SUKABUMIUPDATE.com - Pantai Talanca yang berada di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, kini kembali tercoreng akibat sampah yang menumpuk. Sempat viral beberapa tahun lalu, tumpukan sampah kain kini muncul lagi, seolah tak pernah benar-benar pergi. Pemandangan ini tentunya memantik sorotan publik dan menambah daftar panjang persoalan lingkungan di kawasan wisata pesisir Sukabumi yang belum tuntas.
Pantai Talanca, Desa Loji, bersama Pantai Cibutun di Desa Sangrawayang, sebelumnya sempat disebut sebagai salah satu pantai terkotor nomor 4 di Indonesia oleh Pandawara Group akibat gunungan sampah yang mengotori garis pantai. Ironisnya, setelah dibersihkan secara besar-besaran pada 2023 oleh ribuan massa yang diinisiasi TNI AD, masalah serupa justru kembali terulang.
Tumpukan kain bekas kini kembali terlihat berserakan di pesisir Pantai Talanca. Kala itu, di masa kepemimpinan Bupati Sukabumi Marwan Hamami, pemerintah daerah bahkan melakukan penelusuran menyusuri aliran Sungai Cimandiri untuk mencari sumber sampah kain yang diduga hanyut ke laut. Namun hingga kini, asal-usul sampah tersebut masih menjadi misteri.
Baca Juga: Firdan Backpacker Sukabumi, Tempuh Jalur Ekstrem ke Mekah hingga Terjebak Konflik
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menegaskan bahwa persoalan sampah di Pantai Talanca tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut citra pariwisata daerah dan kesehatan lingkungan.
Ia mengungkapkan, bahwa pihaknya telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pengecekan lapangan serta pemantauan intensif. Hasilnya, masih ditemukan sampah yang didominasi oleh potongan kain.
“Memang masih terlihat sampah kain dan sampai sekarang pembersihan terus dilakukan. Sampah kain ini masih menjadi kendala, sehingga kita harus kembali melakukan aksi pembersihan,” ujar Ali kepada Sukabumiupdate.com, Rabu (07/01/2025).
Baca Juga: Catat! jadwal Libur dan Cuti Bersama 2026, Bulan Mei Lumayan Banyak
Menurutnya, fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Pada 2023 lalu, kejadian serupa juga muncul, bahkan telah dilakukan penyusuran ke sepanjang aliran Sungai Cimandiri. Namun sumber sampah tetap belum teridentifikasi.
“Tahun 2023 saja kita belum menemukan sumbernya. Penyusuran sudah dilakukan ke sekitar aliran Sungai Cimandiri, tapi asal-usulnya tidak ditemukan secara jelas,” tegasnya.
Untuk memperjelas persoalan, Dinas Pariwisata akan melengkapi data temuan di lapangan dan membandingkannya dengan kejadian sebelumnya. Hasil kajian tersebut akan segera dilaporkan kepada pimpinan daerah.
Baca Juga: Media Asing Soroti Kecelakaan Jetski di Sukabumi yang Tewaskan WN Arab Saudi
“Nanti kita akan lengkapi data yang ada, apakah kejadiannya sama dengan tahun 2023. Ini perlu kolaborasi dengan DLH, TNI, dan Polri, karena tidak boleh sampai mengganggu sektor pariwisata, apalagi berdampak pada kesehatan lingkungan,” kata Ali.
Ali menambahkan, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis kebersihan, melainkan menyangkut harga diri daerah sebagai kawasan wisata.
“Ini harga diri kita sebagai daerah wisata. Kita harus bisa menyelesaikannya sendiri sebelum kemudian dijadikan objek eksploitasi pihak luar,” tandasnya.





