SUKABUMIUPDATE.com - Di Kampung Citoe, Desa Limbangan, Kabupaten Sukabumi, Muhamad Alfiana tumbuh dalam lingkungan sederhana yang membentuk karakter tangguh sejak dini. Lahir pada 1995 dari pasangan orang tua asli Sukabumi, ayahnya berprofesi sebagai guru PNS dan ibunya ibu rumah tangga.
Ia mengenang masa kecilnya sebagai fase yang penuh kebebasan dan dukungan, di mana “semasa kecil saya sangat senang sekali terhadap kegiatan olahraga dan Alhamdulillah semua kegiatan saya selalu diberikan dukungan oleh kedua orang tua saya.”
Kecintaannya pada olahraga membuat Alfiana mencoba banyak cabang, mulai dari sepak bola, futsal, basket, bulu tangkis hingga taekwondo. Namun, perjumpaan yang mengubah arah hidupnya terjadi pada 2012 saat masih duduk di bangku kelas XI SMA Negeri 4 Kota Sukabumi. Ia mengaku pertama kali mengenal hoki karena ajakan kakak kelas dan teman satu angkatan. Saat itu, ia melihat peluang besar karena “olahraga ini belum begitu banyak orang tahu dan ikut serta di olahraga ini,” ujarnya saat diwawancarai sukabumiupdate.com, Minggu (3/1/2025).
Baca Juga: Gegara Kembang Api? Kesaksian Pemicu Pembacokan Malam Tahun Baru di Dekat Balai Kota Sukabumi
Di bawah bimbingan Ganjar Ramdani dan Dr. Indra Wiguna, Alfiana bahkan langsung diikutsertakan dalam kejuaraan antar daerah se Jawa Barat. Dari pengalaman awal itulah, ia menegaskan bahwa “mulai dari situ saya ingin menekuni lebih dalam olahraga ini.” lanjutnya.
Menembus Keterbatasan dan Menyatukan Pendidikan dengan Prestasi
Langkah Alfiana di dunia hoki tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Ia mengingat bagaimana pada masa awal pembinaan, “banyak keterbatasan untuk pembinaan olahraga hoki ini, mulai dari alat yang tidak memadai, lapangan yang belum terfasilitasi dan juga SDM atlet sendiri sangat sedikit.” Bersama para pelatih dan rekan seperjuangannya, ia ikut merintis olahraga hoki di Kota Sukabumi hingga perlahan berkembang seperti sekarang.
Setelah lulus dari SMA Negeri 4 Kota Sukabumi, Alfiana melanjutkan pendidikan ke Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung pada 2014 dan menyelesaikan studi magister pada 2019. Ia mengakui, membagi waktu antara pendidikan dan karier atlet menjadi tantangan tersendiri. Ada masa ketika ia harus memilih karena “ada beberapa mata kuliah yang harus wajib hadir di kelas sedangkan saya harus melakukan latihan keluar negeri dalam jangka waktu yang lama,” jelasnya.
Baca Juga: Wisata Kampung Melon Sukabumi, Mengenal Cucumis Melo dari Berbagai Negara
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan penghalang untuk terus berkembang. Menurutnya, menjalani peran sebagai atlet sekaligus mahasiswa bisa dilakukan selama dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Proses panjang itu akhirnya berbuah manis ketika ia mulai meraih prestasi nasional, termasuk tiga medali emas berturut turut Pekan Olahraga Nasional bersama Jawa Barat pada 2016, 2020, dan 2024.
Mental Baja, Emas SEA Games, dan Mimpi yang Terus Menyala
Perjalanan menuju tim nasional penuh liku. Alfiana sempat tidak terpilih pada seleksi SEA Games 2017. Kesempatan datang kembali pada 2019 ketika ia lolos seleksi terbuka Tim Nasional untuk SEA Games Filipina. Namun, ia mengaku sangat terpukul ketika “kami gagal ikut serta di SEA Games 2019 Filipina dikarenakan dualisme organisasi yang belum selesai,” ujarnya, hal itu merupakan sebuah momen yang membuatnya merasa hancur di awal karier tim nasional.
Kebangkitan terjadi pada 2022 saat ia kembali terpilih memperkuat Tim Nasional pada ajang Asia Cup Indoor Hockey di Thailand. Indonesia finis di peringkat keempat Asia, sebuah capaian yang menurutnya menjadi modal penting karena sebagian besar pemain diisi oleh atlet muda. Sejak saat itu, ia bertahan di tim nasional dan berhasil mempersembahkan dua medali emas pada SEA Games Kamboja 2023 dan SEA Games Thailand 2025.
Baca Juga: Picu Bencana, Warga Jampangtengah Sukabumi Minta Pemerintah Tertibkan Tambang
Salah satu momen paling berkesan terjadi di SEA Games 2023 saat Indonesia tertinggal dari Malaysia. Dalam situasi genting, Alfiana dipercaya mengeksekusi penalty corner di detik akhir. Ia mengingat momen itu dengan pasrah dan keyakinan, “saya pasrah Ya Allah, saya siap menanggung segala hujatan semisal saya gagal, tapi saya yakin saya bisa karena saya sudah berlatih untuk situasi ini.” tuturnya, Gol tersebut memaksa laga berlanjut ke adu penalti dan berakhir dengan kemenangan Indonesia, yang ia sebut sebagai sejarah pertama bagi hoki indoor Indonesia.
Menjelang SEA Games Thailand 2025, ujian mental kembali datang. Alfiana mengaku sempat merasa stuck dan ingin menyerah ketika performanya menurun. Namun, ia kembali mengingat perjuangan panjang dan pengorbanan keluarga, sehingga memilih bertahan dan berjuang. Hasilnya, Indonesia kembali meraih medali emas. Baginya, medali tersebut memiliki makna mendalam karena merupakan bukti bahwa segala impian, keinginan dan cita cita itu harus diperjuangkan dengan kesungguhan dan kerja keras.
Ke depan, Alfiana menargetkan peningkatan performa dan berencana melanjutkan karier internasional dengan mengikuti Liga Hoki Jerman mulai awal 2026. Kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak mudah menyerah, karena “tidak ada yang instan, semua butuh proses, kerja keras, kegigihan dan jiwa pantang menyerah serta disiplin.” pungkasnya.



