SUKABUMIUPDATE.com - Pada bagian kedua, tokoh “Ujang” mulai diteror sosok tak kasat mata. Apalagi semua mulai makin terasa menyeramkan ketika Ujang menemukan sebuah tikar lusuh di dekat rumahnya. Anehnya, tikar tersebut mirip dengan tikar yang pernah Ujang temukan di dalam Leuweung Hideung.
Dan bagaimana ujang melewati teror dari sosok tersebut serta apa yang dilakukan Ujang dan ibunya untuk bisa bebas dari hal menyeramkan itu? Berikut lanjutan ceritanya.
Perlu diingat jika “Sing Puriding” ini hanya cerita fiktif dan tidak juga didasarkan pada kejadian nyata, jadi murni hanya sebuah karangan belaka. Nah, untuk cerita SIng Puriding yang pertama ini, kita akan mengangkat cerita yang terinspirasi dari sebuah urban legend yang cukup terkenal di Sunda yaitu “Sandekala”.
Baca Juga: Sing Puriding Cerpen Sunda “Sandekala di Leuweung Hideung” Bagian ka 2
Sandekala sendiri adalah mitos yang sudah lama menyebar dari mulut ke mulut mengenai makhluk halus atau jin yang keluar saat peralihan sore ke malam (wanci sareupna) atau saat maghrib. Sosok ini diyakini sering mengganggu anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat hari mulai gelap.
Sandekala di Leuweung Hideung (Bagian 3)
Sejak malam itu, Ujang mulai berubah.
Bukan hanya jadi pendiam…
Tapi kadang seperti sedang mendengarkan sesuatu yang orang lain tidak dengar.
Suatu pagi, ia tiba-tiba bertanya pada ibunya:
“Mak… samak di imah urang aya sabaraha?”
(Bu… tikar di rumah kita ada berapa?)
Ibunya heran.
“Loba, naha?” (banyak, kenapa)
Ujang tidak menjawab.
Malam harinya, saat semua orang tidur…
Ujang terbangun.
Bukan karena mimpi.
Tapi karena suara.
“kres… kres…”
Pelan.
Seperti sesuatu diseret di lantai bambu.
Ujang membuka mata.
Gelap.
Hanya cahaya bulan masuk dari celah dinding.
Lalu ia melihatnya.
Di sudut kamar.
Sebuah tikar.
Tergulung.
Padahal… ia yakin, tadi tidak ada di sana.
Ujang tidak berani bergerak.
Napasnya ditahan.
“…jang…”
Suara itu keluar lagi.
Lebih dekat.
Lebih jelas.
Tikar itu bergeser.
Sedikit demi sedikit.
Menuju tempat tidurnya.
Ujang memejamkan mata.
Terngiang pesan ibunya:
“Ulah dibales…” (jangan dibalas)
Tapi suara itu terus memanggil.
Lebih pelan.
Lebih halus.
Seperti membujuk.
“…Ujang… hayu…”
(“…Ujang… mari…”)
Pagi harinya, Ujang ditemukan tertidur di lantai.
Dekat pintu.
Dengan kaki penuh tanah.
Seolah-olah… ia sempat berjalan keluar rumah.
Kabar itu akhirnya sampai ke seorang kolot lembur (orang tua kampung).
Ia datang sore hari, tepat sebelum Sandekala.
Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.
Ia duduk di depan rumah Ujang.
Diam.
Seperti sedang “mendengarkan” sesuatu yang tidak terlihat.
Lalu ia berkata pelan:
“Eta lain saukur Lulun Samak…” (itu bukan sekedar lulun samak)
Semua orang terdiam.
“Eta mah aya nu nitipkeun…”
(Itu… ada yang ‘menitipkan’.)
Ibunya Ujang langsung pucat.
“Maksudna…?” (maksudnya)
Orang tua itu menatap ke arah hutan.
“Di leuweung… aya nu teu meunang kaganggu.”
(Di hutan… ada yang tidak boleh diganggu.)
Baru teringat.
Beberapa hari sebelum kejadian…
Ujang sempat menebang ranting di tempat yang jarang didatangi orang.
Dekat pohon tua.
Yang akarnya besar… seperti menggenggam tanah.
Orang tua itu melanjutkan:
“Anjeunna teu langsung nyerang…”
(Dia tidak langsung menyerang…)
“Tapi bakal ngiring…”
(Tapi akan mengikuti…)
“Ngadagoan…”
(Menunggu…)
“Ngadagoan maneh nyebut maneh sorangan.”
(Menunggu kamu menyebut dirimu sendiri.)
Semua merinding.
“Lamun maneh ngajawab… beres.”
(Jika kamu menjawab… selesai.)
Malam itu, mereka menutup semua pintu dan jendela.
Lampu dinyalakan.
Doa dibacakan.
Tapi menjelang tengah malam…
Suara itu tetap datang.
“kres… kres…”
Dari atap.
Dari dinding.
Dari lantai.
Dan kali ini…
Bukan hanya Ujang yang mendengar.
Semua orang di rumah itu mendengarnya.
Lalu suara itu berubah.
Tidak lagi memanggil pelan.
Tapi…
Meniru suara ibunya.
“Jang… buka panto…”
(Ujang… buka pintu…)
Ibunya langsung menangis.
Karena ia tahu…
Itu bukan suaranya.
Orang tua kampung itu berdiri.
Dan berkata tegas:
“Ulah aya nu muka!”
(Jangan ada yang membuka!)
Suara itu berhenti.
Sunyi.
Lalu…
Ketukan pelan terdengar dari pintu belakang.
tok… tok… tok…
Dan sebuah suara terakhir berbisik…
“…Ujang… apal ka imah…”
(“…Ujang… tahu rumahmu…”)
Lanjut bagian 4.




