dokter Relawan Sukabumi Temukan Warga Penyintas Gempa NTT Alami Hipertensi dan Dehidrasi

Sukabumiupdate.com
Selasa 25 Agu 2026, 09:49 WIB
dokter Relawan Sukabumi Temukan Warga Penyintas Gempa NTT Alami Hipertensi dan Dehidrasi

dokter Jabal Cahyo Wibowo bersama Komunitas Sobat Senyum Sukabumi sedang melakukan pemeriksaan kepada warga penyintas korban Gempa NTT, 24 Agustus 2026. (Sumber : Sukabumiupdate.com)

SUKABUMIUPDATE.com – Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, masih menyisakan dampak bagi masyarakat. Selain kerusakan bangunan dan keterbatasan kebutuhan logistik, warga di sejumlah wilayah terdampak juga menghadapi persoalan kesehatan.

dr. Jabal Cahyo Wibowo, relawan asal Sukabumi dari Komunitas Sobat Senyum (Dulu Seribu Senyum) Sukabumi, mengabarkan kondisi terkini dan pada hari ini berencana mendatangi Desa Ratedao, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Selasa (25/8/2026).

“Hari ini kita akan melakukan pemeriksaan kepada warga yang berada di Ratedao,” kata dr. Jabal, kepada Sukabumiupdate.com.

dr. Jabal mengatakan, tim relawan saat ini membagi personel menjadi dua tim setiap harinya. Satu tim bertugas menangani kebutuhan medis, sementara tim lainnya fokus menyalurkan bantuan logistik. Pembagian tersebut dilakukan agar pelayanan dapat menjangkau sejumlah titik yang membutuhkan bantuan.

Baca Juga: Ole Romeny Dapat Sanksi KNVB Usai Kartu Merah, Absen 3 Laga bela Fortuna Sittard

Pada 22-23 Agustus 2026, tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan di wilayah Pota. Dari kegiatan tersebut, sekitar 500 warga mendapatkan pemeriksaan.

Menurut dr. Jabal, masih terdapat sejumlah titik yang belum mendapatkan pelayanan medis secara optimal. Tim medis sebelumnya hanya datang pada hari pertama untuk melakukan asesmen awal pascabencana, kemudian pelayanan lebih banyak terpusat di posko utama.

Dalam pemeriksaan tersebut, relawan masih menemukan warga yang menjalani masa pemulihan akibat tertimpa bangunan saat gempa. Kondisinya beragam, mulai dari cedera ringan hingga luka berat.

Selain cedera, persoalan lain yang banyak ditemukan adalah dehidrasi. Kondisi tersebut terjadi karena ketersediaan air bersih yang masih sangat terbatas. Bahkan, sebagian sumber air yang tersedia dinilai tidak layak untuk dikonsumsi karena memiliki kandungan kapur yang cukup tinggi.

Baca Juga: Selain Air Lemon, Ini 8 Minuman Sehat yang Bisa Mendukung Proses Detoks Alami Tubuh

“Di beberapa titik ditemukan hasil pemeriksaan dengan kondisi kurang cairan atau dehidrasi akibat kecukupan air yang minim sekali. Adapun air yang tersedia bukan air yang layak dikonsumsi karena banyak yang tinggi kandungan kapur,” ujarnya.

dr. Jabal menambahkan, keluhan kesehatan yang cukup banyak ditemukan saat ini adalah hipertensi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan rasa cemas, stres, serta kurangnya waktu istirahat akibat warga masih dihantui gempa susulan.

“Penyakit paling banyak sekarang timbul adalah hipertensi. Karena cemas membuat stress dan kurangnya istirahat karena masih terdapat gempa susulan yang menyebabkan hipertensi tersebut,” ucapnya.

Selain memberikan penanganan terhadap warga yang mengalami luka, tim medis juga memberikan edukasi agar masyarakat dapat melakukan perawatan secara mandiri terhadap luka-luka ringan yang dialami.

Baca Juga: Maling Motor Babak Belur Diringkus Massa di Perbatasan Sukabumi-Cianjur

Kemudian pada Senin (24/8/2026), tim kembali menyusuri wilayah yang belum tersentuh pelayanan medis, salah satunya Kampung Lea, Desa Kotagana. Di lokasi tersebut, tim melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus membagikan obat-obatan, khususnya kepada lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Sekitar 150 warga yang berada di dua posko mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Untuk mencapai wilayah tersebut, tim harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam dari Ruteng.

“Kami menyusuri daerah Kampung Lea, Desa Kotagana karena belum tersentuh medis. Pemeriksaan sekitar 150 orang,” kata dr. Jabal.

Menurutnya, dari sekitar 21 posko terdampak, masih terdapat beberapa lokasi yang belum mendapatkan pelayanan medis. Kondisi kesehatan warga di sejumlah titik tersebut relatif menghadapi persoalan serupa, yakni kurangnya istirahat dan kecemasan akibat gempa susulan.

Baca Juga: Tangan Terampil Naink, Putra Geopark Ciletuh yang Bertahan Merawat Kerajinan Gitar Handmade

Kondisi tersebut kembali berpengaruh terhadap tekanan darah warga. Tim masih menemukan sejumlah masyarakat, terutama lansia, yang mengalami hipertensi.

Selain persoalan kesehatan, kondisi tempat tinggal sementara juga menjadi perhatian. Warga masih banyak yang harus tidur di luar rumah karena khawatir bangunan mengalami kerusakan atau roboh akibat gempa susulan.

dr. Jabal menyebut, pada Senin 24 Agustus 2026 terdapat seorang lansia yang meninggal dunia. Lansia tersebut sebelumnya memang telah mengalami sejumlah masalah kesehatan, namun kondisinya diperparah oleh situasi pascagempa dan harus tidur di luar rumah dalam kondisi dingin.

“Memang sebelumnya sudah sakit-sakitan, namun diperparah oleh kondisi tidur di luar rumah,” ujarnya.

Pada Selasa (25/8/2026), tim relawan kembali melakukan pemeriksaan kesehatan di sejumlah titik dengan sistem pembagian tugas antara tim medis dan tim logistik. Pelayanan tersebut dilakukan secara bergantian dengan menyesuaikan kebutuhan warga di masing-masing lokasi terdampak.

 

Berita Terkait
Berita Terkini