SUKABUMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda zaman dulu menandai waktu tidak dengan jam seperti sekarang, namun menggunakan istilah wanci. Dalam sehari semalam ada banyak wanci yang biasa digunakan salah satunya adalah wanci rumangsang.
Menurut Kamus Ukuran Sunda-Indonesia terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat wanci rumangsang sekitar pukul 09.00, yaitu ketika panas matahari mulai terasa.
Jadi, wanci rumangsang adalah salah satu istilah tradisional masyarakat Sunda untuk menandai waktu pada pagi menjelang siang ketika sinar matahari mulai terasa panas.
Baca Juga: Curug Leuwi Asih, Trekking Seru Menyusuri Sungai dan Sawah Sebelum Tiba di Air Terjun
Istilah ini berbeda dengan sistem penunjuk waktu modern yang menggunakan angka.
Masyarakat Sunda dahulu banyak mengenali waktu berdasarkan perubahan alam, posisi matahari, serta aktivitas manusia.
Karena itu, nama-nama seperti haneut moyan, rumangsang, pecat sawed, dan manceran menggambarkan kondisi yang dapat diamati dalam keseharian.
Arti kata Rumangsang
Dalam konteks istilah waktu ini, rumangsang menggambarkan keadaan ketika panas matahari mulai terasa, sehingga udara mulai terasa lebih gerah.
Baca Juga: Kumpulan Cerpen “Perempuan di Tengah Labirin Mal” Buku Terbaru dari Maspril Aries
Filosofi di balik Wanci Rumangsang
Wanci Rumangsang memperlihatkan bagaimana masyarakat Sunda dahulu membaca waktu melalui alam.
Perubahan panas matahari dapat menjadi petunjuk bahwa pagi telah beranjak menuju siang dan aktivitas masyarakat pun menyesuaikan dengan kondisi tersebut.
Istilah ini juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara bahasa, lingkungan, dan kehidupan agraris masyarakat Sunda.















