SUKABUMIUPDATE.com - Di era digital seperti sekarang, scrolling media sosial sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Banyak orang membuka TikTok, Instagram, atau X hanya sebentar, tetapi tanpa sadar bisa menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus mengonsumsi informasi atau konten tanpa henti, terutama konten negatif atau memicu emosi.
Meski terlihat sepele, kebiasaan scrolling berlebihan ternyata dapat berdampak pada kesehatan otak dan mental. Sejumlah dilansir dari Harvard Health menyebut bahwa paparan informasi tanpa jeda dapat membuat otak mengalami kelelahan, sulit fokus, hingga meningkatkan stres dan kecemasan.
Baca Juga: Bungkam Real Madrid 2-0, Barcelona Pastikan Juara La Liga Musim Ini
Apa yang Terjadi pada Otak Saat Terlalu Lama Scroll Media Sosial?
Saat scrolling media sosial, otak terus menerima rangsangan baru dalam waktu singkat. Video pendek, notifikasi, berita, hingga komentar membuat otak bekerja tanpa henti memproses informasi.
Doomscrolling memicu sistem kewaspadaan otak yang berkaitan dengan rasa takut dan stres. Otak menjadi terus-menerus mencari informasi baru karena merasa harus tetap waspada terhadap sesuatu.
Selain itu, media sosial juga dapat memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan kecanduan. Inilah alasan mengapa banyak orang sulit berhenti scrolling meski sudah merasa lelah.
Baca Juga: 3 Bobotoh Diserang OTK Usai Nobar Persib vs Persija di Sukabumi, Luka di Kepala
Dampak Scrolling Berlebihan untuk Otak
1. Menurunkan Fokus dan Konsentrasi
Konten media sosial yang bergerak cepat membuat otak terbiasa menerima hiburan instan. Akibatnya, otak menjadi sulit fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti belajar, membaca, atau bekerja.
Kondisi ini sebagai popcorn brain, yaitu keadaan ketika otak terasa terlalu terstimulasi akibat paparan digital berlebihan.
2. Memicu Stres dan Kecemasan
Terlalu sering melihat berita negatif, konflik, atau konten yang memancing emosi dapat meningkatkan hormon stres dalam tubuh. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperburuk kecemasan dan membuat suasana hati menjadi tidak stabil.
Banyak pengguna internet juga mengaku merasa lelah secara mental setelah scrolling terlalu lama. Doomscrolling membuat seseorang merasa kosong, emosional, dan sulit berpikir jernih setelah berjam-jam menatap layar.
3. Mengganggu Kualitas Tidur
Scrolling media sosial sebelum tidur dapat membuat otak tetap aktif di malam hari. Cahaya biru dari layar gadget juga menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh tidur.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit tidur, kualitas tidur menurun, dan otak tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Kurang tidur sendiri dapat berdampak pada daya ingat, kemampuan berpikir, hingga kesehatan mental.
4. Membuat Otak Cepat Lelah
Terlalu banyak informasi yang masuk dalam waktu singkat dapat menyebabkan information overload. Kondisi ini membuat otak cepat lelah karena harus terus memproses berbagai emosi, gambar, dan informasi sekaligus.
Akibatnya, seseorang bisa merasa sulit berpikir jernih, mudah terdistraksi, dan kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas lain di dunia nyata.
Baca Juga: SPPG Mekarsari Sukabumi Disidak: Sayur Dipotong di Lantai, Sempit Tanpa Chiller
Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
Agar kesehatan otak tetap terjaga, ada beberapa langkah sederhana yang bisa tdilakukan:
- Membatasi waktu bermain media sosial
- Menghindari scrolling sebelum tidur
- Mematikan notifikasi yang tidak penting
- Mengisi waktu luang dengan aktivitas offline seperti membaca atau olahraga
- Mengatur waktu khusus untuk mengecek berita atau media sosial
Pakar kesehatan juga menyarankan untuk memberi jeda digital agar otak memiliki waktu beristirahat dari banjir informasi.
Scrolling media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa kontrol, kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada kesehatan otak, mulai dari menurunkan fokus, memicu stres, hingga mengganggu kualitas tidur.
Karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak dan memberi waktu istirahat bagi otak agar kesehatan mental dan fisik tetap terjaga.
Sumber: Harvard Health



