SUKABUMIUPDATE.com - Curug Bangkong di Desa Kertawirama, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tak hanya dikenal karena keindahan air terjunnya, tetapi juga menyimpan cerita rakyat yang menarik untuk ditelusuri.
Salah satu legenda yang berkembang di masyarakat setempat berkisah tentang seorang petapa bernama Abah Wiria yang konon menghilang saat menjalani pertapaan.
Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan kemunculan katak raksasa yang dipercaya menjadi asal-usul nama Curug Bangkong.
Baca Juga: Film Anak Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua, Siap Diputar di Festival Film Eropa
Di balik pesona alamnya, mitos dan legenda-legenda yang menyelimuti tempat tersebut menjadi bagian dari cerita turun-temurun yang menambah daya tarik Curug Bangkong bagi wisatawan.
Nah, mengutip dari banyak sumber, berikut beberapa cerita legenda tentang Curug Bangkong Kuningan yang menambah daya tariknya.
Legenda Abah Wiria, petapa asal Ciamis
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, dahulu ada seorang petapa bernama Abah Wiria yang berasal dari Ciamis. Ia datang ke wilayah Kuningan untuk menjalani tirakat atau pertapaan guna memperdalam ilmu kebatinan.
Dalam kisah tersebut, Abah Wiria menemukan sebuah air terjun yang kemudian dijadikannya sebagai tempat bertapa. Ia tidak hanya dikenal karena kegiatannya bertirakat, tetapi juga karena kedekatannya dengan masyarakat sekitar.
Konon, Abah Wiria mengajarkan cara membuat gula merah atau gula kawung kepada warga. Karena kedekatan dan manfaat yang diberikannya, masyarakat menghormati sosok tersebut dengan panggilan Abah Wiria.
Baca Juga: Ilmuwan BRIN: Super El Nino Bukan Panas Biasa, Waspada Heat Stress! Istirahat Tiap Satu Jam
Seiring berjalannya waktu, ia dikisahkan kembali melakukan pertapaan di sebuah gua yang berada di balik air terjun. Namun, setelah sekian lama, Abah Wiria tidak kunjung kembali sehingga masyarakat mulai khawatir dan berusaha mencarinya.
Mitos katak raksasa penunggu Curug Bangkong
Cerita yang paling dikenal dari Curug Bangkong adalah mitos tentang katak atau kodok berukuran raksasa yang konon tinggal di sekitar air terjun tersebut.
Menurut legenda yang beredar, setelah Abah Wiria menghilang saat bertapa, masyarakat mulai mendengar suara katak yang nyaring dari kawasan air terjun. Suara itu konon dapat terdengar hingga ke sejumlah bagian desa.
Warga kemudian menghubungkan kemunculan suara tersebut dengan hilangnya sang petapa. Ada versi cerita yang menyebutkan bahwa Abah Wiria dipercaya telah mencapai kesempurnaan dalam pertapaannya dan menjelma menjadi katak raksasa.
Mengapa dinamakan Curug Bangkong?
Dalam bahasa Sunda, kata bangkong berarti katak atau kodok. Karena itu, nama Curug Bangkong sering dikaitkan dengan legenda katak raksasa yang dipercaya menghuni kawasan air terjun tersebut.
Menariknya, terdapat pula versi cerita yang menyebut bahwa katak raksasa dalam cerita masyarakat konon merupakan jelmaan topi caping milik Abah Wira, sesepuh desa pada masa lalu.
Perbedaan penyebutan Abah Wiria dan Abah Wira muncul dalam sejumlah sumber yang menceritakan legenda ini.
Curug Bangkong sebagai wisata alam
Terlepas dari kisah mistisnya, Curug Bangkong merupakan destinasi wisata alam di Desa Kertawirama, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan.
Air terjunnya menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam dan udara sejuk.
Lokasi ini juga menawarkan aktivitas papalidan atau menyusuri aliran air menggunakan ban.
Itulah kisah legenda tentang Curug Bangkong Kuningan yang turut menambah daya tarik air terjun tersebut selain keindahannya.















