Geliat Perajin Caruluk di Sukabumi Jelang Ramadan: Rp125 Ribu Per Hari, Keluar Masuk Hutan

Sukabumiupdate.com
Senin 09 Feb 2026, 13:26 WIB
Geliat Perajin Caruluk di Sukabumi Jelang Ramadan: Rp125 Ribu Per Hari, Keluar Masuk Hutan

buah caruluk atau kolang - kaling hasil berburu di hutan jelang ramadan (Sumber: warganet)

SUKABUMIUPDATE.com - Menjelang bulan suci Ramadan 2026, para perajin caruluk atau kolang-kaling di Desa Bangbayang, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, kembali disibukkan dengan aktivitas berburu biji buah aren atau kawung. Kegiatan ini menjadi rutinitas tahunan untuk memenuhi tingginya permintaan kolang-kaling selama Ramadan, khususnya di wilayah Pajampangan dan Sukabumi.

Salah seorang pengrajin, Iip (65 tahun), yang akrab disapa Abah Jangkung, mengatakan pencarian buah aren biasanya sudah dimulai sejak satu bulan sebelum Ramadan. Langkah tersebut dilakukan agar proses pengolahan hingga pemasaran kolang-kaling bisa berjalan tepat waktu.

Biji aren kami peroleh dari kebun warga dan juga kawasan hutan yang dikelola Perhutani. Sistemnya borongan per pohon, harganya tergantung jumlah buah dan jarak lokasi pohon,” ujar Abah Jangkung kepada Sukabumiupdate.com, Senin (9/2/2026).

Baca Juga: Deklarasi Pers 2026: Negara Harus Hadir Jaga Media dan Demokrasi

Menurutnya, pohon aren tersebar di berbagai wilayah, mulai dari pinggir jalan hingga kawasan hutan di Kecamatan Cidolog, Sagaranten, dan Tegalbuleud. Setelah buah diperoleh, proses pengolahan harus segera dilakukan karena getah aren dapat menyebabkan rasa gatal yang cukup parah jika terkena kulit.

Kolang-kaling sendiri berasal dari biji buah pohon aren (Arenga pinnata) atau kawung dalam bahasa Sunda. Buah aren berbentuk lonjong hingga bulat, berwarna hijau saat muda dan berubah kuning kecoklatan ketika matang.

Untuk diolah menjadi kolang-kaling, buah aren harus melalui beberapa tahapan. Dimulai dari pemisahan buah dari tangkainya menggunakan golok, kemudian direbus di atas tungku dengan api besar hingga lunak dan getahnya hilang.

Baca Juga: Pasar Purabaya Butuh Lahan Parkir, Sering Picu Kemacetan di Jalur Sukabumi - Sagaranten

“Setelah direbus, buah ditiriskan, dibelah, lalu bijinya dicongkel satu per satu. Itulah yang menjadi kolang-kaling,” jelasnya.

Biji berwarna putih tersebut kemudian dicuci bersih dan direndam selama dua hingga tiga hari. Sebelumnya, kolang-kaling dipipihkan atau digeprek agar teksturnya lebih lunak dan air perendaman lebih mudah meresap ke daging buah.

Proses pembuatan caruluk umumnya dilakukan di rumah dengan mendirikan tenda sederhana dan melibatkan banyak warga sekitar sebagai pekerja musiman. Abah Jangkung menambahkan, biji yang dipilih berasal dari buah aren yang masih muda dan berwarna hijau agar kualitas kolang-kaling lebih baik.

Baca Juga: Jadwal Perjalanan KA Pangrango Sukabumi - Bogor Mau Ditambah, Survei: Maunya Jam Berapa?

Sebagai pengrajin caruluk yang telah menekuni usaha ini selama lebih dari 20 tahun, Abah Jangkung mengaku pemasaran kolang-kaling masih didominasi melalui tengkulak.

“Kami menjual ke tengkulak per kaleng (blek) isi 18 kilogram dengan harga Rp100 ribu. Pasarnya di wilayah Pajampangan, bahkan ada juga yang dikirim ke Pasar Pelita Kota Sukabumi,” ujarnya.

Sementara itu, Egi, pengrajin kolang-kaling lainnya, mengatakan jumlah pengrajin caruluk di Desa Bangbayang cukup banyak. Mereka mengolah kolang-kaling baik di rumah maupun di tegalan atau kebun, biasanya dilakukan secara berkelompok.

Baca Juga: Fokus Beribadah, Ivan Gunawan Berencana Kurangi Syuting Saat Ramadan

Pendapatan rata-rata per orang sekitar Rp 125 ribu per hari masih kotor. Biasanya dua minggu menjelang Idul Fitri, para pengrajin sudah berhenti mengolah karena permintaan mulai menurun, dan sudah mulai sibuk persiapan hari raya," kata Egi.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini