, penggambaran laki-laki sebagai sosok yang kuat, namun tetap rentan terhadap sakit kepala karena adanya berbagai tekanan. Representasi laki-laki dalam kemasan obat sakit kepala menunjukkan beban laki-laki sebenarnya banyak, sehingga dengan banyak beban membuat sakit kepala. Solusi dari sakit kepala itulah dianjurkan untuk meminum obat sakit kepala.
Pakaian kemeja menunjukkan formalitas pada sebuah aktivitas. Pada kemasan obat sakit kepala, representasi laki-laki sedang bekerja dengan menggunakan pakaian formal yang menunjukkan adanya profesionalisme dalam bekerja.
Hal tersebut lanjut Rafi, sesuai dengan stereotip maskulinitas, yang di mana laki-laki diasosiasikan sebagai pekerja keras dan pencari nafkah utama di keluarga. Pakaian formal bukan hanya sekedar menargetkan pada sesuatu yang bersifat profesional, akan tetapi dapat juga memberikan kesan bahwa obat tersebut merupakan solusi yang serius pada masalah yang dapat mengganggu aktivitas.
Baca Juga: Dokter Richard Lee Resmi Jadi Tersangka Kasus Perlindungan Konsumen
“Penggunaan visual laki-laki dianggap kurang inklusif, karena sakit kepala adalah penyakit yang sifatnya universal yang tidak memandang gender. Citra laki-laki dalam kemasan obat sakit kepala memunculkan kesan bahwa konsumen utama dari obat tersebut adalah laki-laki,” ungkapnya.
Soal Gender
Kemasan pada obat sakit kepala yang divisualkan oleh laki-laki cenderung tidak mencerminkan adanya kesetaraan secara gamblang. Tidak ada representasi visual atau narasi yang menggambarkan bahwa produk tersebut relevan bagi perempuan.
Menurut Rafi, hal tersebut bisa membuat perempuan menjadi kurang terwakili sebagai konsumen, meskipun perempuan memungkinkan sama seringnya mengalami sakit kepala. Jika diamati dari pandangan lain, representasi maskulinitas pada kemasan obat sakit kepala tidak begitu menyudutkan perempuan, tergantung pada bagaimana sudut pandang konsumen menerimanya.
Baca Juga: Wargi Sukabumi Ingin Hidup Lebih Baik? Ini 10 Ide Resolusi 2026 yang Bisa Dicoba
Meski hanya laki-laki yang digambarkan, pesan dari kemasan obat sakit kepala dan kebutuhan dari solusi tetaplah bersifat universal. Dengan demikian, perempuan juga bisa mengidentifikasi bahwa obat sakit kepala juga relevan dengan kebutuhan perempuan.
Hubungan antara adanya kesetaraan gender pada kemasan obat sakit kepala serta tanggapan konsumen sangatlah bergantung pada bagaimana konsumen memandang representasi tersebut. Mungkin konsumen laki-laki akan lebih cenderung merasa lebih terkoneksi dengan desain kemasan obat tersebut, sedangkan konsumen perempuan mungkin akan merasa kurang diwakili.
“Dengan begitu, agar pemenuhan kebutuhan pasar lebih luas, setiap produk sebaiknya mempertimbangkan representasi yang inklusif dengan tujuan agar semua konsumen bisa merasa diperhatikan.Strategi itu bukan hanya dapat meningkatkan daya tarik produk, melainkan juga bisa mencerminkan nilai relevan dengan masyarakat yang modern saat ini,” pungkasnya dalam artikel yang dimuat kumparan.com, Desember 2024.




