SUKABUMIUPDATE.com – Dampak musim kemarau di Kabupaten Sukabumi terus meluas. Jika pekan sebelumnya hanya empat kecamatan yang mengajukan bantuan air bersih akibat kekeringan, kini jumlahnya bertambah menjadi enam kecamatan.
Meski wilayah terdampak terus bertambah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi hingga kini belum menetapkan status darurat kekeringan. BPBD masih melakukan pemantauan dan menunggu perkembangan kondisi cuaca serta dampaknya di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, mengatakan dari total 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, saat ini terdapat enam kecamatan yang telah mengajukan permohonan pendistribusian air bersih kepada BPBD.
"Dari 47 kecamatan, kami baru menerima permohonan pendistribusian air bersih dari enam kecamatan, yaitu Cikembar, Cibadak, Cicurug, Nyalindung, Cibitung, dan Gegerbitung," ujar Eki usai menghadiri kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Pondok Pesantren Modern Assalam Putri, Kecamatan Warungkiara, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, permohonan bantuan air bersih tersebut menjadi indikator awal adanya dampak kemarau di sejumlah wilayah. Namun kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menetapkan status darurat kekeringan tingkat kabupaten.
"Pertimbangannya juga berdasarkan informasi BMKG yang kami terima. Kondisi cuaca di Kabupaten Sukabumi masih ada wilayah yang turun hujan, sehingga kekeringan belum terjadi secara merata," jelasnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Melanda 4 Kecamatan di Sukabumi, 3.022 Warga Terdampak Kekeringan
Meski demikian, BPBD terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi di lapangan. Apabila dampak kemarau semakin meluas dan menjangkau lebih banyak wilayah, penetapan status kekeringan akan segera dilakukan.
"Kalau ke depan kondisi cuaca terus seperti ini dan dampaknya semakin meluas, tentu kami akan segera menetapkan status kekeringan Kabupaten Sukabumi," tegas Eki.
Selain mewaspadai ancaman kekeringan, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang biasanya meningkat selama musim kemarau.
Eki mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap perubahan cuaca yang kini ditandai dengan udara kering, angin kencang, dan suhu panas yang dapat memicu kebakaran lahan maupun permukiman.
"Kami mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap perubahan iklim. Dari yang sebelumnya sering hujan, sekarang mulai kering dan angin bertiup cukup kencang," katanya.
Baca Juga: Kebakaran di Sundawenang Parungkuda, Pemilik Warung Kelontong Alami Luka Bakar Ringan
Ia juga menyoroti masih adanya dugaan kebakaran lahan yang dipicu oleh kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area yang mudah terbakar.
"Beberapa kebakaran lahan kemungkinan dipicu oleh ulah orang yang tidak bertanggung jawab, misalnya membuang puntung rokok sembarangan," ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diminta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah untuk mengurangi risiko korsleting yang menjadi salah satu penyebab utama kebakaran.
"Kalau akan keluar rumah, pastikan aliran listrik yang tidak digunakan dimatikan terlebih dahulu agar tidak terjadi korsleting," ucapnya.
Tak hanya itu, Eki juga mengingatkan warga yang masih menggunakan tungku tradisional atau hawu agar benar-benar memastikan bara api telah padam sebelum ditinggalkan.
"Kadang masyarakat mengira apinya sudah padam, padahal bara arang masih menyala. Dengan kondisi angin kencang saat kemarau, bara kecil itu bisa kembali membesar dan memicu kebakaran. Karena itu harus dipastikan benar-benar padam," pungkas Eki.















