SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau yang berlangsung sekitar tiga pekan menyebabkan ratusan kepala keluarga (KK) di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mengalami krisis air bersih. Berdasarkan hasil asesmen Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, sebanyak 530 KK di dua wilayah terdampak kekeringan.
Petugas P2BK Cibadak, Mawaldi, mengatakan pihaknya langsung melakukan asesmen setelah menerima laporan dari warga. Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, wilayah yang mengalami kesulitan air bersih meliputi Kampung Babakansari RW 17 (220 KK) dan Kampung Bantar Muncang Atas RW 06 (310 KK).
"Kekeringan sudah berlangsung sekitar tiga minggu," kata Mawaldi kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, kemarau menyebabkan sumber air bersih warga mengering. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga membuat kobak di aliran sungai yang mulai mengering dan memanfaatkan air tersebut untuk mandi, mencuci, serta kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), meski kondisi air keruh.
Baca Juga: Viral di Medsos! Narasi Istri Menteri PU Minta Naik Helikopter saat Kunker Jadi Sorotan
Menurut Mawaldi, warga bersama ketua RT setempat bergotong royong membersihkan sampah di aliran sungai agar kualitas air yang digunakan tidak semakin tercemar. Sementara kebutuhan air minum dipenuhi dengan membeli air isi ulang dari wilayah lain karena air sungai tidak layak dikonsumsi.
Air Kobak yang dibuat oleh warga. | Istimewa.
Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kemarau juga menyebabkan lahan pertanian di sekitar permukiman mengalami kekeringan sehingga hektaran sawah dipastikan gagal panen.
Salah satu wilayah yang terdampak berada di Kampung Babakansari RW 17. Ketua RW 17, Edi Supredi, mengatakan kesulitan air bersih mulai dirasakan warga sekitar tiga minggu terakhir. Saat sumber air mengering, warga harus mengambil air ke aliran kali dengan membawa jeriken maupun ember.
"Ya, paling sekitar tiga minggu sudah kemarau, sulit air, terutama untuk masak dan minum. Kalau sekarang ada yang pakai motor, ada yang dipikul pakai jeriken. Warga juga ke kali untuk mengambil air," ujar Edi.
Baca Juga: Kabupaten Sukabumi Masuk Status Siaga Kekeringan, Warga Mulai Rasakan Krisis Air Bersih
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau dan karakteristik tanah di wilayahnya yang membuat sumber air lebih cepat mengering.
"Struktur tanahnya memang cepat kering," ucapnya.
Edi mengatakan, sumur gali yang selama ini menjadi sumber air utama warga mulai mengering, terutama di kawasan permukiman bagian atas.
"Sebagian yang di atas mengering, kalau yang di bawah masih ada sebagian yang tidak kering," katanya.
Akibat kondisi tersebut, warga memanfaatkan air dari kobak di pinggir kali untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan air minum, warga membeli air galon.
Ia menjelaskan, kobak tersebut merupakan semacam bak kecil di pinggir aliran kali yang menampung rembesan air. Air dibiarkan terkumpul terlebih dahulu sebelum diambil menggunakan ember atau jeriken.
Baca Juga: Teriak Sulit Air Bersih, Warga Cikundul Kota Sukabumi Minta Sumur Bor
"Di pinggir kali ada semacam bak, airnya keluar sedikit-sedikit. Dibiarkan sampai penuh, baru diambil," jelasnya.
Untuk mendapatkan air, sebagian warga harus berjalan sekitar 500 meter menuju lokasi pengambilan air. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan sejak pagi sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB dan baru selesai sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Sebagian warga kembali mengambil air pada sore hari.
"Bawa jeriken, bawa ember, digendong," tuturnya.
Menurut Edi, kondisi kekeringan seperti ini hampir terjadi setiap musim kemarau. Saat musim normal, kebutuhan air dipenuhi dari sumur gali dengan kedalaman sekitar delapan hingga 10 meter. Namun ketika kemarau, sumur-sumur tersebut mengering sehingga sebagian warga harus mencari air hingga ke aliran kali, bahkan menuju wilayah Desa Cimanggis.
Baca Juga: Tak Perlu ke Pemandian Mahal, Mata Air Cimutan Punya Kesegaran Alami dengan Harga Terjangkau
Wilayah tersebut sebelumnya pernah mendapat bantuan sumur bor dan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Namun keduanya kini tidak lagi berfungsi karena mengalami kerusakan.
"Sumur bor cuma sekitar 20 menit habis. Pamsimas juga sekarang mesinnya pada mati," ungkapnya.
Edi mengaku pihak RW telah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah desa dan instansi terkait. Namun hingga saat ini bantuan distribusi air bersih dari pemerintah belum diterima. Bantuan yang baru datang berasal dari sebuah yayasan berupa satu tangki air.
"Baru satu kali dari yayasan," katanya.
Ia berharap pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau. Selain itu, sumur bor dan Pamsimas yang sebelumnya dibangun juga diharapkan dapat kembali difungsikan.
Baca Juga: Musim Kemarau Kota Sukabumi Mulai Kekeringan, Warga Cikundul Andalkan Bantuan Air Bersih
"Maunya bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian kalau bisa sumber air yang ada, baik sumur bor maupun Pamsimas, bisa diperbaiki lagi supaya bisa dimanfaatkan warga," pungkasnya.















