Sinyal Bahaya Gaya Hidup Manis di Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Kamis 15 Jan 2026, 18:02 WIB
Sinyal Bahaya Gaya Hidup Manis di Sukabumi

Ilustrasi seseorang dirawat di rumah sakit. | Foto: Shutterstock

SUKABUMIUPDATE.com - Di balik kegemaran anak-anak muda Sukabumi terhadap rasa manis, perlahan terbentuk pola yang lebih besar dari sekadar selera. Ia mulai terbaca sebagai gaya hidup yang membentuk risiko kesehatan jangka panjang. Data medis menunjukkan pergeseran yang berjalan pelan, namun konsisten.

RSUD R Syamsudin SH mencatat lonjakan signifikan pasien gagal ginjal kronik stadium 5. Pada 2021, jumlahnya 2.560 orang. Hingga November 2025, angkanya naik menjadi 3.512 pasien. Setiap hari, hampir 100 orang harus menjalani tindakan hemodialisis. Yang mengkhawatirkan, lebih dari separuhnya berada pada usia produktif.

Peningkatan ini bukan terjadi tiba-tiba. Ia hasil akumulasi kebiasaan jangka panjang, terutama konsumsi gula berlebih yang telah mengeras menjadi tradisi harian.

Di luar rumah sakit, budaya itu tumbuh subur di ruang-ruang sosial. Kedai kopi menjelma pusat pertemuan generasi muda. Tetapi, yang paling banyak dipesan bukanlah kopi hitam. Menurut data Indonesia Coffee Center di sejumlah unit usahanya, lebih dari 50 persen pelanggan Sukabumi masih memilih kopi manis atau kopi susu.

Baca Juga: Sukabumi dan Garis Krisis Sampah Jawa Barat, Walhi Kritik Kebijakan yang Setengah Hati

Meski begitu, ada sinyal perubahan. Data internal kedai juga menunjukkan pergeseran selera yang perlahan. Di Sukabumi Coffee Center, contohnya, 65 persen pelanggan justru memesan kopi tanpa gula. Ini bukan perubahan instan, melainkan proses naik kelas—fase ketika lidah dan kesadaran kesehatan mulai bertemu.

Transisi tersebut tak bisa dipaksakan, hanya bisa tumbuh melalui pengalaman dan pembiasaan. Juga tidak ada hubungan sebab-akibat yang bisa ditarik secara sederhana dan langsung. Namun saat gula menjadi bagian dari rutinitas harian, angka-angka kesehatan mulai meninggalkan jejak yang sulit diabaikan oleh semua pihak.

Laporan lengkap mengenai isu ini dapat dibaca dalam artikel berjudul "Bom Waktu Gaya Hidup Manis di Sukabumi” serta "Kopi dan Transisi Selera Generasi Muda Sukabumi".

Berita Terkait
Berita Terkini