SUKABUMIUPDATE.com - Jumlah korban longsor di Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, terus bertambah. Dikutip dari Tempo.co, diperkirakan korban longsor sekitar 65 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 03.00 WIB, dimana longsor besar terjadi disertai banjir bandang dari kawasan perbukitan. Material tanah dan lumpur menghantam permukiman warga, merusak berbagai fasilitas, serta memutus sejumlah jalur transportasi.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan Status Tanggap Darurat mulai 23 Januari 2026 selama dua pekan. Hingga hari kedua, Minggu 25 Januari 2026, sejumlah perkembangan penanganan bencana telah dilaporkan.
25 Korban Tewas Dievakuasi, Sisa 65 Korban Belum Ditemukan
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Hendra Rochmawan menyebutkan, dari 25 jenazah yang telah ditemukan, 11 korban telah berhasil diidentifikasi, sedangkan sisanya masih menjalani proses post mortem di pos Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat.
Dengan demikian, mengacu pada data keseluruhan sebanyak 113 jiwa yang terdampak longsor tersebut, 23 orang ditemukan selamat, sehingga kini tersisa 65 orang lagi yang masih belum ditemukan sejak kejadian insiden terjadi.
680 Warga Mengungsi
Berdasarkan keterangan tertulis BPBD Provinsi Jawa Barat, bencana di Cisarua telah menimbun sekitar 30 rumah yang berada di dua rukun tetangga, yakni RT 05, RW 11, Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.
Per Minggu, 25 Januari 2026, posko pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu dipadati oleh 680 jiwa. Jumlah pengungsi ini terjadi karena meluasnya kekhawatiran warga. Selain mereka yang rumahnya tertimbun atau rusak di RW 10 dan RW 11, warga dari RW 12 yang berada di sekitar lokasi kejadian turut mengungsi karena khawatir ada longsor susulan.
Diduga Longsor Akibat Urbanisasi
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menduga pergeseran tanah ini terjadi akibat alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan intensif. Adapun alih fungsi lahan tersebut dipicu oleh urbanisasi.
Menurut dia, urbanisasi yang cukup masif di kota-kota membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan orang Indonesia, seperti kentang, kol, dan paprika. Sementara sayuran tersebut, kata Hanif, merupakan jenis tanaman subtropis yang tumbuh di ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut.
Karena itu, kebutuhan akan sayuran-sayuran tersebut memaksa petani berpindah dari wilayah perkebunan biasa ke wilayah perbukitan. “Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini, sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” kata Hanif sebagaimana dilansir Antara pada Minggu, 25 Januari 2026.
Rentan Gerakan Tanah Menengah
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah. Gerakan tanah dapat terjadi terutama pada lereng yang telah terganggu secara alami maupun oleh aktivitas manusia, khususnya saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama.
“Karakteristik batuan gunung api tua yang lapuk dan keberadaan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah ini terhadap longsor,” kata Lana Saria lewat keterangan tertulis, Sabtu 24 Januari 2026.
Ia menjelaskan, wilayah Desa Pasirlangu merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup intensif. Tata guna lahan di sekitar lokasi kejadian, menurut laporan Badan Geologi, didominasi oleh pemukiman penduduk, pertanian lahan kering, kebun campuran, serta sebagian kawasan terbuka.
Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum memadai, turut memengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah. Peristiwa ini, kata Lana, "Menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas."
Sumber: Tempo.co





