SUKABUMIUPDATE.com - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan Museum Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir di komplek Setukpa Lemdiklat Polri, Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Sabtu (12/9/2026).
Momen bersejarah ini turut dihadiri putri Proklamator Bung Hatta, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, serta putri Bung Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir.
Fadli Zon menegaskan bahwa Sukabumi memiliki rekam jejak yang sangat krusial dalam kepingan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rumah bersejarah tersebut menjadi lokasi pengasingan Bung Hatta dan Bung Sjahrir selama 47 hari sejak 3 Februari 1942 pasca dievakuasi dari Banda Neira.
Selain keduanya, tokoh pergerakan lainnya, yakni Dr. Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri, juga diasingkan di Sukabumi, tepatnya di kawasan Salabintana.
"Rumah ini adalah rumah yang bersejarah karena rumah pengasingan dari Bung Hatta dan Bung Sjahrir sejak tahun 1942, tepatnya tanggal 3 Februari setelah diasingkan dari Bandaneira," ujar Fadli Zon kepada awak media di lokasi.
Baca Juga: 5 Kisah Kesederhanaan Wapres Hatta: Sulit Bayar Listrik & Tak Berani Pakai Mobil Dinas
Menurut Fadli Zon, penataan museum ini melalu proses pemugaran dan revitalisasi ketat oleh tim kurator Direktorat Permuseuman Kementerian Kebudayaan dengan persetujuan pihak kepolisian.
Bangunan yang sebelumnya berfungsi sebagai rumah dinas/mess kepolisian di bawah Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri tersebut kini disulap menjadi museum modern berorientasi edukasi digital.
"Tadinya tempat ini merupakan tempat yang dijadikan mess atau rumah dinas yang dipakai oleh kepolisian. Kemudian ketika itu sudah ada kerusakan-kerusakan," kata Fadli.
Fadli menyebut pihaknya sebelumnya telah bersurat kepada Kapolri terkait rencana menjadikan bangunan tersebut sebagai museum rumah pengasingan Hatta-Sjahrir.
"Jadi waktu itu kami juga bersurat kepada Pak Kapolri untuk menjadikan rumah pengasingan ini dan disetujui," katanya.
Oleh karena itu Fadli mengapresiasi jajaran Kepolisian Republik Indonesia serta pihak keluarga yang telah meminjamkan arsip foto, dokumen, hingga kesaksian bersejarah.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Polri yang bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan juga keluarga sehingga kita bisa mempunyai museum ini," tuturnya.
Baca Juga: Fadli Zon Harap Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir di Sukabumi Direkonstruksi
Lebih lanjut Fadli menjelaskan, bahwa keberadaan rumah pengasingan tersebut juga memiliki kaitan dengan situasi politik Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Sekitar satu bulan setelah Hatta dan Sjahrir berada di Sukabumi, Belanda menyerah kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati pada 7 Maret 1942.
Menurut Fadli, rumah ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan perjuangan Wakil Presiden dan Perdana Menteri Pertama Indonesia tersebut yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Ia kemudian berharap museum dapat menarik lebih banyak pengunjung sehingga nilai sejarah yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan.
"Ini merupakan satu aset sejarah dan budaya yang penting sehingga bisa melengkapi puzzle sejarah kita, dari rumah pengasingan, langkah-langkah perjuangan, dan terutama bisa memperlihatkan pada generasi muda bagaimana perjuangan itu luar biasa dilakukan oleh para founding fathers kita," katanya.
Langkah selanjutnya, kata Fadli, Kementerian Kebudayaan bakal mengajukan peningkatan status bangunan dari Cagar Budaya Tingkat Kota menjadi Cagar Budaya Tingkat Nasional.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa menjadi cagar budaya di tingkat nasional sehingga ini bisa terawat dan bisa terjamin juga," ujarnya.
Baca Juga: 1,5 Bulan Menetap, Kilas Balik Rumah Bung Hatta dan Sjahrir di Kota Sukabumi
Sementara itu, putri Bung Hatta, Profesor Doktor Meuttia Darida Hatta, mengapresiasi langkah pemerintah dalam melindungi aset-aset bersejarah.
Ia menilai keberadaan museum tersebut bukan hanya penting sebagai tempat untuk mengenang sejarah, tetapi juga sebagai sarana untuk meneladani semangat dan nilai perjuangan para tokoh bangsa.
"Kita mengajak kembali untuk anak-anak muda terutama untuk mengenal satu bagian dari sisi sejarah yang dulu tidak diperhatikan dalam perjalanan," ujar Meutia.
Hal senada disampaikan Siti Rabyah Parvati Sjahrir. Putri Bung Sjahrir itu menilai masa pengasingan di Sukabumi justru menjadi salah satu titik penting yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam perjalanan sejarah perjuangan Indonesia.
Menurutnya, setelah berada di Sukabumi, Bung Sjahrir dan Bung Hatta mulai kembali menjalin hubungan dengan para pejuang lainnya.
"Begitu kembali ke Sukabumi mereka mulai menjalin kembali hubungan dengan pejuang-pejuang lain," katanya.
Siti menjelaskan, meskipun berada dalam pengasingan, Bung Sjahrir dan Bung Hatta tetap menerima sejumlah tamu dari kalangan pejuang dan melakukan konsolidasi.
Menurutnya, dari Sukabumi pula Bung Sjahrir kemudian mulai melakukan perjalanan dan menyusun strategi perjuangan. Sementara Bung Hatta mengambil jalur berbeda dengan bekerja sama dengan pemerintahan Jepang sebagai bagian dari strategi perjuangan.
"Jadi menurut saya penting sekali karena ini ternyata merupakan satu titik awal yang penting dan suka terlupakan dalam sejarah," ujarnya.














