SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau identik dengan cuaca yang panas, kelembapan udara yang lebih rendah, serta meningkatnya debu dan polusi. Kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan, terutama pada saluran pernapasan dan daya tahan tubuh. Meski musim kemarau tidak secara langsung menyebabkan penyakit, lingkungan yang lebih kering dan kualitas udara yang menurun dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Agar lebih waspada, berikut tujuh penyakit yang sering muncul saat musim kemarau beserta gejala yang perlu dikenali.
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi saat musim kemarau. Udara kering, debu, dan polusi dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus maupun bakteri.
Gejala yang perlu diwaspadai:
- Batuk.
- Pilek.
- Sakit tenggorokan.
- Demam.
- Hidung tersumbat.
- Lemas.
Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus dan dapat membaik dengan istirahat yang cukup serta menjaga asupan cairan.
Baca Juga: Jangan Tunggu Sakit! Tips Menjaga Imunitas Tubuh di Musim Kemarau
2. Influenza
Influenza adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.
Gejala:
- Demam tinggi.
- Batuk.
- Pilek.
- Nyeri otot dan sendi.
- Sakit kepala.
- Tubuh terasa lemas.
Influenza biasanya lebih berat dibandingkan pilek biasa dan berisiko menimbulkan komplikasi pada lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit kronis.
3. Radang Tenggorokan
Udara yang panas dan kering dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering sehingga lebih mudah mengalami iritasi. Selain itu, radang tenggorokan juga dapat dipicu oleh infeksi virus atau bakteri.
Gejala:
- Nyeri saat menelan.
- Tenggorokan terasa gatal atau perih.
- Suara serak.
- Demam pada beberapa kasus.
Minum air putih yang cukup dan menghindari asap rokok dapat membantu mengurangi iritasi pada tenggorokan.
4. Asma dan Alergi Pernapasan
Debu, polusi udara, dan serbuk sari yang lebih mudah beterbangan selama musim kemarau dapat memicu kambuhnya asma maupun reaksi alergi pada sebagian orang.
Gejala:
- Sesak napas.
- Napas berbunyi mengi.
- Batuk, terutama pada malam hari.
- Bersin-bersin.
- Hidung gatal atau berair.
Penderita asma disarankan untuk selalu membawa obat sesuai anjuran dokter dan menghindari paparan pemicu.
Baca Juga: Dari Melegakan Pernapasan hingga Meredakan Batuk, Ini Manfaat Peppermint untuk Kesehatan
5. Dehidrasi
Cuaca yang panas membuat tubuh kehilangan cairan lebih banyak melalui keringat. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, seseorang dapat mengalami dehidrasi.
Gejala:
- Haus berlebihan.
- Mulut dan bibir kering.
- Pusing.
- Lemas.
- Urine berwarna lebih pekat.
Untuk mencegah dehidrasi, biasakan minum air putih secara cukup sebelum merasa haus.
6. Heat Exhaustion (Kelelahan Akibat Panas)
Heat exhaustion terjadi ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan garam akibat paparan suhu panas yang tinggi.
Gejala:
- Keringat berlebihan.
- Pusing.
- Mual.
- Kram otot.
- Tubuh terasa sangat lemas.
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat stroke yang merupakan keadaan darurat medis.
7. Konjungtivitis (Iritasi atau Radang Mata)
Paparan debu dan polusi selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko iritasi mata. Pada beberapa kasus, konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.
Gejala:
- Mata merah.
- Gatal.
- Berair.
- Sensasi seperti ada pasir di mata.
- Keluar kotoran mata.
Gunakan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan yang berdebu dan hindari mengucek mata dengan tangan yang belum dicuci.
Musim kemarau dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan, paparan panas, dan kekurangan cairan. Meski demikian, sebagian besar penyakit tersebut dapat dicegah dengan menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan cairan, menggunakan masker saat udara berdebu, mengonsumsi makanan bergizi, serta menerapkan pola hidup sehat.
Mengenali gejala sejak dini dan segera mencari pertolongan medis jika keluhan tidak membaik merupakan langkah penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Baca Juga: Komdigi Tegur YouTube, Gegara Konten Promosikan Vape Libatkan Anak-anak
Sumber: WHO














