KDM Pastikan Bantu Kakek Uloh, Lansia Korban Bencana Simpenan Sukabumi yang Terlantar di Gubuk

Sukabumiupdate.com
Selasa 13 Jan 2026, 18:59 WIB
KDM Pastikan Bantu Kakek Uloh, Lansia Korban Bencana Simpenan Sukabumi yang Terlantar di Gubuk

Kakek Uloh (70), lansia korban bencana di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, bertahan hidup di gubuk reyot di tengah hutan setelah rumahnya rusak tertimbun longsor. (Sumber Foto: SU/Ilyas)

SUKABUMIUPDATE.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menanggapi kondisi memprihatinkan Uloh (70), warga Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Kakek tersebut diketahui telah berbulan-bulan hidup sebatang kara di gubuk reyot setelah rumahnya rata tertimbun longsor setahun silam.

Melalui unggahan di akun Instagram resminya @dedimulyadi71 pada Selasa (13/1/2026) sore, KDM memastikan bahwa nama Uloh sudah masuk dalam daftar calon penerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kami sampaikan bahwa nama kakek tersebut sudah masuk dalam data 500 calon penerima bantuan dari Pemprov Jabar bencana bulan Desember tahun 2024, yang baru saat ini diverifikasi oleh Pemprov Jabar dan dulu diajukannya ke BNPB," ujar KDM dalam pernyataannya.

Baca Juga: Realisasi Bantuan Rp10 Juta: Pemprov Jabar Verval Penyintas Bencana di Sukabumi

Dalam kesempatan tersebut, KDM secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan bantuan yang diterima oleh kakek Uloh. Ia kemudian menyinggung kinerja Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang dinilai lamban dalam merespons nasib warganya di lapangan.

"Saya mohon maaf atas keterlambatannya karena pemerintah provinsi Jawa Barat baru mengidentifikasi saat ini setelah hampir satu tahun tidak ada penanganan oleh pemerintah Kabupaten Sukabumi," tandasnya.

Sembilan Bulan Hidup Bersama Dingin dan Satwa Liar

Sebelumnya diberitakan, Uloh harus bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan selama sembilan bulan terakhir. Tragedi longsor dan banjir bandang yang menerjang Kedusunan Kawungluwuk setahun silam tidak hanya meluluhlantakkan rumahnya, tetapi juga merenggut nyawa istrinya.

"Salapan sasih (Sembilan bulan)," ujar Uloh saat di temui sukabumiupdate.com di gubuknya yang berada di dalam hutan pada Kamis (8/1/2026).

Di dalam gubuk yang jauh dari pemukiman tersebut, Uloh hanya mengandalkan perapian kayu bakar untuk menghalau dingin. Penderitaannya kian bertambah karena sumber makanannya kerap diganggu satwa liar. Kebun turubuk miliknya habis diserang babi hutan, sementara bekal beras bantuan diacak-acak oleh monyet.

Baca Juga: KDM Jelaskan Sebab Warga Babakan Cisarua Korban Banjir Simpenan Tak Dapat Rp10 Juta

Kenangan Tragis Malam Longsor

Kakek Uloh masih mengingat jelas detik-detik saat rumahnya runtuh. Malam itu, ia tertimbun reruntuhan bersama sang istri. Meski tangannya terluka akibat terjepit material bangunan dan kaca, Uloh berhasil merangkak keluar dengan sisa tenaga.

"Istri saya tertimbun dan meninggal dunia. Kejadiannya malam hari. Saya tidak bisa keluar dan tidak ada yang menolong saat itu," kenangnya pilu. Setelah berhasil keluar dari timbunan, ia sempat naik ke atas kayu kaso untuk mencari istrinya, namun takdir berkata lain.

Meskipun memiliki anak yang tinggal di Pasir Pogor, Uloh memilih untuk kembali tinggal di saung tengah kebun miliknya setelah sempat beberapa hari menginap untuk berobat.

Kini, dengan adanya respons dari Gubernur Dedi Mulyadi, diharapkan bantuan renovasi rumah atau relokasi bagi Kakek Uloh segera terealisasi agar ia tidak lagi menghabiskan masa tuanya dalam ancaman dingin dan bahaya di tengah hutan.

Berita Terkait
Berita Terkini