Irigasi Cibalung Sukabumi Rusak Parah, 40 Hektar Sawah Alami Kekeringan

Irigasi Cibalung Sukabumi Rusak Parah, 40 Hektar Sawah Alami Kekeringan

Irigasi Cibalung yang melintasi wilayah Kecamatan Cisaat, Caringin dan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. (Sumber : Dok Warga).

SUKABUMIUPDATE.com - Kondisi Saluran Irigasi Cibalung yang melintasi wilayah Kecamatan Cisaat, Caringin dan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kian memprihatinkan. Saluran sepanjang sekitar 5 kilometer tersebut mengalami sejumlah kerusakan parah, mulai dari longsor, kebocoran di banyak titik, pendangkalan, hingga adanya penumpukan sampah di aliran sungai.

Dampak kerusakan ini langsung dirasakan oleh sektor pertanian. Sekitar 40 hektare sawah di wilayah Cibalung, Desa Talaga, Kecamatan Caringin dilaporkan mengalami kekeringan dan terancam gagal panen karena tidak mendapatkan pasokan air dari saluran irigasi tersebut.

Padahal, sumber air yang berasal dari Sungai Kutasirna disebut masih memiliki debit dan volume yang besar. Secara keseluruhan, Irigasi Cibalung diharapkan dapat mengairi persawahan seluas sekitar 260 hektare yang tersebar di tiga kecamatan tersebut.

Penelusuran Petani: Air Melimpah Tapi Tak Sampai ke Hilir

Salah seorang petani sekaligus warga Cibalung, Agus Darmawan (67), mengatakan persoalan distribusi air yang tidak merata ini mendorongnya untuk menelusuri langsung kondisi saluran irigasi hingga ke bagian hulu yang berada di Kecamatan Cisaat.

Baca Juga: Diduga Rem Blong, Truk Box Seruduk Avanza Sebelum Hantam Tebing di Cisarakan Sukabumi

"Saya penasaran kenapa seperti ini. Akhirnya saya coba cek dan ingin mencari tahu. Ternyata, debit air di hulu besar, tetapi persoalannya saluran sudah tidak terawat. Ada pendangkalan, kebocoran, longsor, termasuk banyak sodetan untuk kebutuhan penduduk, baik untuk kebun, sawah, maupun kolam," ujar Agus, kepada Sukabumiupdate.com, Senin (26/10/2026).

Menurutnya, kerusakan saluran tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun, dalam dua tahun terakhir, ia menilai pemeliharaan dan perhatian terhadap kondisi irigasi semakin berkurang.

Agus menyebut air dari saluran tersebut saat ini hanya mampu mengalir sekitar 2,5 kilometer dari total panjang 5 kilometer. Akibatnya, wilayah yang berada di bagian tengah hingga hilir, termasuk Cibalung, kesulitan mendapatkan pasokan air.

"Airnya ada, bahkan sumber airnya besar sekali. Cuma tidak sampai karena salurannya tidak pernah menjadi prioritas untuk diurus," tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Abdul (54), anggota Mitra Cai yang membantu para petani mengontrol saluran irigasi tersebut. Ia menyebut kerusakan terjadi hampir di sepanjang jalur irigasi. 

Sejumlah titik parah di antaranya berada di Cigadog di Desa Talaga (Kecamatan Caringin), Cipuspa (Desa Talaga yang berbatasan dengan Desa Caringin Wetan), serta Karet di wilayah Kutasirna (Kecamatan Cisaat).

Baca Juga: 2 Hari Hilang, Bocah Cikembar Sukabumi Ditemukan di Jalanan usai Diduga Dibawa Pengamen

"Posisi yang jebol banyak sekali, hampir sepanjang irigasi. Untuk kondisi saat ini sangat memprihatinkan, Banyak yang bocor, banyak yang terkena longsor, dan air tidak sampai ke hilir. Sementara dari hulu volume air sangat besar. Kendala di jalurnya, banyak sekali kerusakan yang harus ditangani dengan serius," jelas Abdul.

Ia menjelaskan, air yang keluar dari bagian saluran yang jebol mengalir ke lahan warga dan sebagian masuk ke kali kecil di bawah saluran, ditambah kebiasaan warga yang masih membuang sampah ke sungai memperparah kondisi tersebut.

Sawah Mengering dan Petani Kesulitan Mengolah Lahan

Agus mengungkapkan, sekitar delapan petak sawah miliknya mengalami kekeringan pada bulan ini, dan kondisi serupa turut dialami oleh petani-petani lain di wilayah tersebut. Sawah yang seharusnya bisa ditanami padi justru mengering dan tandus.

Ia menyayangkan kondisi tersebut di tengah upaya pemerintah yang sedang gencar mendorong peningkatan ketahanan pangan nasional.

"Ini kan sangat ironis. Pemerintah menggembar-gemborkan ketahanan pangan, tetapi sawah yang sudah ada justru tidak kebagian air sehingga kering dan petani tidak bisa menanam padi," kata Agus.

Abdul juga menegaskan bahwa kekeringan ini membuat petani kesulitan mengolah lahan, meningkatkan risiko gagal panen, serta mengubah lahan yang seharusnya bisa diproduksi menjadi tidak produktif.

Baca Juga: Timnas Indonesia Diuntungkan, Jepang Diterpa Kabar Cedera Jelang Piala Asia 2027

Ia berharap ada koordinasi yang baik antarpemerintah setempat (lurah dan camat) untuk mencegah perebutan atau penyerobotan air di antara petani hulu dan hilir yang berpotensi memicu perselisihan.

Perbaikan Belum Maksimal dan Langkah Swadaya Mitra Cai

Abdul menuturkan, kerusakan saluran irigasi ini sudah berlangsung cukup lama. Sejumlah perbaikan memang pernah dilakukan, tetapi penanganannya masih terbatas pada titik-titik yang dianggap paling mendesak.

Perbaikan terakhir tercatat dilakukan pada Juni 2026, yang difokuskan pada bagian longsor yang curam dan tidak memungkinkan ditangani hanya menggunakan karung berisi tanah. Kendati demikian, langkah tersebut belum mampu mengatasi seluruh persoalan karena masih banyaknya titik kerusakan.

Sebagai bentuk kepedulian di tengah minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan dan fasilitas petugas pengontrol, Agus Darmawan turun tangan membantu kelompok Mitra Cai. Ia mengaku telah membelikan sejumlah peralatan kerja seperti cangkul, golok, dan parang, serta berencana menyediakan sepatu bot dan seragam.

Harapan Normalisasi dan Perbaikan Menyeluruh

Terkait upaya penanganan ke depan, Abdul menyampaikan bahwa pihak Mitra Cai telah melaporkan kondisi ini dan mendapat kabar adanya rencana normalisasi Irigasi Cibalung pada akhir tahun 2026. Namun, hingga kini, informasi tersebut masih sebatas rencana dan belum ada kepastian tanggal pelaksanaannya.

Baca Juga: Pengobatan Siswa SMP Korban Bullying di Nagrak Sukabumi Capai Rp16 Juta, Masih Butuh Biaya Pemulihan

"Ada, Pak. Bahkan, rencana di akhir tahun ini ada normalisasi. Baru rencana, hanya baru kabar," sebut Abdul.

Baik Agus maupun Abdul berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) serta instansi terkait lainnya dapat segera menjadikan perbaikan Irigasi Cibalung sebagai prioritas utama. Penanganan diharapkan mencakup normalisasi saluran, pengerukan sedimentasi, perbaikan kebocoran, hingga penanganan titik-titik longsor.




Berita Terkini