SUKABUMIUPDATE.com - Aktivitas kendaraan tambang yang melintasi Jalan Veteran, Kampung Gunungguruh, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, menuai keluhan warga. Hilir mudik dump truk bermuatan material tambang disebut membuat rumah warga bergetar, memicu debu, hingga dikhawatirkan merusak akses jalan lingkungan.
Ketua RW setempat, M Syamsudin (60), mengatakan keresahan warga muncul setelah kendaraan pengangkut material diduga milik perusahaan tambang mulai melewati jalan permukiman. Menurutnya, intensitas kendaraan yang melintas setiap hari dinilai terlalu tinggi dan mengganggu aktivitas warga.
“Kalau satu dua mobil lewat mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah banyak, warga jadi resah. Jalan dipakai warga untuk aktivitas sehari-hari, termasuk ke kebun. Rumah yang dekat jalan juga terasa bergetar,” ujar Syamsudin, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Adu Banteng PCX vs Elf di Purabaya Sukabumi, Pemotor Dilarikan ke RS
Ia menyebut, dalam sehari jumlah truk yang melintas diperkirakan mencapai 25 hingga 30 unit. Bahkan warga beberapa kali terpaksa menghentikan kendaraan berukuran besar seperti tronton agar tidak masuk ke jalur permukiman.
Menurut Syamsudin, kekhawatiran terbesar warga adalah kerusakan jalan lingkungan yang nantinya tidak jelas pihak yang bertanggung jawab memperbaikinya. Warga pun meminta adanya komunikasi terbuka dari pihak perusahaan terkait penggunaan jalan tersebut.
“Yang warga takutkan itu kondisi jalan. Kalau nanti rusak parah, siapa yang bertanggung jawab? Jangan sampai seperti kejadian jalan lain yang rusak dan akhirnya warga yang dirugikan,” katanya.
Baca Juga: Buruh Bangunan Meninggal, RS Hasan Sadikin Bandung: Terinfeksi Virus Hanta
Ia menuturkan, truk-truk tersebut diduga mulai melewati jalan warga karena jalur utama pengangkutan material mengalami kerusakan. Keluhan dan laporan warga, kata dia, sudah disampaikan ke pemerintah desa hingga kecamatan.
“Laporan sudah kami sampaikan ke desa dan kecamatan. Harapannya masalah ini cepat ditangani karena warga ingin ada solusi,” ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan tokoh masyarakat setempat, Tatang (65). Ia mengatakan kendaraan tambang sudah sekitar enam bulan melintasi jalan lingkungan warga, bahkan sering beroperasi pada malam hingga dini hari. “Sudah sekitar enam bulan lewat sini karena jalur mereka rusak. Kadang lewat tengah malam, jadi mengganggu waktu istirahat warga,” ungkap Tatang.
Baca Juga: Guru Madrasah Swasta Sukabumi Kembali Aksi ke Jakarta, Desak Revisi UU ASN
Selain getaran dan kebisingan, warga juga mengeluhkan debu serta material tanah yang tercecer di jalan. Kondisi itu dinilai membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan turun. “Kalau hujan, tanah dari truk itu bikin jalan licin. Kemarin sempat ada yang jatuh juga karena kondisi jalan jadi berlumpur dan licin,” bebernya.
Tatang menyebut sedikitnya 50 warga telah menandatangani petisi penolakan terhadap aktivitas kendaraan tambang yang melintasi jalur permukiman. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan sebelum kerusakan jalan dan dampak lainnya semakin parah.
“Warga sudah membuat petisi penolakan. Sampai sekarang belum ada respons yang benar-benar konkret, padahal warga ingin ada tindakan cepat,” pungkasnya.







