Arti Paribasa Sunda “Ulah Ngaliarkeun Taleus Ateul” yang Relevan di Zaman Sekarang

Sukabumiupdate.com
Minggu 30 Agu 2026, 18:00 WIB
Arti Paribasa Sunda “Ulah Ngaliarkeun Taleus Ateul” yang Relevan di Zaman Sekarang

Ilustrasi - Paribasa Sunda Ulah Ngaliarkeun Taleus Ateul memiliki makna dalam dan relevan di zaman sekarang apalagi di era media sosial (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda memiliki banyak paribasa yang digunakan sebagai nasihat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah “ulah ngaliarkeun taleus ateul”, sebuah ungkapan yang mengajarkan agar seseorang tidak sembarangan menyebarkan sesuatu yang dapat menimbulkan masalah atau ketidaknyamanan bagi orang lain.

Lantas, apa arti paribasa “ulah ngaliarkeun taleus ateul” dan apa makna yang terkandung di dalamnya? Berikut penjelasannya dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Orang Sunda Saat Memperingati Maulid Nabi yang Masih Lestari Sampai Sekarang

“Ulah ngaliarkeun taleus ateul” merupakan salah satu paribasa Sunda yang mengandung nasihat agar seseorang tidak menyebarkan sesuatu yang dapat menimbulkan masalah, keresahan, atau membuat orang lain ikut merasakan dampak buruknya.

Arti Paribasa Sunda “Ulah Ngaliarkeun Taleus Ateul”

Secara harfiah paribasa ini terdiri dari kata “Ulah” yang berarti jangan lalu “Ngaliarkeun” berarti menyebarkan atau mengedarkan, kemudian “Taleus” artinya tanaman talas dan “Ateul” yang berarti gatal.

Jadi, secara harfiah ulah ngaliarkeun taleus ateul berarti jangan menyebarkan talas yang menyebabkan gatal.

Namun, makna paribasanya tentu bukan sekadar tentang talas. “Taleus ateul” menjadi gambaran untuk sesuatu yang jika disebarkan justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau masalah bagi orang lain.

Baca Juga: Arti Paribasa Sunda “Hade Gogog Hade Tagog”, Karakter yang Harus Dimiliki Setiap Orang

Makna Filosofis

Paribasa ini dapat dimaknai sebagai nasihat untuk berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Jangan sampai kita menyebarkan perkataan, kabar, atau persoalan yang sebenarnya tidak perlu diketahui banyak orang dan akhirnya menimbulkan perselisihan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini bisa dikaitkan dengan kebiasaan menyebarkan gosip, kabar yang belum jelas kebenarannya, atau cerita yang dapat memancing konflik.

Pesan yang terkandung cukup sederhana: tidak semua hal perlu disebarkan. Sebelum menyampaikan sesuatu, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu apakah hal tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan masalah.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini