Cocok untuk Budidaya Rumahan, Mengintip Siklus Hidup Udang Sawah dari Telur hingga Panen

Sukabumiupdate.com
Minggu 28 Jun 2026, 18:24 WIB
Cocok untuk Budidaya Rumahan, Mengintip Siklus Hidup Udang Sawah dari Telur hingga Panen

Contoh udang sawah/sungai. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Hamparan sawah yang tergenang air tak hanya menjadi tempat tumbuh padi. Di balik rumpun tanaman dan saluran irigasi, hidup hewan kecil yang selama ini menjadi sumber pangan sekaligus mata pencaharian masyarakat pedesaan, yakni udang sawah.

Banyak orang mengira seluruh jenis udang memiliki siklus hidup yang sama. Faktanya, udang sawah memiliki cara berkembang yang berbeda dengan udang laut maupun udang galah. Keunikan inilah yang membuatnya mampu bertahan hidup sepenuhnya di lingkungan air tawar.

Seluruh Siklus Hidup Berlangsung di Air Tawar

Udang sawah yang umumnya berasal dari genus Macrobrachium, seperti Macrobrachium lanchesteri, menyelesaikan seluruh siklus hidupnya di perairan tawar. Berbeda dengan udang galah yang larvanya harus berkembang di air payau, udang sawah tidak memerlukan perpindahan habitat untuk tumbuh hingga dewasa.

Baca Juga: Situ Cimeuhmal: Panorama Gunung Malabar dan Hutan Pinus Cocok Untuk Healing dan Camping

Adaptasi tersebut membuat udang sawah banyak ditemukan di persawahan, saluran irigasi, rawa, hingga sungai kecil yang berarus tenang.

Diawali dari Perkawinan

Siklus hidup dimulai ketika udang jantan dan betina telah mencapai kematangan gonad. Dalam kondisi lingkungan yang baik, kematangan seksual biasanya dicapai dalam waktu beberapa bulan setelah menetas.

Proses perkawinan umumnya terjadi sesaat setelah betina mengalami pergantian kulit (molting). Pada saat itu cangkang masih lunak sehingga memudahkan pejantan memindahkan sperma.

Setelah pembuahan berlangsung, betina mengeluarkan telur yang kemudian menempel pada kaki renang (pleopod) di bagian bawah perut.

Contoh udang sawah yang sedang menggendong telur.Contoh udang sawah yang sedang menggendong telur.

Telur Dirawat Hingga Menetas

Tidak seperti ikan yang meninggalkan telurnya, induk udang sawah membawa telur ke mana pun ia bergerak.

Selama sekitar 2–4 minggu, betina terus mengipas telur menggunakan kaki renangnya agar mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Ia juga membersihkan telur dari lumpur maupun jamur yang berpotensi mengganggu perkembangan embrio.

Jumlah telur memang tidak sebanyak udang galah. Seekor induk hanya menghasilkan puluhan hingga beberapa ratus butir, tetapi ukuran telurnya lebih besar sehingga mengandung cadangan makanan yang cukup bagi embrio.

Tidak Mengalami Larva yang Rumit

Inilah keunikan utama udang sawah.

Pada sebagian besar udang laut, telur akan menetas menjadi larva yang bentuknya sangat berbeda dengan induknya dan harus melalui beberapa fase perkembangan.

Baca Juga: Resmi Tinggalkan Persib Bandung, Rezaldi Hehanussa Tutup Perjalanan Tiga Setengah Musim

Sebaliknya, udang sawah mengalami perkembangan langsung (direct development). Setelah telur menetas, yang keluar bukan larva berbentuk plankton, melainkan juvenil, yaitu udang mini yang sudah memiliki kepala, capit, kaki, dan ekor seperti induknya. Sifat ini memungkinkan spesies seperti Macrobrachium lanchesteri menyelesaikan seluruh daur hidupnya di lingkungan air tawar.

Masa Pertumbuhan Sangat Cepat

Juvenil mulai aktif mencari makanan sendiri di dasar sawah.

Pakan alaminya meliputi:

  • plankton,
  • cacing kecil,
  • larva serangga,
  • alga,
  • detritus atau sisa bahan organik.

Pada fase ini udang mengalami molting, yakni pergantian kulit. Pertumbuhan hanya terjadi setelah kulit lama terlepas dan digantikan kulit baru yang masih lunak.

Semakin muda usia udang, semakin sering molting terjadi. Karena itu pertumbuhan berlangsung cukup cepat selama beberapa bulan pertama.

Kapan Menjadi Dewasa?

Dalam kondisi lingkungan yang baik, udang sawah umumnya membutuhkan waktu sekitar 2–4 bulan sejak menetas hingga mencapai kematangan reproduksi. Bila dihitung sejak telur dibuahi, keseluruhan proses dari telur hingga dewasa berlangsung sekitar 3–5 bulan, meski dapat bervariasi tergantung suhu air, ketersediaan pakan, dan kualitas habitat.

Baca Juga: Pantai Istana Presiden Palabuhanratu, Perpaduan Rindang Pinus dan Deburan Ombak yang Bikin Betah

Setelah dewasa, siklus kembali berulang. Betina akan menghasilkan telur baru dan meneruskan generasi berikutnya.

Sangat Bergantung pada Kualitas Air

Keberadaan udang sawah sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Air yang bersih, saluran irigasi yang tetap mengalir, serta minimnya penggunaan pestisida menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidupnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa Macrobrachium lanchesteri cukup sensitif terhadap pencemaran logam berat dan bahan kimia di perairan. Karena itu, menurunnya populasi udang sawah sering dijadikan salah satu indikator bahwa kualitas ekosistem perairan sedang mengalami penurunan.

Keberadaan udang sawah bukan hanya bernilai ekonomis sebagai sumber protein bagi masyarakat pedesaan, tetapi juga memiliki peran ekologis. Hewan ini membantu mengurai sisa-sisa organik di dasar perairan sekaligus menjadi bagian penting dari rantai makanan di ekosistem persawahan. Menjaga habitatnya berarti ikut menjaga keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan berbagai organisme lain.

Berita Terkait
Berita Terkini