SUKABUMIUPDATE.com - Dr. Michael Guillén, seorang ilmuwan mantan fisikawan Harvard, mengklaim bahwa Tuhan mungkin memiliki lokasi fisik di alam semesta.
Namun, bagi siapa pun yang berharap bisa "berkomunikasi" dengannya, Guillén memperkirakan lokasi tuhan berada sekitar 439 miliar triliun kilometer (273 miliar triliun mil) dari Bumi.
Tentu saja, klaim ini sepenuhnya bersifat spekulatif dan bukan merupakan bagian dari sains yang diakui. Guillén mencoba menggabungkan narasi Alkitab Kristen tentang Tuhan dengan konsep fisika modern yang dikenal sebagai cakrawala kosmik (cosmic horizon).
"Secara teoritis, sebuah galaksi yang berjarak 273 miliar triliun mil dari Bumi bergerak menjauh pada kecepatan 186.000 mil per detik, kecepatan cahaya. Jarak yang sangat jauh di angkasa itulah yang disebut Cakrawala Kosmik," atau setara 439 miliar triliun kilometer, tulis Guillén dalam kolomnya di Fox News, dikutip dari IFL Science.
Baca Juga: 100 Yang Maha Kuasa, Prabowo Beri Nilai Dirinya: 98 Milik Presiden, Menteri Dapat 88-89
Dalam fisika dasar, manusia hanya dapat mengamati batas tertentu dari alam semesta yang disebut alam semesta teramati (observable universe), karena cahaya dari objek yang sangat jauh belum sempat sampai ke Bumi.
Ruang angkasa juga terus mengembang berdasarkan Hukum Hubble, di mana objek yang makin jauh akan menjauh dari kita dengan kecepatan yang makin tinggi.
Cahaya dari balik batasan tersebut tidak akan pernah sampai ke Bumi karena ruang di antaranya mengembang lebih cepat daripada kecepatan cahaya itu sendiri.
Guillén kemudian menghubungkan fenomena ini dengan deskripsi teologis. Alkitab menyebutkan bahwa surga tidak dapat diakses oleh manusia yang masih hidup dan dihuni oleh entitas abadi tanpa wujud fisik.
"Pengamatan astronomi terbaik dan teori relativitas Einstein menunjukkan bahwa waktu seolah 'berhenti' di Cakrawala Kosmik. Di jarak ekstrem tersebut, tidak ada masa lalu, masa kini, atau masa depan—yang ada hanya keabadian," klaim Guillén. "Ruang di luar Cakrawala Kosmik tetap ada, artinya wilayah tersembunyi itu bisa dihuni, meski hanya oleh cahaya atau entitas spiritual."
Baca Juga: Jorge Messi Meninggal Dunia di Usia 68 Tahun, Ayah Lionel Messi Tutup Usia
Pernyataan Guillén terdengar puitis, namun mayoritas fisikawan dan ilmuwan kosmologi menolak interpretasi tersebut. Waktu tidak benar-benar berhenti di cakrawala kosmik.
Ketika cahaya dari objek yang sangat jauh merambat melintasi ruang yang mengembang, gelombang cahayanya terdistorsi dan mengalami pergeseran merah (redshift). Akibatnya, peristiwa di dekat batas tersebut tampak melambat dari sudut pandang pengamat di Bumi, bukan berarti waktu di lokasi tersebut benar-benar membeku.
Sebagai analogi: jika seseorang berada di titik cakrawala kosmik tersebut dan melihat ke arah Bumi, Bumi-lah yang akan tampak membeku atau melambat bagi mereka. Namun pada kenyataannya, aktivitas di Bumi tetap berjalan normal.
Cakrawala kosmik bersifat relatif terhadap posisi pengamat, bukan sebuah lokasi atau batas fisik yang nyata di alam semesta. Bumi pun merupakan "cakrawala kosmik" bagi pengamat di bagian alam semesta lain. Memperlakukan batas pengamatan optik seolah-olah sebuah tempat fisik yang dihuni entitas tertentu merupakan kekeliruan pemahaman kosmologi dasar.















