SUKABUMIUPDATE.com - Suara itu masih teringat jelas di kepala Ikah Atikah (73). Dentuman keras yang memecah suasana Magrib di Kampung Ciapuh Pasir, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, membuat warga berhamburan keluar rumah pada Minggu (10/5/2026) petang.
Saat peristiwa itu terjadi, lansia yang akrab disapa Nenek Ikah tersebut baru saja selesai mengambil air wudhu. Ia tengah bersiap menunaikan salat Magrib di rumah sederhananya, rumah bantuan rutilahu dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang diterimanya pada 2022 lalu.
“Lagi di rumah abis ambil air sembahyang,” ujar Ikah saat ditemui di lokasi.
Belum sempat mengenakan mukena sepenuhnya, suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari arah bangunan tiga lantai di dekat rumahnya yang ambruk bertahap. Suara keras reruntuhan sontak membuat warga panik.
Baca Juga: Tumpang Tindih Jabatan Disorot, GMNI Kuliti Tata Kelola Proyek Gedung MUI
“Oh, bukan suara lagi. Tetangga juga pada lari, kan pas-pasan Magrib,” katanya mengenang.
Ikah mengaku sempat kebingungan di tengah situasi mencekam itu. Ia bahkan masih ingin tetap melaksanakan shalat sebelum akhirnya diminta segera keluar rumah oleh kerabatnya.
“Belum shalat, baru mau pakai mukena. Pas Ade ke sini, ‘Ne, ayo keluar!’ katanya. Saya bilang mau shalat dulu. Tapi katanya jangan, suruh keluar,” tuturnya.
Dalam keadaan panik, ia berlari keluar rumah hanya membawa mukena yang ada di tangannya. Tak ada barang lain yang sempat diselamatkan.
Rumah yang telah ia tempati sejak 1994 itu ikut terdampak material reruntuhan. Bagian atap rumah mengalami kerusakan akibat tertimpa baja ringan dari bangunan yang ambruk.
Baca Juga: Apakah Tarif Parkir RSUD Palabuhanratu Bisa Diturunkan? Ini Ketentuannya
“Yang kena itu asbes sama baja ringan,” ucapnya.
Sejak kejadian tersebut, Ikah memilih mengungsi ke rumah kerabatnya dan belum berani kembali menginap di rumah sendiri. Kekhawatiran terhadap longsor susulan dan kondisi tanah yang masih labil membuatnya memilih bertahan di pengungsian sementara.
“Ya khawatir, makanya gak diem di rumah. Kata pak RT juga jangan dulu tidur di rumah,” katanya.
Bagi Ikah, rumah bantuan rutilahu itu bukan sekadar bangunan. Di rumah itulah ia menjalani hidup seorang diri setelah anak semata wayangnya meninggal dunia.
“Kan punya anak cuma satu, meninggal,” ujar Ikah lirih.
Ketua RT setempat, Iman Kurnia, mengatakan warga di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan karena area sekitar bangunan ambruk masih dianggap berpotensi membahayakan.
Baca Juga: Menjelajahi Curug 72 di Ciwaluh Bogor, Hidden Spot yang Menenangkan Tidak Jauh dari Sukabumi
Selain menerima bantuan rutilahu pada 2022, Ikah juga diketahui menjadi penerima bantuan BPJS dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi hingga saat ini. Namun kini, rumah yang dulu dibangun agar ia bisa tinggal lebih layak justru tak lagi dapat dihuni karena ancaman bahaya di sekitarnya.
Diberitakan sebelumnya, sebuah rumah tiga lantai di Kampung Ciapuh Pasir, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, yang hanya 3 meter di rumahnya ambruk secara bertahap setelah wilayah tersebut diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa itu menyebabkan sedikitnya tiga rumah warga terdampak dan membuat akses jalan di sekitar lokasi sempat dialihkan karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.






