SUKABUMIUPDATE.com – Sejumlah petani di Kampung Ciburahol, Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, mulai melirik budidaya jahe gajah sebagai komoditas unggulan baru. Tanaman bernama ilmiah Zingiber officinale var. officinale ini dipilih karena perawatannya dinilai lebih mudah dan memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis jahe merah maupun jahe emprit.
Salah seorang petani setempat, Yayat Hidayat, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar lima petani yang aktif membudidayakan jahe gajah di lahan seluas kurang lebih dua hektare. Lahan tersebut sebelumnya merupakan area tanam cabai yang kini dioptimalkan dengan sistem tumpang sari.
“Usia tanam sekarang sudah enam bulan. Dengan benih sekitar 200 kilogram, rata-rata bisa menghasilkan lima sampai delapan ton, tergantung gangguan hama dan penyakit,” ujar Yayat saat ditemui sukabumiupdate.com, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga: 7 Manfaat Jahe untuk Kesehatan Tubuh, No 5 Ampuh Lawan Masuk Angin!
Yayat menjelaskan bahwa waktu panen sangat bergantung pada target pasar. Untuk kebutuhan konsumsi jahe muda, tanaman sudah bisa dipanen pada usia enam bulan. Namun, untuk mencapai hasil maksimal (jahe tua), usia ideal panen adalah delapan bulan, sedangkan untuk kebutuhan bibit berkualitas diperlukan waktu hingga sepuluh bulan.
“Jadi panen itu tergantung kebutuhan pasar. Kalau untuk konsumsi bisa enam bulan, kalau mau hasil maksimal delapan bulan, dan kalau untuk bibit sampai sepuluh bulan,” jelasnya.
Jahe gajah sendiri dikenal karena karakteristik rimpangnya yang besar dan gemuk dengan warna putih kekuningan. Meski aromanya tajam, rasa pedasnya cenderung lebih lembut dibandingkan jenis jahe lainnya. Dengan kandungan minyak atsiri berkisar 0,8 hingga 2,8 persen, komoditas ini menjadi primadona untuk bumbu masakan, bahan minuman hangat, hingga industri farmasi dan kecantikan.
Baca Juga: Musrenbang 47 Kecamatan Rampung, Bapperida Sukabumi Catat 1.732 Usulan Prioritas
Terkait permodalan, para petani mendapatkan benih dari hasil budidaya sebelumnya maupun pembelian luar dengan harga variatif di kisaran Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, tergantung kualitas.
Untuk urusan pemasaran, petani di Jampangtengah ini telah memiliki jalur distribusi yang jelas. Hasil panen biasanya diserap oleh tengkulak lokal untuk kemudian dikirim ke perusahaan herbal besar seperti Sido Muncul, hingga memasok kebutuhan supermarket untuk industri dan konsumsi rumah tangga.
Nilai jual jahe gajah pun tergolong menjanjikan. Jahe muda (6 bulan) dihargai sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram. Sementara itu, jahe usia delapan bulan dibanderol Rp10.000 hingga Rp12.000, dan jahe untuk kategori bibit bisa menembus harga Rp15.000 sampai Rp25.000 per kilogram.
“Harga tergantung pasar dan kebutuhan. Tapi sejauh ini peminat cukup baik, sehingga kami optimistis budidaya jahe gajah ini bisa meningkatkan pendapatan petani,” pungkas Yayat.





