SUKABUMIUPDATE.com - Tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) berhasil menemukan spesies bakteri baru yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem kawasan Geyser Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Mikroorganisme termofilik yang mampu hidup di suhu mendekati titik didih air ini resmi diberi nama Thermus javaensis sp. nov.
Penemuan ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi, International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology (2026;76:007136).
Riset pionir ini dipimpin oleh Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Ilmu Sistematika dan Prospeksi Mikroorganisme FMIPA UI. Ia berkolaborasi dengan sejumlah peneliti UI seperti Dr. Fitria Ningsih, Dr. Mazytha K. Rachmania, dan Dhian Chitra Ayu Fitria Sari, serta melibatkan mitra internasional dari RIKEN Jepang (Yasunori Ichihashi, Ph.D. dan Shuhei Yabe, Ph.D.) serta KRIBB Korea Selatan (Prof. Song-Gun Kim, Ph.D.).
Mampu Hidup di Suhu Ekstrem Semburan Geyser
Prof. Wellyzar mengungkapkan, bakteri Thermus javaensis ditemukan dari serasah daun di sekitar semburan geyser Cisolok yang bersuhu mencapai titik didih air (100°C). Untuk dapat tumbuh di lingkungan seperti itu, mikroorganisme harus memiliki kemampuan adaptasi biologis yang tidak dimiliki kebanyakan makhluk hidup lain.
“Penemuan Thermus javaensis menunjukkan bahwa ekosistem geotermal Indonesia merupakan biodiversity hotspot yang menyimpan keanekaragaman mikroorganisme yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah,” ujarnya dikutip dari laman resmi FMIPA UI, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Mengenal Teknologi AI-UAV, Pendeteksi Ladang Ganja Garapan BRIN dan BNN
Saat diuji di laboratorium, lanjut Wellyzar, bakteri ini mampu tumbuh optimal pada rentang suhu 45–80°C dengan suhu optimum 60–65°C. Secara morfologi, bakteri tersebut berpigmen kuning, bentuk sel batang, dan memiliki struktur unik bernama rotund bodies, yaitu bentuk bulat yang jarang ditemukan pada anggota genus Thermus.
"Keberadaan struktur tersebut menarik perhatian peneliti karena sebelumnya juga pernah ditemukan pada Thermus aquaticus, bakteri terkenal penghasil enzim Taq polymerase yang menjadi dasar teknologi PCR—metode penting dalam diagnosis penyakit dan biologi molekuler modern," jelasnya.
Riset Panjang Lebih dari Satu Dekade
Penetapan spesies ke-26 dari genus Thermus di dunia ini bukan hasil kerja semalam. Wellyzar menyebut eksplorasi awal tim FMIPA UI di Geyser Cisolok sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2012, sedangkan pengambilan sampel spesifik bakteri ini dilakukan pada 2015.
"Proses identifikasi berlangsung bertahun-tahun melalui tahapan isolasi mikroba, analisis genetik, whole genome sequencing (WGS), hingga karakterisasi biokimia dan mikroskopik di kampus UI maupun di berbagai laboratorium mitra internasional," tuturnya.
Adapun tantangan terbesar para peneliti adalah menjaga agar kultur bakteri pencinta panas (termofilik) ini tetap hidup selama proses pemindahan, mengingat mereka memerlukan suhu tinggi dan medium khusus agar tidak mati dan tumbuh optimal.
Peneliti UI temukan bakteri baru tahan panas di Geyser Cisolok Sukabumi. | Foto: Dok. FMIPA UI
Dipastikan Sebagai Spesies Baru
Wellyzar memastikan penetapan Thermus javaensis sebagai spesies baru dilakukan melalui pendekatan studi polifasik yang menggabungkan analisis genetik, fisiologi, biokimia, dan kemotaksonomi.
Hasil analisis menunjukkan bakteri ini berbeda secara signifikan dari spesies terdekatnya, baik pada tingkat genom maupun karakter biologis lainnya. Perbedaan tersebut menegaskan bahwa mikroorganisme tersebut bukan sekadar varian, melainkan spesies baru yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan di dunia ilmiah.
"Dengan penemuan ini, jumlah spesies dalam genus Thermus kini bertambah menjadi 26 spesies sejak genus tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1969," tambahnya.
Baca Juga: Gigi Kamu Bolong? Tenang, Jepang Lagi Bikin Obat Penumbuh Gigi Baru!
Potensi Besar untuk Industri Besar dan Kesehatan
Selain memperkaya khazanah ilmu mikrobiologi dasar, Wellyzar menyebut Thermus javaensis menyimpan potensi nilai ekonomi dan bioteknologi yang sangat tinggi.
Analisis genom menunjukkan bakteri asal Sukabumi ini berpotensi menghasilkan enzim termostabil yang tahan panas dan dapat digunakan dalam proses industri bersuhu tinggi. Peneliti juga menemukan indikasi adanya metabolit sekunder baru dari kelompok terpen yang berpotensi dikembangkan menjadi senyawa antibakteri, antijamur, antiinflamasi, hingga senyawa bioaktif lainnya.
“Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut di bidang bioteknologi, khususnya mikroorganisme termofilik yang berpotensi menghasilkan aplikasi industri bernilai tinggi,” ujar Wellyzar.
Berburu Kandidat Spesies Baru Lainnya
Kawasan geotermal Sukabumi diproyeksikan masih menyimpan ratusan "harta karun" mikroba yang belum terjamah. Tim FMIPA UI mengonfirmasi bahwa saat ini mereka telah mengantongi dua kandidat spesies bakteri baru lainnya dari Geyser Cisolok yang sedang dipersiapkan untuk publikasi ilmiah dunia berikutnya.
"Penelitian lanjutan akan difokuskan pada eksplorasi enzim tahan panas, pigmen pelindung sel, dan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, industri, dan bioteknologi berkelanjutan," pungkas Wellyzar.





