SUKABUMIUPDATE.com - Sejumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa (TBW) Kota Sukabumi mengeluhkan terganggunya distribusi air bersih dalam sepekan terakhir. Selain aliran air yang kerap mati berjam-jam, warga bahkan mendapati air yang keluar dari keran rumah berwarna hitam pekat mirip oli.
Keluhan tersebut disampaikan oleh Fira AS (27), warga Gunungkarang Residen, Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi. Ia mengaku distribusi air di rumahnya sempat terhenti total selama dua hari berturut-turut dalam sepekan terakhir.
Menurut Fira, air biasanya baru mengalir pada tengah malam hingga menjelang pagi, namun kembali mati setelah subuh. Kondisi ini praktis membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
"Sudah seminggu ini saya merasakan, kemarin tuh ada dua hari berturut-turut air PDAM enggak ngalir. Terus sekalinya ngalir itu paling cuma berapa jam, kayak dari jam 12 malam sampai subuh. Habis subuh tuh udah mati lagi," kata Fira kepada sukabumiupdate.com, Kamis (29/10/2026).
Tak hanya soal waktu pengaliran yang tidak menentu, Fira juga menyoroti kualitas air yang diterima. Ia mengaku air yang keluar dari keran rumahnya berwarna hitam pekat, meski tidak disertai bau menyengat.
"Sekalinya ngalir itu airnya hitam, hitam pekat kayak oli. Tapi enggak tahu juga, enggak ada bau sih," ungkapnya.
Baca Juga: Dikejar Warga, Pelarian Terduga Maling Motor di Sukabumi Berakhir di Parit
Gangguan serupa ternyata juga dialami para tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, ada warga yang aliran airnya hanya sampai ke keran bagian depan rumah dan tidak mampu menjangkau bagian dalam, sehingga terpaksa mencuci peralatan dapur di luar rumah.
Di sisi lain, Fira mengaku tetap menerima tagihan PDAM meski pelayanan distribusi air terganggu. Ia berharap perusahaan memberikan informasi yang jelas kepada pelanggan apabila menerapkan sistem pengaliran bergiliran.
"Seenggaknya ada informasi kalau misalkan ada jadwal pemadaman air bergiliran. Jadi warga itu bisa siap-siap nampung air. Itu aja sih," ujarnya.
Penjelasan Perumda Air Minum TBW
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Perumda Air Minum TBW Kota Sukabumi, Dian Afriyandi, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan para pelanggan dalam sepekan terakhir.
Dian menjelaskan, gangguan distribusi ini terjadi akibat penurunan drastis debit air baku pada sumber-sumber utama akibat musim kemarau, sehingga perusahaan terpaksa menerapkan rekayasa pengaliran secara bergiliran.
"Pertama, mungkin kami mohon maaf atas terganggunya pelayanan kita pada masyarakat, khususnya pelanggan PDAM Tirta Sukabumi," kata Dian belum lama ini.
Ia merinci, debit air dari Sungai Cinumpang yang normalnya mencapai 250 liter per detik kini merosot tajam menjadi sekitar 190 liter per detik. Kondisi serupa terjadi pada sumber air Batu Karut yang biasanya berkapasitas 150 liter per detik, kini tinggal menyisakan sekitar 69 liter per detik.
"Jadi, seperti contoh di Sungai Cinumpang itu kapasitas debit normalnya 250, nah saat ini kurang lebih ada di sekitar 190 liter per detik. Dari Batu Karut juga yang normalnya biasa 150 liter per detik, saat ini juga di 69 liter per detik. Sehingga kita menerapkan rekayasa giliran," jelasnya.
Baca Juga: Belajar dari Kasus di Pekanbaru, Ahli Pers Ingatkan Wartawan Tak Salahgunakan Profesi
Menurutnya, pengaliran secara bergiliran mulai diterapkan sekitar sepekan lalu. Dampaknya dirasakan hampir seluruh pelanggan, meski tingkat gangguan berbeda-beda, terutama pada jam pengaliran air.
Berdasarkan data per September 2026, jumlah keseluruhan pelanggan Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi tercatat mencapai 19.821 sambungan langganan.
Terkait tagihan pelanggan, pihak PDAM menjelaskan pembayaran bulanan tetap diberlakukan berdasarkan pemakaian air dalam satuan kubikasi. Selain itu, terdapat komponen beban tagihan yang tetap harus dibayar pelanggan.
Adapun mengenai kompensasi atas gangguan distribusi, perusahaan menyiapkan armada tangki air untuk mengantisipasi kebutuhan pelanggan yang benar-benar tidak mendapatkan pasokan air.
"Kalau kompensasi mungkin begini. Kalau memang kita ada keterlambatan terhadap penggiliran, kita sudah menyediakan tangki juga. Kita sudah siapkan sebagai antisipasi untuk masyarakat atau pelanggan kita yang betul-betul tidak dapat air," pungkasnya.















