SUKABUMIUPDATE.com - Sejumlah barang milik Petrus Pallangan (74), seorang dosen yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi membusuk di rumahnya di Kampung Bakti, RT 03/01, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan hilang. Tak hanya itu, asisten rumah tangga atau ART berinisial Ag juga hingga menghilang.
Petrus ditemukan meninggal dunia pada Jumat (25/9/2026) setelah keluarga dan warga membuka paksa pintu rumah yang sebelumnya dalam kondisi terkunci. Ketua RT 03/01 Desa Cimahi, Abdul Salam, membenarkan adanya sejumlah barang milik korban yang disebut tidak ditemukan di rumah.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari anak korban, barang tersebut berupa satu unit handphone (HP), dua unit air conditioner (AC), serta kartu ATM. "Iya, ada yang hilang. Itu HP satu, AC dua, sama kartu ATM," ungkap Abdul kepada sukabumiupdate.com, Kamis (1/10/2026).
Selain barang yang dilaporkan hilang, Abdul juga mengungkap sejumlah kondisi rumah yang menurutnya menjadi perhatian saat jasad Petrus ditemukan. Di antaranya, pintu rumah dalam kondisi terkunci, seluruh lampu di dalam rumah tidak menyala, sementara kondisi ruangan secara umum masih tergolong rapi.
Baca Juga: Pemkot Sukabumi Gelar Tes Potensi Berbasis CAT Untuk Bangun The Winning Team
"Pintu rumah terkunci dari dalam. Pas dibor juga jatuh kuncinya. Kondisi rumah rapi, korban juga pakai selimut sampai dada. Yang hitam itu mukanya saja," kata Abdul.
Saat ditemukan, Petrus berada di atas kasur yang terletak di ruang tengah. Kondisi jasadnya telah mengalami pembusukan dan wajah korban tampak menghitam.
Sementara itu, sebelum jasad Petrus ditemukan, warga sekitar tidak menaruh kecurigaan terhadap rumah tersebut. Kondisi rumah yang sepi dan gelap membuat warga mengira rumah tersebut telah kosong selama sekitar dua pekan.
"Warga tidak ada curiga, soalnya warga taunya rumah itu kosong, kira-kira sudah dua minggu," ujarnya.
Baca Juga: Ingatkan Perda Patanjala, DPRD Sukabumi Menagih Revisi Tata Ruang di Tengah Ancaman Bencana
Soal ART yang Menghilang
Perhatian juga tertuju kepada seorang asisten rumah tangga (ART) seorang pria berinisial AG yang sebelumnya diketahui tinggal atau bekerja bersama korban. Abdul mengaku terakhir kali melihat ART tersebut pada 2 Agustus 2026, ketika dirinya sedang memasang umbul-umbul untuk menyambut perayaan HUT Kemerdekaan RI.
"Terakhir saya lihat dia (ART) itu tanggal 2 Agustus, waktu pasang umbul-umbul buat Agustusan. Dia (ART) nanya, 'Lagi apa, Pak?' Saya jawab lagi pasang umbul-umbul," tuturnya.
Setelah pertemuan tersebut, Abdul mengaku tidak lagi melihat aktivitas ART tersebut di rumah korban.
Sempat tidak aktif, nomor handphone Ag yang menghilang, dapat kembali dihubungi oleh anak korban setelah Petrus ditemukan meninggal dunia. "Iya, memang sebelumnya tidak aktif katanya waktu ditelpon itu. Tapi setelah kejadian, dihubungi lagi sama anaknya korban dan aktif," ungkapnya.
Baca Juga: 9 Kios di Pasar Surade Sukabumi Ludes Terbakar, Disdagin Taksir Kerugian Rp1 Miliar
Polisi Cari Orang Dekat Korban
Polisi melakukan penyelidikan dugaan pembunuhan atas kematian Petrus Pallangan, berdasarkan temuan dan informasi dari keluarga khususnya anak korban. Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan bahwa saat ini penyidik tengah mendalami orang-orang yang pernah berhubungan maupun memiliki kedekatan dengan korban sebelum kematiannya.
Menurut Dudi, langkah tersebut dilakukan setelah polisi menemukan sejumlah kejanggalan saat melakukan olah TKP awal. Beberapa barang dilaporkan hilang, berdasarkan pengakuan dari anak korban.
Selain itu, keberadaan orang terdekat korban sebelum ditemukan meninggal yaitu ART berinisial Ag yang hingga saat ini belum ditemukan juga menjadi tanda tanya besar. “Saat ini ada pihak atau orang yang memang sedang kami cari untuk pendalaman,” kata Dudi.
Polisi tengah mengumpulkan bukti untuk menguatkan dugaan terhadap pihak yang sedang didalami. "Ada kemungkinan itu termasuk orang yang dekat. Kemudian kita sedang mengumpulkan bukti persesuaian antara sangkaan dengan orang dimaksud," pungkasnya.
Baca Juga: Bupati Sukabumi Soal Urgensi Raperda Investasi dan Perseroda Tirta Jaya Mandiri
Penyidik Polres Sukabumi juga masih menunggu hasil otopsi jenazah korban di RS Kramat Jati Jakarta. Otopsi diminta oleh anak korban, yang merasa curiga dengan kematian ayahnya.













