SUKABUMIUPDATE.com – Sebilah golok tidak selalu hanya berbicara tentang senjata. Di tangan masyarakat Sunda dan Banten, golok juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah, identitas, keberanian, hingga nilai-nilai spiritual yang diwariskan lintas generasi.
Jejak panjang itu salah satunya dapat ditelusuri melalui Golok Kala Petok, seni tradisi yang berkembang di Kota Sukabumi dan berkaitan erat dengan Pencak Silat Sang Maung Bodas serta lingkungan Pesantren Dzikir Al-Fath yang berlokasi di Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.
Kini, Golok Kala Petok telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Jawa Barat 2026. Disparbud Jawa Barat mencatat Golok Kala Petok sebagai salah satu karya budaya asal Kota Sukabumi yang masuk dalam daftar WBTb Jawa Barat.
Pada 2026, tradisi tersebut juga diusulkan Jawa Barat untuk masuk dalam penetapan WBTb Indonesia. Namun, perjalanan Golok Kala Petok jauh lebih panjang daripada sekadar status penetapan WBTb.
Baca Juga: Bahaya Paparan UV pada Mata: Gejala, Risiko, dan Cara Mencegahnya
Dari Jejak Kesultanan Banten ke Sukabumi
Dikutip dari penelitian Sulaeman Malik Ardi dan Siti Robiah Sopaniah dalam Journal of Islamic Social Innovation and Empowerment menjelaskan bahwa Seni Golok Kala Petok berkaitan dengan kedatangan Raden Soemawinata di daerah Cikembang, Kabupaten Sukabumi, pada kisaran tahun 1930, ia juga merupakan keturunan Pangeran Sogiri dari Kesultanan Banten.
Warisan itu kemudian diteruskan secara turun-temurun oleh putranya, Raden H. Adang Sabini sekitar tahun 1960 hingga sampai kepada KH. M. Fajar Laksana, sosok yang kemudian mengembangkan Seni Golok Kala Petok dalam lingkungan Pencak Silat Sang Maung Bodas dan Pesantren Dzikir Al-Fath.
Dengan demikian, sejarah Golok Kala Petok tidak bisa dilepaskan dari hubungan panjang antara tradisi pencak silat, golok, masyarakat Sunda-Banten, serta perkembangan nilai-nilai keislaman di dalamnya.
Baca Juga: M. Salah Resmi Gabung Trabzonspor Gunakan No Punggung 61 ?
Ketika Golok Tak Lagi Sekadar Senjata
Dalam penelitian itu mengungkapkan bahwa Seni Golok Kala Petok sebagai bentuk kontemporer yang menyatukan bela diri, seni pertunjukan, dan praktik spiritual berupa dzikir dengan landasan filosofis Sunda-Islam.
Artinya, terjadi perubahan penting dalam cara golok dimaknai.
Jika pada masa lalu golok erat dengan fungsi pertahanan fisik, dalam Seni Golok Kala Petok golok juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang pengendalian diri dan penyucian batin.
Lalu gerakan utama dalam Seni Golok Kala Petok dilakukan dengan menarik golok dari bawah ke atas sambil melafalkan kalimat tauhid Lā ilāha illallāh. Gerakan itu dimaknai secara simbolis sebagai upaya penyucian diri dan pembukaan kesadaran spiritual.
Gerakan lainnya juga memiliki makna simbolis. Gerakan ke kanan dikaitkan dengan penerimaan cahaya Ilahi dan kebajikan, sedangkan gerakan ke kiri bawah dimaknai sebagai proses membersihkan hati dari penyakit batin dan sifat negatif.
Dengan demikian, pertarungan yang diperlihatkan dalam Seni Golok Kala Petok bukan semata-mata pertarungan melawan lawan di hadapan mata.
Ia menjadi simbol pertarungan manusia melawan keburukan yang ada di dalam dirinya sendiri.
Kala dan Petok, Filosofi di Balik Nama
Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, nama Kala Petok juga memiliki pemaknaan tersendiri.
“Golok” senjata khas Sunda, “Kala” dapat dimaknai sebagai waktu atau momentum, sedangkan “petok” merujuk pada kedekatan atau jarak yang rapat.
Dari pemaknaan tersebut, Golok Kala Petok membawa pesan mengenai ketepatan dalam bertindak. Keberanian tidak semata-mata berarti berani menghadapi lawan, tetapi juga keberanian untuk menentukan sikap pada momentum yang tepat.
Pada titik ini, golok justru tidak ditempatkan sebagai simbol kekerasan. Sebaliknya, ia menjadi pengingat mengenai pengendalian diri, ketepatan bertindak, keberanian, serta kedekatan manusia kepada Sang Pencipta.
Dari Warisan Keluarga Menjadi Warisan Publik
Ada hal menarik lain dari perjalanan Golok Kala Petok. Warisan ini tidak berhenti pada hubungan keluarga dan perguruan. Dalam perkembangannya, ia masuk ke ruang publik melalui pertunjukan, pendidikan, penelitian, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Seni Golok Kala Petok telah memperoleh pengakuan hukum melalui Hak Cipta Nomor 000329868/2022. Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya membawa tradisi ke dalam konteks kehidupan modern tanpa memutus hubungan dengan akar sejarahnya.
Pada sisi lain, pemerintah daerah juga mulai menempatkannya sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dilindungi.
Dalam sidang penetapan WBTb Jawa Barat, Golok Kala Petok menjadi salah satu karya budaya Kota Sukabumi yang diajukan dan kemudian masuk dalam daftar WBTb Jawa Barat 2026. Disparbud Jabar juga mencatatnya sebagai salah satu dari 16 karya budaya Jawa Barat yang diusulkan untuk penetapan WBTb Indonesia pada termin pertama 2026.
Menjaga Golok Kala Petok Tetap Hidup
Pengakuan sebagai WBTb bukanlah akhir perjalanan. Justru, status tersebut menjadi bagian dari upaya agar tradisi tetap dipelajari, dipraktikkan, diteliti, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Golok Kala Petok, tantangan terbesarnya bukan sekadar mempertahankan bentuk gerakan atau keberadaan golok sebagai pusaka. Tantangannya adalah menjaga agar makna yang berada di balik setiap gerakan tidak ikut hilang.
Sebab di balik sebilah golok terdapat sejarah. Di balik gerak pencak silat terdapat pengetahuan. Dan di balik dzikir yang mengiringinya terdapat pesan tentang bagaimana manusia seharusnya mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dari jejak Kesultanan Banten, berkembang di tanah Sunda, kemudian menemukan ruang baru di Sukabumi, Golok Kala Petok akhirnya memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat berubah mengikuti zaman tanpa harus kehilangan akar sejarahnya.
Golok yang dahulu lekat dengan pertahanan fisik kini hadir sebagai bahasa budaya.
Bukan lagi semata-mata tentang bagaimana mengalahkan lawan, melainkan bagaimana menaklukkan diri sendiri.













