SUKABUMIUPDATE.com - Sebelum jam menjadi alat untuk menentukan waktu seperti sekarang, masyarakat Sunda memiliki cara tersendiri untuk mengenali pergantian waktu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui istilah wanci Haneut Moyan
Wanci atau waktu ini menggambarkan ketika sinar matahari mulai terasa hangat dan nyaman untuk berjemur.
Istilah ini bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga menunjukkan kedekatan masyarakat Sunda zaman dahulu dengan alam dan berbagai aktivitas yang berlangsung di sekitarnya.
Secara harfiah, “haneut moyan” berarti hangat untuk berjemur. Haneut berarti hangat, sedangkan moyan berarti berjemur atau menghangatkan tubuh di bawah sinar matahari.
Dalam konsep wanci atau penanda waktu tradisional Sunda, Haneut Moyan merujuk pada waktu ketika sinar matahari terasa cukup hangat sehingga nyaman untuk berjemur.
Jadi, istilah ini menggambarkan kondisi alam sekaligus aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat pada waktu tersebut.
Waktunya tidak bisa disamakan secara mutlak dengan satu angka pada jam karena sangat bergantung pada posisi matahari, cuaca, dan kondisi lingkungan.
Dalam konteks keseharian, istilah ini umumnya merujuk pada pagi menjelang siang, ketika matahari sudah cukup terasa hangat.
Mengapa disebut Haneut Moyan?
Masyarakat Sunda zaman dahulu banyak menggunakan tanda-tanda alam untuk mengenali pergantian waktu.
Sebelum jam menjadi alat penentu waktu yang umum digunakan, posisi matahari, panjang bayangan, suara binatang, hingga aktivitas manusia dapat menjadi petunjuk waktu.
Haneut Moyan menggambarkan salah satu keadaan tersebut. Ketika matahari mulai terasa hangat, orang dapat melakukan aktivitas seperti moyan, terutama untuk menghangatkan tubuh setelah udara pagi yang lebih dingin.
Karena itu, nama Haneut Moyan bukan sekadar menunjukkan waktu, tetapi juga menggambarkan hubungan masyarakat Sunda dengan lingkungan alam di sekitarnya.















