Engkreg! Penakluk Jalan Rusak, Penopang Kehidupan Warga Tegalbuleud Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Rabu 11 Mar 2026, 20:50 WIB
Engkreg! Penakluk Jalan Rusak, Penopang Kehidupan Warga Tegalbuleud Sukabumi

Engkreg, motor modifikasi yang bisa digunakan di medan berat | Foto : Dok. warga

SUKABUMIUPDATE.com - Sebagian infrastruktur jalan wilayah Pajampangan di selatan Kabupaten Sukabumi masih belum tersentuh aspal. Salah satunya jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Bangbayang hingga Desa Nangela di Kecamatan Tegalbuleud masih dipenuhi bebatuan, tanah licin, dan lumpur tebal saat musim hujan.

Namun, keterbatasan infrastruktur tidak menghentikan aktivitas warga di wilayah tersebut. Mereka justru menciptakan solusi kreatif dengan memodifikasi sepeda motor menjadi kendaraan tangguh bernama “Engkreg”, yang kini menjadi andalan untuk menembus medan berat.

Motor engkreg berbeda dari sepeda motor pada umumnya. Hampir seluruh bodinya dibongkar, menyisakan rangka, mesin, dan roda. Tangki bensin digantungkan di bagian stang yang dimodifikasi lebih tinggi. Desain ini dibuat agar motor lebih ringan, kuat, dan mampu melewati jalan berbatu, tanah curam, hingga lumpur tebal.

Bagi warga Tegalbuleud, engkreg bukan lagi sekadar alat transportasi. Kendaraan ini telah menjadi penopang kehidupan sehari-hari.

Abdul Hanan (23), warga Kampung Bojongwaru, Desa Nangela, Kecamatan Tegalbuleud, mengatakan motor engkreg menjadi andalan warga untuk mengangkut hasil pertanian dari ladang-ladang terpencil menuju jalan yang bisa dijangkau kendaraan roda empat.

Baca Juga: 4 Hari Hilang, Warga Cikembar Ditemukan Jadi Mayat di Perkebunan Karet

“Motor ini sangat membantu warga. Biasanya dipakai untuk mengangkut hasil bumi seperti kapulaga, pisang, sampai kayu dari kebun,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Selasa (11/3/2026).

Tak hanya untuk hasil pertanian, engkreg juga digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak warga Bojongwaru yang harus berbelanja ke Kampung Ciburuy di Desa Bangbayang karena akses menuju pusat Desa Nangela juga rusak parah.

“Kalau belanja kebutuhan warung atau kebutuhan rumah, biasanya kami ke Desa Bangbayang. Jalannya memang rusak semua, jadi pakai motor engkreg ini,” katanya.

Perjalanan sejauh sekitar 10 kilometer yang ditempuh pun bukan perkara mudah. Jika musim hujan tiba, lumpur tebal membuat perjalanan semakin berat. “Kalau musim hujan, berangkat dari Bojongwaru jam enam pagi, pulangnya bisa sampai magrib jam enam lagi. Itu juga kalau motor tidak ada gangguan,” tutur Hanan.

Motor engkreg merupakan hasil kreativitas warga dalam memodifikasi sepeda motor agar mampu menghadapi kondisi jalan ekstrem. Biaya pembuatannya pun tidak sedikit.

Untuk satu unit engkreg, warga biasanya membeli sepeda motor bekas seharga sekitar Rp4 juta, kemudian memodifikasinya dengan biaya sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta. “Kalau ingin maksimal, bisa sampai Rp10 juta totalnya, mulai dari beli motor sampai dimodifikasi,” jelasnya.

Baca Juga: Jelang Digunakan Arus Mudik, Jalan Tol Bocimi Seksi 3 Ciambar - Nagrak Dibersihkan

Meski sederhana, motor engkreg telah menjadi simbol ketangguhan warga Pajampangan. Di tengah keterbatasan infrastruktur, mereka tetap berusaha menjalankan roda ekonomi, terlebih saat bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, ketika kebutuhan keluarga harus tetap terpenuhi.

Dengan suara mesin yang meraung di jalan berlumpur, engkreg terus melaju membawa harapan warga dari kampung-kampung terpencil menuju kehidupan yang lebih baik.

Berita Terkait
Berita Terkini