SUKABUMIUPDATE.com - Tahukah kamu jika upah rendah ternyata tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi seseorang, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan hingga risiko kematian.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (JAMA), menemukan bahwa pekerja yang secara terus-menerus menerima upah rendah selama masa puncak usia produktif atau paruh baya memiliki risiko kematian lebih tinggi.
Risiko tersebut bahkan meningkat pada pekerja yang mengalami upah rendah sekaligus pekerjaannya yang tidak stabil.
Penelitian yang dipublikasikan pada 11 Januari 2023 ini dilakukan oleh para peneliti dari Mailman School of Public Health Universitas Columbia. Studi tersebut melacak riwayat pekerjaan dan kondisi kesehatan sekitar 4.000 pekerja di Amerika Serikat selama 12 tahun.
Baca Juga: Cara Mengolah Brotowali sebagai Ramuan Herbal untuk Membantu Mengontrol Gula Darah
Melibatkan Lebih dari 4.000 Pekerja
Para peneliti menggunakan data dari Health and Retirement Study Universitas Michigan yang dikumpulkan antara 1992 hingga 2018.
Studi longitudinal ini melibatkan 4.002 peserta berusia 50 tahun atau lebih. Para peserta merupakan pekerja yang melaporkan besaran upah per jam mereka setidaknya dalam tiga periode pengamatan selama 12 tahun.
Penelitian dilakukan pada dua kelompok periode, yakni 1992-2004 dan 1998-2010. Setelah periode tersebut, para peserta terus dipantau hingga 2018 untuk melihat kondisi kesehatan dan angka kematian.
Pada awal periode penelitian, peserta berusia antara 50 hingga 57 tahun. Sementara pada akhir periode pengamatan, usia mereka berkisar antara 61 hingga 69 tahun.
Dari total 4.002 pekerja yang diteliti, sebanyak 1.854 orang atau 46,3 persen merupakan perempuan. Sebanyak 718 orang atau 17,9 persen mengalami ketidakstabilan pekerjaan.
Baca Juga: Pahit tapi Populer, Ini Beragam Manfaat Brotowali yang Perlu Diketahui
Para peneliti kemudian membagi peserta berdasarkan riwayat pendapatan mereka. Sebanyak 2.348 orang atau 58,7 persen tidak pernah menerima upah rendah, 1.288 orang atau 32,2 persen mengalami upah rendah secara berkala atau terputus-putus, sedangkan 366 orang atau 9,1 persen mengalami upah rendah secara terus-menerus.
Dalam penelitian ini, upah rendah didefinisikan sebagai pendapatan per jam yang berada di bawah tingkat pendapatan pekerjaan penuh waktu selama satu tahun berdasarkan garis kemiskinan federal Amerika Serikat.
Risiko Kematian Lebih Tinggi
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan angka kematian berdasarkan riwayat pendapatan para pekerja.
Dalam analisis awal yang belum disesuaikan dengan faktor lain, pekerja yang tidak pernah menerima upah rendah mencatatkan sekitar 199 kematian per 10.000 orang-tahun.
Sementara itu, kelompok pekerja yang mengalami upah rendah secara terputus-putus mencatatkan sekitar 208 kematian per 10.000 orang-tahun. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 275 kematian per 10.000 orang-tahun pada pekerja yang terus-menerus menerima upah rendah.
Baca Juga: Karhutla Jabar Meluas, Dedi Mulyadi Minta Pendakian Gunung Disetop Sementara
Setelah memperhitungkan faktor-faktor sosial dan demografis, para peneliti menemukan bahwa riwayat upah rendah yang berlangsung terus-menerus berkaitan dengan peningkatan risiko kematian.
Pekerja yang mengalami kondisi tersebut memiliki risiko kematian sekitar 35 persen lebih tinggi dibandingkan pekerja yang tidak pernah menerima upah rendah.
Namun, hubungan tersebut melemah setelah para peneliti memasukkan faktor ekonomi dan kondisi kesehatan lainnya ke dalam analisis.
Kombinasi Upah Rendah dan Pekerjaan Tidak Stabil
Temuan paling kuat terlihat pada kelompok pekerja yang mengalami dua kondisi sekaligus, yaitu menerima upah rendah secara terus-menerus dan menghadapi pekerjaan yang tidak stabil.
Pada kelompok ini, risiko kematian tercatat lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja yang memiliki pekerjaan stabil.
Penelitian menunjukkan pekerja dengan riwayat upah rendah berkelanjutan dan ketidakstabilan pekerjaan memiliki risiko kematian lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok pembanding.
Sementara itu, peningkatan risiko kematian tidak terlihat sekuat itu pada pekerja yang mengalami upah rendah berkelanjutan tetapi memiliki pekerjaan yang relatif stabil.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa bukan hanya besaran pendapatan yang dapat memengaruhi kesehatan seseorang. Kepastian dan stabilitas pekerjaan juga diduga memiliki peran penting terhadap kondisi kesehatan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Resep Udang Oseng Mentega, Hidangan Wangi dan Lembut yang Menggugah Selera Makan
Pentingnya Kebijakan untuk Pekerja Berupah Rendah
Katrina L. Kezios, PhD, peneliti dari Universitas Columbia menyimpulkan bahwa riwayat pendapatan rendah yang berlangsung secara terus-menerus dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dan angka kematian berlebih, terutama ketika kondisi tersebut dialami bersamaan dengan pekerjaan yang tidak stabil.
“Pendapatan rendah yang berkelanjutan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dan angka kematian berlebih, terutama jika dialami bersamaan dengan pekerjaan yang tidak stabil. Jika bersifat kausal, temuan kami menunjukkan bahwa kebijakan sosial dan ekonomi yang meningkatkan kondisi keuangan pekerja berupah rendah (misalnya, undang-undang upah minimum) dapat meningkatkan hasil terkait angka kematia,” ujar Katrina.
Namun, penelitian ini menunjukkan hubungan atau keterkaitan, sehingga belum dapat dipastikan sepenuhnya bahwa upah rendah secara langsung menjadi penyebab kematian.
Meski demikian, para peneliti menilai bahwa jika hubungan tersebut bersifat kausal, kebijakan sosial dan ekonomi yang mampu meningkatkan kondisi keuangan pekerja berupah rendah berpotensi memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.
Kebijakan seperti peningkatan upah minimum atau langkah lain yang dapat memperbaiki kondisi ekonomi pekerja berpenghasilan rendah dinilai berpotensi membantu mengurangi risiko kesehatan dalam jangka panjang.
Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa upah rendah yang dialami secara terus-menerus selama usia paruh baya, terutama ketika disertai ketidakstabilan pekerjaan, dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian dini.















