Proyek BRT Bandung Raya Senilai Rp1,3 Triliun Dimulai, KDM Sebut Era Baru Transportasi Publik

Sukabumiupdate.com
Kamis 23 Jul 2026, 18:05 WIB
Proyek BRT Bandung Raya Senilai Rp1,3 Triliun Dimulai, KDM Sebut Era Baru Transportasi Publik

Suasana groundbreaking Indonesia Mass Transit Project (Mastran) BRT Bandung Raya yang dihadiri Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (Sumber Foto: Humas Jabar)

SUKABUMIUPDATE.com – Transportasi publik di kawasan Bandung Raya resmi memasuki era baru setelah dilaksanakannya groundbreaking Indonesia Mass Transit Project (Mastran) dan penandatanganan kerja sama Public Service Obligation (PSO) untuk layanan angkutan massal di kawasan Cekungan Bandung, Rabu (22/7/2026).

Melalui proyek tersebut, sistem transportasi massal berbasis Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Acara yang berlangsung di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan, serta para kepala daerah se-Bandung Raya.

Dedi Mulyadi: Transportasi Harus Modern, Terintegrasi, dan Berkeadilan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mengatakan masyarakat Bandung Raya membutuhkan sistem transportasi publik yang modern, terintegrasi, serta mampu memberikan akses yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Kita berharap penyelenggaraan pembangunannya berjalan aman, lancar, tanpa gangguan, dan mampu menghadirkan kualitas infrastruktur yang bermutu tinggi," ucap KDM.

Baca Juga: Karawang Jadi Lokasi Pabrik Alat Berat Elektrik Pertama di Indonesia, KDM Hadiri Groundbreaking

Menurutnya, transportasi publik kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat perkotaan. Karena itu, pengembangannya tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga kualitas pelayanan, digitalisasi, dan keterhubungan antar moda transportasi.

"Kita memasuki era baru. Transportasi modern bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga pelayanan yang prima, terdigitalisasi, dan (saling) terkoneksi," katanya.

KDM juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan transportasi umum, termasuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan fasilitas publik yang tersedia.

Selain itu, ia meminta pemerintah memastikan aspek keamanan dan kenyamanan penumpang melalui penyediaan trotoar yang layak, penerangan jalan, fasilitas kebersihan, hingga pengamanan yang memadai.

"Karena semakin tinggi trafik transportasi publik kalau tidak diimbangi dengan ketersediaan pengamanan yang kuat maka akan (berpotensi) meningkatkan kejahatan," tegasnya.

KDM juga mengingatkan bahwa pembangunan transportasi modern harus berjalan seiring dengan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Jawa Barat.

"Jawa Barat harus adil. Kota-kota besar berkembang, tetapi desa-desa juga harus merasakan pembangunan. Infrastruktur dasar wajib menjangkau seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: KDM Dorong APINDO Kolaborasi Bangun Akses Patimban dan Wajibkan NPWP Jabar

BRT Bandung Raya Jadi Solusi Kemacetan

Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi mengatakan kawasan Cekungan Bandung memiliki mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi. Namun kondisi tersebut juga diiringi persoalan kemacetan yang berdampak terhadap produktivitas, biaya logistik, dan kualitas lingkungan.

Karena itu, pemerintah menghadirkan Indonesia Mass Transit Project sebagai solusi jangka panjang untuk menata sistem transportasi perkotaan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

"Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah dalam mewujudkan transportasi publik modern. Kita ingin menghadirkan angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga menjadi opsi utama mobilitas masyarakat," ujar Dudy.

Ia menjelaskan, sistem BRT akan menjadi tulang punggung transportasi Bandung Raya yang terhubung dengan layanan kereta api dan angkutan pengumpan (feeder).

Selain itu, keberadaan skema PSO akan memastikan tarif layanan tetap terjangkau bagi masyarakat.

Investasi Rp1,3 Triliun untuk Infrastruktur BRT Bandung Raya

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, menjelaskan proyek BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).

Secara nasional, Indonesia Mass Transit Project memiliki nilai investasi mencapai USD264 juta atau sekitar Rp3,8 triliun. Sementara khusus untuk pembangunan infrastruktur BRT di Cekungan Bandung dialokasikan dana sekitar Rp1,3 triliun.

Investasi tersebut meliputi:

- Pembangunan 21 kilometer jalur khusus BRT.
- Pembangunan 6 depo utama BRT.
- Pembangunan 719 halte off-corridor dan 34 halte on-corridor.
- Penerapan Intelligent Transportation System (ITS) untuk mendukung integrasi layanan.

Pada tahap awal, pembangunan difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, serta jalur utama BRT.

Selanjutnya pembangunan akan dilanjutkan ke sejumlah halte ikonik seperti Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, dan Kiara Artha Park, serta depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.

Aan menambahkan, sistem BRT Bandung Raya nantinya ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk.

"Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati transportasi publik yang efisien, andal, dan berkelanjutan," pungkas Aan. (adv)

Sumber: Humas Jabar

Berita Terkait
Berita Terkini