Horison yang Runtuh: Ketika Kekaisaran Romawi Bertekuk Lutut pada Alam

Sukabumiupdate.com
Selasa 28 Apr 2026, 14:56 WIB
Horison yang Runtuh: Ketika Kekaisaran Romawi Bertekuk Lutut pada Alam

Dawn Burgess tidak sekadar menulis buku sejarah; ia menyusun sebuah nisan naratif bagi mereka yang tertelan oleh bumi. (Sumber: dok daryono)

Oleh: Daryono 

Bayangkan kamu berdiri di tengah hiruk-pikuk pasar Romawi, di mana aroma gandum dan suara tawar-menawar memenuhi udara, lalu dalam sekejap, suara itu digantikan oleh gemuruh dari gempa bumi yg meruntuhkan segalanya. 

Dawn Burgess tidak sekadar menulis buku sejarah; ia menyusun sebuah nisan naratif bagi mereka yang tertelan oleh bumi. Melalui kacamatanya, kita diajak melihat kehancuran ini bukanlah sekadar statistik korban jiwa, melainkan sebuah penghentian paksa terhadap denyut kehidupan yang paling intim.

Baca Juga: 23 Nama Dipanggil, Timnas Indonesia Matangkan Persiapan Menuju AFF 2026

Ada sesuatu yang sangat menghantui saat Burgess menceritakan tentang perabot dapur yang ditemukan masih tertata atau sisa makanan yang belum sempat disantap. Baginya, arkeologi bencana adalah seni menangkap "detik-detik terakhir" yg membeku. 

Ia berargumen gempa bumi di era Romawi bukan hanya merobohkan tembok marmer, tapi juga meruntuhkan harga diri sebuah kekaisaran yang merasa telah menaklukkan alam. Penemuan perhiasan yang berserakan di jalanan jadi simbol yg sangat kuat, bahwa dalam hitungan detik, emas yang dipuja menjadi tak lebih dari beban yang menghambat langkah kaki untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Iming-iming Janji Umrah Tak Terwujud, Pimpinan Ponpes di Baros Sukabumi Jadi Tersangka

Burgess membangun opini bahwa ketangguhan Romawi sebenarnya lahir dari trauma ini. Ia menggambarkan bagaimana para kaisar dan rakyat biasa dipaksa utk terus "bernegosiasi" dengan tanah yang tidak stabil. 

Setiap dinding yang diperbaiki secara terburu-buru adalah bukti dari sebuah peradaban yg menolak untuk menyerah, meski mereka tahu bumi bisa kembali berguncang kapan saja. Pada akhirnya, kisah ini menjadi cermin bagi kita semua: bahwa di bawah kemegahan teknologi dan struktur sosial yg kita banggakan, kita tetaplah makhluk rapuh yg hidup di atas permukaan yg selalu bergerak, mencoba mencari makna di antara puing-puing yang tersisa.

Penulis: * Penyidik Lindu

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini