SUKABUMIUPDATE.com- Setelah sempat puasa gelar selama 10 tahun, Persib Bandung kembali mendulang prestasi emas di musim 2023/2024 di bawah nakhoda pelatih asal Kroasia, Bojan Hodak. Hodak datang di pertengahan musim untuk menggantikan pelatih ternama asal Spanyol, Luis Milla, yang dinilai belum memberikan performa terbaik bagi tim kebanggan Jawa Barat tersebut.
Bojan Hodak merupakan pelatih yang jauh dari gosip panas sejak kepergian Luis Milla. Saat itu, banyak media yang memprediksi bahwa Persib akan dilatih oleh Benjamin Mora yang memiliki catatan mentereng di Liga Malaysia bersama Johor Darul Takzim.
Namun, manajemen Persib saat itu melakukan langkah berani dengan menunjuk Bojan Hodak menjadi pelatih anyar Maung Bandung. Meskipun tak setenar Mora, Hodak ternyata memiliki segudang prestasi di kompetisi Asia Tenggara dengan mengemas dua gelar Liga Malaysia bersama Johor Darul Takzim dan Kelantan FA, dua trofi Piala FA Malaysia saat menukangi Kelantan FA, lalu dua piala Malaysia Cup bersama Kuala Lumpur FC dan Kelantan FA. Puncak Karier terbaik Hodak saat berhasil membawa Persib Bandung memberikan three peat gelar bagi Persib Bandung di musim 2023/2024, 2024/2025 dan 2025/2026.
Baca Juga: Dorong Produktivitas Pertanian, Kabupaten Sukabumi Bidik Target Tanam Padi 11.114 Hektare
Di musim 2023/2024, saat pertama kali menukangi Persib Bandung, Bojan Hodak melakukan perombakan skuad, salah satunya mendepak pemain asal Gabon, Layvin Madinda. Hodak langsung mencari pengganti, hingga akhirnya Ia memilih Stefano Beltrame sebagai pemain yang disinyalir tepat untuk menutup kepergian Madinda.
Stefano Beltrame: Trequartista dari kiblat sepak bola dunia
Italia memiliki sejarah panjang mengenai sepak bola, banyak pemain yang memiliki bakat menjadi seorang Trequartista atau pemain yang berada di posisi gelandang dan penyerang. Trequartista memiliki peran untuk membangun serangan tim, menciptakan peluang, memberikan assist dan mencetak gol.
Dengan area bermain yang bergerak bebas dan banyak melakukan kreativitas menjadi tipe pemain yang berada di posisi tersebut. Stefano Beltrame merupakan salah satunya, Ia layaknya reinkarnasi Roberto Baggio hingga Gianni Rivera namun nasibnya harus berbeda dengan kedua legenda tersebut.
Baca Juga: Mengapa Pertamax Masih Belum Turun? Padahal Harga Minyak Dunia Sudah Merosot
Stefano Beltrame merupakan pemain Italia pertama yang memperkuat Persib Bandung, dirinya sempat membela Juventus dari berbagai kelompok umur sampai akhirnya Beltrame harus kalah saing dan perlu meningkatkan jam terbang. Pihak klub akhirnya meminjamkan Beltrame ke Sampdoria, Modena, Bari, Go Ahead Eagles hingga CSKA Sofia.
Setelah kembali dari perantauan, akhirnya Ia memutuskan untuk hengkang secara permanen ke CS Maritimo yang pentas di kasta kedua Liga Portugal. Di tim tersebut, Beltrame kesulitan untuk menunjukan performa terbaiknya, dirinya banyak menghabiskan waktu duduk dibangku cadangan hingga akhirnya diterpa cedera yang memberikan mimpi buruk baginya yang membuat Beltrame dilepas oleh CS Maritimo dengan status bebas transfer.
Namun, mimpi buruk itu usai saat dirinya bergabung dengan Persib Bandung yang dipimpin oleh Bojan Hodak. Bersama Maung Bandung, Beltrame selayaknya pemain yang kembali mendapatkan gairah untuk bermain sepak bola. Bojan Hodak berhasil mengembalikan kepercayaan diri Beltrame dengan memberikan keleluasaan di posisi nomor 10 untuk menopang ketajaman David da Silva hingga kecepatan Ciro Alves di posisi sayap.
Baca Juga: Warga Benteng Sukabumi Sampaikan Aspirasi, Reses Anggota DPRD Jabar Dessy Susilawaty
Berkat kepercayaan yang diberikan Bojan Hodak, Beltrame berhasil mencetak gol perdana bagi Persib Bandung melalui sundulan meneruskan umpan matang David da Silva dari sisi kanan saat tim ditahan imbang Persis Solo 2-2.
Puncak penampilan terbaiknya saat Teto (sapaan akrabnya) mencetak dua assist untuk gol David da Silva dan Ciro Alves ke gawang Borneo FC dengan hasil akhir Persib menang 2-1 di Stadion Jalak Harupat. Ia berhasil melakukan umpan ke ruang kosong sebelum akhirnya dimaksimalkan dengan tendangan mendatar David. Lalu saat gol Ciro, Beltrame melakukan umpan terobosan ke sisi kiri sebelum akhirnya Ciro melakukan sepakan mendatar yang tak mampu dibendung oleh Nadeo Argawinata.
Kunci permainan apik Beltrame di Persib yaitu cepat beradaptasi di kultur sepak bola Asia Tenggara. Berkat penampilan terbaiknya, pemain bernomor punggung 93 tersebut menjadi salah satu aktor kunci yang membawa Persib Bandung menjadi juara Super League setelah penantian 10 tahun. Bersama Persib, Teto mencatatkan 4 gol dan 3 assist selama 16 pertandingan.
Baca Juga: Koalisi SOS Kecam Pernyataan Anggota DPR soal Rokok Murah untuk Rakyat Miskin
Setelah memberikan gelar juara, Stefano Beltrame memutuskan untuk meninggalkan Persib Bandung. Namun aksi-aksi nya selama membela Persib akan selalu dikenang oleh para Bobotoh.
Semenjak kepergian Stefano Beltrame di musim berikutnya tak ada nama pemain Italia yang didatangkan oleh Bojan Hodak. Namun, setelah memberikan dua gelar keduanya untuk Persib Bandung, Hodak kembali mengubah komposisi pemain dengan mengganti dua tower utama tim yaitu Nick Kuipers dan Gustavo Franca dengan mendatangkan Patricio Matricardi, Julio Cesar dan Federico Barba.
Insting serta kepercayaan manajemen tim pada Bojan Hodak kembali terbukti tepat. Hodak kembali mendatangkan pemain asal Italia lainnya, namun posisi berbeda dengan Stefano Beltrame, yaitu bek tengah mantan pemain Como 1907, Federico Barba.
Baca Juga: TiDAR Sukabumi Kecam Pengrusakan Fasilitas Publik dalam Aksi Demonstrasi
Federico Barba: Tembok kokoh bak Colosseum Roma
Federico Barba menjadi pemain yang disorot oleh Bobotoh berkat segudang pengalaman di sepak bola Eropa. Ia meniti karier di tim legendaris AS Roma, di sana Barba ditempa untuk menjadi pemain hebat suatu saat nanti. Meskipun sempat bermain reguler di berbagai kelompok umur, Barba kesulitan jika ingin tampil di tim utama AS Roma yang saat itu masih dihuni Alessandro Romagnoli, Mehdi Benatia hingga Nicolas Burdisso.
Karier nya di dunia sepak bola saat membela beberapa tim terbilang singkat. Barba akhirnya memutuskan hengkang ke Empoli, Chievo Verona, Benevento, Pisa, dua klub La Liga Sporting Gijon serta Real Valladolid. Di musim 2023, Federico Barba sempat bergabung dengan Como yang dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia. Di Giuseppe Sinigaglia, Barba berhasil membawa Como naik kasta dari Serie B ke Serie A.
Setelah itu, Barba hengkang ke Liga Swiss untuk membela FC Sion. Selama satu musim di klub tersebut, akhirnya Federico Barba tiba di Indonesia untuk membela Persib Bandung.
Baca Juga: Dari Mata Air hingga Mitos Prabu Siliwangi, Pesona Sendang Geulis Kahuripan Bandung Barat
Di Persib, Federico Barba menjadi sosok penting bagi Bojan Hodak. Duet utamanya dengan Patricio Matricardi di posisi bek tengah memberikan ketenangan bagi sang kiper, Teja Paku Alam. Terbukti, selain memberikan Persib gelar juara yang ketiga kalinya secara beruntun, Barba menjadi pemain kunci atas catatan minimnya gol yang bersarang di jala gawang Maung Bandung.
Dengan gaya bermain yang tenang, pintar membaca bola, serta piawai dalam memotong serangan lawan layaknya seorang legenda Italia, Franco Baresi. Federico Barba tercatat didapuk menjadi kapten oleh Bojan Hodak di beberapa pertandingan penting Persib Bandung. Tak hanya Bobotoh yang mengakui kematangan Barba, gelandang Persib, Adam Alis, di salah satu siniar mengatakan bahwa Barba memiliki mentalitas bermain yang kuat dan layak menjadi seorang leader.
Gol perdana Barba di Persib Bandung saat menghadapi Arema FC di pekan kedua Super League. Pemain berusia 32 tahun tersebut menjadi penentu kemenangan Maung Bandung saat golnya melalui sundulan bersarang di gawang Lucas Frigeri menit ke-90+2. Sementara terakhir kali dirinya mencetak gol saat Persib menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC, kala itu tim tengah tertinggal dengan margin dua gol, entah datang dari mana Federico Barba tiba-tiba berada di kotak penalti dan berhasil menanduk bola hasil umpan matang Adam Alis. Gol tersebut cukup membuat menaikan mentalitas Persib, hingga akhirnya tim berhasil mengembalikan keadaan menjadi 4-2. Remontada.
Baca Juga: Portugal Ditahan Imbang Kongo, Thierry Henry Sentil Sikap Egois Cristiano Ronaldo
Bobotoh dibuat khawatir saat Barba sempat akan meninggalkan Persib di pertengahan musim lalu untuk bergabung dengan salah satu tim Serie B, Pescara. Keluarga menjadi alasan mengapa dirinya ingin kembali berkiprah di negaranya. Namun, berkat kegigihan manajemen dan tim pelatih untuk tetap mempertahankan Barba berbuah manis. Selain tetap menjadi pemain kunci di putaran kedua hingga akhirnya Ia masuk nominasi pemain terbaik liga sekaligus memberikan gelar juara ketiga secara beruntun bagi Persib Bandung.
Setelah musim berakhir, pemain bernomor punggung 93 tersebut telah memberikan 5 gol dan 2 assist dari 35 laga yang telah dijalani. Fakta menariknya, 5 gol yang dicetaknya saat membela Persib merupakan jumlah tertinggi sepanjang kariernya di dunia sepak bola nya.
Kebersamaan Federico Barba dan Persib Bandung nampaknya tengah berada di ujung tanduk, kabarnya Barba akan segera bergabung dengan tim asal Liga Yunani, Aris Thessaloniki. Meskipun bermain satu musim, Federico Barba menjadi pemain yang layak disejajarkan dengan barisan legenda bek Persib lainnya. Grazie Federico Barba!
Sumber: dari berbagai sumber







