SUKABUMIUPDATE.com - Tahun 2025 akan dicatat sebagai titik balik pahit bagi Indonesia. Dalam rentang sebelas bulan, bencana hidrometeorologi mencapai angka kritis, memaksa kita melihat kembali ke cermin lingkungan. Data BNPB yang menunjukkan 2.726 bencana adalah rapor merah yang menelanjangi kegagalan kita dalam menjaga lanskap. Ini bukan sekadar cuaca buruk; ini adalah sinyal sistemik bahwa tekanan terhadap ekosistem telah mencapai ambang batasnya.
Di penghujung November 2025, krisis ini kembali memuncak menjadi tragedi kemanusiaan yang nyata akibat deforestasi dan degradasi lahan, ditandai dengan serangkaian banjir bandang dan longsor masif di kawasan Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, yang telah merenggut nyawa lebih dari 174 warga.
Bencana aktual ini bukan hanya memperburuk rekor BNPB, tetapi juga menjadi bukti paling brutal bahwa laju degradasi lahan dan dampak perubahan iklim bergerak jauh lebih cepat dari upaya mitigasi dan adaptasi yang ada. Kegagalan fungsi ekosistem, terutama di daerah hulu yang curam, kini menagih harga yang teramat mahal, memaksa perhatian nasional tertuju pada penanganan darurat yang lumpuh akibat terputusnya akses utama.
Baca Juga: MUI Tegaskan Haram Membuang Sampah ke Sungai, Perkuat Landasan Ibadah Sosial
Jika kita memutar kaleidoskop, pola kerusakan lingkungan tahun ini menampilkan gambaran yang konsisten: kerusakan di hulu memanen korban di hilir. Beberapa kejadian yang paling menonjol dan menjadi sorotan publik sepanjang 2025 antara lain:
- Longsor Maut di Sumatera Barat dan Utara: Runtuhnya lereng bukit di beberapa kabupaten secara efektif melumpuhkan akses vital. Investigasi awal mengarah pada indikasi deforestasi di daerah tangkapan air hulu, menunjukkan bahwa tanah yang gundul tak mampu menahan volume air hujan ekstrem.
- Banjir Luas dan Berulang di Pantura: Kawasan pantai utara Jawa, khususnya, mengalami banjir yang terjadi dengan frekuensi dan durasi yang lebih lama. Fenomena ini diperparah oleh penurunan muka tanah (subsiden) dan diperparah oleh rusaknya kawasan mangrove sebagai benteng alami.
- Anomali Cuaca Ekstrem: Musim yang seharusnya kering di beberapa wilayah justru diwarnai hujan deras, sementara musim hujan menunjukkan intensitas yang tidak terduga. Ketidakpastian ini membuat sektor pertanian dan transportasi mengalami kerugian besar, membuktikan dampak pemanasan global kini benar-benar ada di depan mata.
- Rekor Jumlah Bencana Longsor: Total 215 kejadian longsor yang tercatat, di luar kasus besar, menunjukkan bahwa kerentanan geologis Indonesia semakin diperburuk oleh intervensi manusia yang tidak bijaksana terhadap lahan, dari Banjarnegara hingga daerah-daerah kritis di Sulawesi.
Baca Juga: Potensi Banjir Menengah-Rendah 50 Kec Kota-Kab Sukabumi, Dasarian III November 2025
Krisis hidrometeorologi mencapai puncaknya. Akhir November 2025 diwarnai duka mendalam saat gelombang banjir bandang dan longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (Credit Foto: Naufal Rizky Akbar/FB)
Tragisnya Penutup Tahun Duka di Tanah Sumatera
Menjelang penutupan tahun, krisis hidrometeorologi mencapai puncaknya. Akhir November 2025 diwarnai duka mendalam saat gelombang banjir bandang dan longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara hampir simultan. Fokus penanganan bencana terkini tertuju pada wilayah seperti Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, di mana infrastruktur lumpuh total, memutus jalur darat, dan memaksa BNPB membangun posko nasional untuk penyaluran logistik via udara. Keterbatasan akses ini menghambat proses evakuasi dan pendataan, namun sudah menjadi bukti kuat betapa kerentanan lingkungan di wilayah tersebut telah menjelma menjadi ancaman kemanusiaan.
Per 29 November 2025, korban jiwa akibat rangkaian bencana di tiga provinsi Sumatera tersebut terus melonjak, mencapai lebih dari 174 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Angka yang fantastis ini tidak hanya melampaui rata-rata korban jiwa di tahun-tahun sebelumnya, tetapi juga menunjukkan bahwa mitigasi bencana kita belum mampu mengimbangi ekstremitas cuaca yang ada.
Analisis cepat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaitkan curah hujan yang sangat tinggi dengan pergerakan atmosfer, tetapi para ahli lingkungan sepakat bahwa intensitas korban sebesar ini adalah konsekuensi langsung dari kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air hulu.
Baca Juga: Atasi Banjir, Pemprov Jabar Percepat Penataan DAS dengan Pendekatan Per Blok
"WWF-Indonesia memandang bahwa pemulihan lanskap, penguatan adaptasi, dan reformasi kebijakan yang berpihak pada alam perlu dilakukan segera agar risiko bencana tidak terus meningkat di masa depan." pernyataan WWF di akun sosial medianya (29/11)
Pandangan kritis dari WWF-Indonesia ini menegaskan bahwa solusi tidak terletak pada perbaikan infrastruktur semata. Pendekatan humanis dan cerdas menuntut kita untuk mencari akar masalah perizinan yang terlalu longgar, penegakan hukum yang lemah terhadap perusak lingkungan, dan tata ruang yang diabaikan. Kaleidoskop 2025 adalah pengingat bahwa kita tidak bisa hanya merespons setelah bencana terjadi; kita wajib memperbaiki fondasi lingkungan agar tahun-tahun berikutnya tidak menjadi lebih kelam.
Kayu Ggelondong terseret banjir bandang hingga ke laut di Sumatera Barat Krisis hidrometeorologi mencapai puncaknya. Akhir November 2025 diwarnai duka mendalam saat gelombang banjir bandang dan longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Credit Foto: Naufal Rizky Akbar/FB).
Saatnya bagi setiap pemangku kepentingan, dari kementerian hingga kepala daerah, untuk meninjau kembali setiap jengkal kebijakan yang menyentuh alam. Refleksi kritis harus mengarah pada pengakuan bahwa kemakmuran ekonomi jangka pendek tidak sebanding dengan kehancuran ekologis yang bersifat permanen dan mematikan.
Reformasi tata ruang harus menjadi prioritas utama, mengembalikan fungsi-fungsi vital seperti daerah resapan air dan kawasan konservasi, sekaligus menindak tegas korporasi maupun individu yang merusak. Hanya dengan komitmen politik yang kuat, didukung oleh data ilmiah yang tepat, kita dapat mengubah narasi bencana yang berulang menjadi pembangunan yang berkelanjutan dan berketahanan.
Bencana hidrometeorologi 2025 ini adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Sejarah akan mencatat apakah kita hanya menjadi generasi yang pandai meratapi kerusakan, atau menjadi generasi yang berani dan cerdas mengambil langkah drastis untuk restorasi. Tanggung jawab kolektif ini menuntut edukasi yang masif, pelibatan masyarakat lokal dalam pemulihan lanskap, dan penanaman kesadaran bahwa menjaga bumi adalah investasi terbaik untuk masa depan. Mari kita pastikan bahwa "Kaleidoskop Bencana" ini tidak terulang di tahun-tahun mendatang.



