Kisah Eyang Jampang Manggung di Balik Pesona Curug Cijampang

Kisah Eyang Jampang Manggung di Balik Pesona Curug Cijampang

Ilustrasi Ai - Curug Cijampang tak hanya menyuguhkan panorama air terjun yang memikat, tetapi juga menyimpan cerita lokal yang menarik untuk ditelusuri, salah satunya cerita Eyang Jampang Manggung (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Curug Cijampang di Desa Situhiang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, tak hanya menyuguhkan panorama air terjun yang memikat, tetapi juga menyimpan cerita lokal yang menarik untuk ditelusuri.

Salah satunya berkaitan dengan sosok Eyang Jampang Manggung, tokoh yang namanya dikaitkan dengan sebuah petilasan di kawasan air terjun tersebut.

Keberadaan cerita ini menambah nilai budaya Curug Cijampang sekaligus mengundang rasa ingin tahu tentang jejak tokoh lokal yang masih dikenang masyarakat setempat.

Baca Juga: Di Kota Sukabumi Jumlahnya Ada 9 Orang pada 2025, Ini Kisah Pengemis Tajir

Mengutip dari P2K Stekom, di salah satu undakan menuju curug terdapat tempat yang sekilas menyerupai makam.

Namun, tempat tersebut bukan makam, melainkan petilasan atau tempat yang dipercaya berkaitan dengan Eyang Jampang Manggung.

Eyang Jampang Manggung sendiri konon adalah sebutan atau gelar lokal bagi Prabu Jampang Manggung atau Ki Boros Ngora (pangeran dari Kerajaan Galuh Ciamis), yang dikenal sebagai tokoh pengelana dan penyebar agama Islam di wilayah Tatar Sunda.

Sedangkan kerajaan Jampang Manggung adalah kerajaan Sunda kuno yang konon didirikan oleh Prabu Kujang Pilawa sekitar tahun 330 Saka (406–407 Masehi), dengan pusat pemerintahan awal di kaki Gunung Mananggel, Cianjur (wilayah Cikalong Kulon).

Baca Juga: Mau Jalan-jalan ke Blok M? Ini Rute Naik Kereta Api dari Sukabumi yang Bisa Dicoba

Dalam tradisi lisan dan Wawacan Jampang Manggung, Eyang Jampang Manggung sering diidentikkan dengan Sanghyang Boros Ngora (putra Prabu Cakradewa dari Kerajaan Galuh), yang memiliki keahlian tata negara dan juga dikenal lewat beberapa gelar penyebar Islam seperti Syeikh Dalem Haji Sepuh.

Menjelang berdirinya Kabupaten Cianjur oleh Raden Jayasana (Aria Wiratanu atau Dalem Cikundul) pada tahun 1677, wilayah ini sebelumnya berada di bawah pengaruh penguasa lokal Jampang Manggung seperti Prabu Laksajaya dan Patih Hibar Palimping.

Konon, salah satu tradisi Kerajaan Jampang Manggung yang saat ini kembali dilestarikan adalah memandikan anak yang telah dikhitan.

Tradisi seperti ini diperuntukkan keturunan raja Jampang Manggung sejak ratusan tahun lalu.
Prosesi tradisi ini dimulai pagi hari, sejak menjelang matahari terbit dengan mengarak anak-anak yang usai dikhitan menggunakan tandu diiringi kesenian kendang pencak menuju kolam pemandian yang sudah disediakan.

Iring-iringan yang dikawal ratusan pendekar tersebut menempuh jarak sekitar satu kilometer.

Editor:Dede Imran
Berita Terkini