SUKABUMIUPDATE.com – Tiga hari Ratna menanti di tepi laut. Tiga hari pula namanya terus dipanggil ke tengah debur ombak Pantai Karangnaya, Kabupaten Sukabumi.
Namun, penantian itu akhirnya berakhir pada Rabu (19/8/2026). Ahmad Nadif Fadilah (21), putranya yang hilang terseret ombak, ditemukan.
Sayangnya, Nadif pulang bukan dengan langkahnya sendiri. Ia tiba di Instalasi Kamar Jenazah RSUD Palabuhanratu dalam keadaan telah meninggal dunia.
Isak tangis pun pecah. Begitu melihat jasad putranya, Ratna langsung tertunduk lemas. Napasnya tercekat, suaranya bergetar. Di tengah kesedihan, hanya satu kalimat yang sejak hari pertama terus ia ucapkan kembali terdengar dari bibirnya.
“Adek, adek pulang, alhamdulillah,” ucap Ratna di depan kamar jenazah.
Sang kakak, Afrileni, segera merangkul pundak ibunya. Ia berusaha menahan tubuh Ratna agar tidak ambruk sekaligus mencoba menguatkan perempuan yang baru saja kehilangan putra semata wayangnya.
Baca Juga: Dua Bulan Lagi Bebas, Napi Asimilasi Malah Kabur dari Lapas Warungkiara Sukabumi
“Ibu yang tabah, ibu yang tenang, ibu yang sabar. Kalau ibu kenapa-kenapa bagaimana kita mengurus adek,” kata Afrileni berusaha menenangkan ibunya.
Ratna kemudian menepi untuk mengatur napas. Air matanya terus mengalir ketika mengenang sosok Nadif yang disebutnya sebagai anak penurut.
Selama tiga hari pencarian, kalimat "Adek pulang" seolah menjadi doa yang tak pernah berhenti dipanjatkannya.
“Adek itu paling nurut, makanya dari kemarin saya panggilin: adek pulang, adek pulang. Makanya alhamdulillah, teman-teman Tim SAR, Basarnas, kepolisian, TNI AL menemukan putra saya,” tutur Ratna.
Dengan suara yang masih bergetar, Ratna kemudian melontarkan kalimat yang menggambarkan kedekatannya dengan sang anak.
“Putra saya itu paling takut sama mamahnya, makanya dia pulang,” sambungnya.
Sejak Nadif dilaporkan hilang terseret ombak Pantai Karangnaya, Ratna seolah tidak ingin meninggalkan laut yang menjadi lokasi terakhir putranya terlihat.
Baca Juga: Bukan Rp700 Ribu, Upah Pengupas Bawang di Kota Sukabumi Hanya Rp10 Ribu 1 Karung
Hari demi hari ia berada di garis pantai. Matanya menyapu permukaan laut, berharap ada tanda-tanda keberadaan Nadif. Bahkan, Ratna sempat naik ke batu karang dan berulang kali meneriakkan nama putranya ke arah laut lepas.
Nadif ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di perairan Pantai Sukawayana, sekitar 1,85 kilometer dari lokasi awal ia terseret ombak. Jenazahnya kemudian dievakuasi menuju RSUD Palabuhanratu untuk proses identifikasi sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga.
Setelah proses pemulasaraan selesai, jenazah Nadif selanjutnya dibawa ke rumah duka untuk kemudian dipulangkan ke Jakarta. Ratna mengaku bersyukur di tengah musibah yang menimpa keluarganya karena banyak pihak ikut membantu proses pemulangan putranya.
“Alhamdulillah banyak orang baik yang membantu kami. Seluruh biaya pemulasaraan dan ambulans dibantu kepolisian. Malam ini juga adek langsung kami bawa pulang ke Jakarta,” ujar Ratna.
Sementara itu, Kasat Polairud Polres Sukabumi AKP Dadi mengatakan bantuan tersebut merupakan instruksi langsung dari Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi.
“Betul, saya dikabari Pak Kapolres (AKBP Benny Cahyadi). Seluruh ambulans dan biaya pengurusan jenazah ditanggung oleh kami dari Polres Sukabumi,” jelas Dadi saat dikonfirmasi.
Kini, perjalanan Nadif kembali ke Jakarta bukan lagi sebagai seorang anak yang dinanti kepulangannya, melainkan untuk dimakamkan oleh keluarga.














