SUKABUMIUPDATE.com - Senja belum benar-benar hilang ketika musibah itu datang menghantam kehidupan Suryati (51). Warga Kampung Puncak Bungur RT 002/008, Desa Tegalbuleud, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi itu kini hanya bisa terbaring lemah di rumahnya, menanggung luka fisik sekaligus beban nasib yang tak ringan.
Rabu sore, 25 Maret 2026 sekitar pukul 17.30 WIB, perjalanan yang seharusnya biasa saja berubah menjadi tragedi. Suryati dibonceng anak perempuannya, Ratih (26), bersama cucu laki-lakinya yang baru berusia dua tahun. Mereka melaju menggunakan sepeda motor Honda Beat menuju kawasan Muara Indah Cikaso.
Namun di jalan nasional Kampung Rancaerang, Desa Buniasih, takdir berkata lain. Ratih mengisahkan, saat itu dirinya hendak menyalip sebuah mobil jenis Avanza berwarna hitam. Di saat bersamaan, dari arah berlawanan melaju kendaraan ambulans.
Baca Juga: Komisi I DPRD Sukabumi Soal Kepastian Hak Kepemilikan Tanah Warga di Cikidang Plantation Estate
“Pas mau melewati mobil itu, ibu saya kena mobil dan terjatuh bersama anak saya. Setelah berhenti, saya lihat mereka sudah berada di kolong mobil,” tutur Ratih dengan suara lirih, mengenang detik-detik kejadian kepada Sukabumiupdate.com, Rabu (8/4/2026).
Warga sekitar yang melihat kejadian langsung bergegas memberikan pertolongan. Ketiganya dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas Tegalbuleud sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Jampangkulon.
Namun, luka yang mereka alami tak bisa dibilang ringan. Cucu Suryati yang masih balita mengalami patah kaki kanan dan patah tangan kiri. Meski kondisinya mulai membaik, ia belum bisa berjalan seperti sedia kala.
Baca Juga: Kadistan Aep Majmudin Harap Beras Lokal Sukabumi Terserap Program MBG
Sementara itu, kondisi Suryati jauh lebih memprihatinkan. Kepalanya harus mendapatkan 12 jahitan, tangannya mengalami cedera serius, dan pinggulnya patah. Ia kini tak mampu berdiri, apalagi beraktivitas seperti sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga juga dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya. Abdul Rohmat, perwakilan keluarga korban, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat menjalani mediasi dengan pemilik mobil Avanza yang terlibat kecelakaan. Proses itu bahkan berujung damai di Polsek Tegalbuleud.
“Kami menerima uang Rp400 ribu saat di puskesmas dan Rp300 ribu saat mediasi. Total Rp700 ribu, dan dianggap selesai. Bahkan saya yang menandatangani, dengan alasan mobil tidak salah,” ujarnya. Dengan kebutuhan biaya pengobatan yang besar, bantuan tersebut nyaris tak berarti.
Baca Juga: Pergi Mancing ke Muara Curug Sodong, Warga Cibitung Sukabumi Dilaporkan Hilang
Kepala Desa Tegalbuleud, Ramdan Arip Firmansyah, mengatakan pihak desa telah berupaya membantu semaksimal mungkin, termasuk menanggung biaya perawatan di Puskesmas dan RSUD Jampangkulon.
Namun BPJS Kesehatan milik Suryati diketahui belum aktif dan baru bisa digunakan mulai 1 Mei 2026. Padahal, pihak rumah sakit telah merekomendasikan rujukan lanjutan ke Kota Sukabumi karena kondisi Suryati yang membutuhkan penanganan lebih intensif.
“Korban memang harus dirujuk. Kami sudah memfasilitasi semampunya, termasuk pengurusan BPJS. Tapi memang baru aktif tanggal 1 Mei,” kata Ramdan.
Baca Juga: DPMD Sukabumi Ungkap Tantangan TPP P3MD, Dorong Penguatan Pendampingan Desa
Keterbatasan biaya membuat keluarga tak memiliki pilihan lain selain membawa Suryati pulang ke rumah. Di sanalah ia kini terbaring, ditemani rasa sakit yang belum reda dan harapan yang menggantung.
Di sudut rumah sederhana itu, dua generasi, nenek dan cucu sama-sama berjuang untuk pulih. Mereka bukan hanya melawan luka, tetapi juga keadaan.
Keluarga hanya bisa berharap, suatu hari nanti kesehatan kembali berpihak. Agar Suryati bisa bangkit dari pembaringan, dan sang cucu kembali berlari tanpa rasa sakit. Sebab bagi mereka, sembuh bukan sekadar keinginan, melainkan satu-satunya harapan yang tersisa.


