SUKABUMIUPDATE.com – Embun pagi masih menggantung di ujung rerumputan liar yang menjulang tinggi. Udara sejuk menyelimuti kawasan yang lama terdiam, seolah menyimpan kisah yang nyaris dilupakan. Di balik sunyi itu, puluhan warga Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, tampak sibuk mengayunkan mesin potong rumput, sabit, dan parang.
Perlahan, ilalang yang menutup akses disibak. Jalan setapak menuju Curug Puncak Manik, air terjun eksotis yang pernah menjadi primadona di kawasan Geopark Ciletuh kembali dibuka. Suara mesin dan tebasan parang memecah kesunyian, menjadi tanda bahwa harapan belum benar-benar padam.
Kegiatan bersih-bersih ini bukan yang pertama. Pemerintah desa bersama warga telah melakukannya berulang kali, sebelum Lebaran 2026, sesudah Lebaran, hingga hari ini. Bagi mereka, ini bukan sekadar kerja bakti, melainkan upaya merawat harapan yang sempat atau nyaris hilang.
Baca Juga: Longsor Maut di Sukalarang Sukabumi, Polisi Selidiki Kelayakan Bangunan Kos
“Kami bersama warga berinisiatif membersihkan kawasan, mulai dari ilalang hingga akses jalan menuju curug. Ini bentuk kepedulian kami terhadap potensi wisata desa yang sempat terbengkalai,” ujar Kepala Desa Cibenda, Ade Rizwan kepada Sukabumiupdate.com. Jumat (17/4/2026).
Di balik semak belukar yang kini perlahan tersingkap, Curug Puncak Manik menyimpan pesona yang tak lekang oleh waktu. Air terjun yang tersembunyi di Kampung Pasir Ceuri ini bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga jejak cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Pemdes dan warga Cibenda, Kecamatan Ciemas gotong royong membersihkan ilalang di kawasan wisata Curug Puncak Manik. Jumat (17/4/2026).
Legenda Nyi Kentring Manik, sosok yang diyakini sebagai istri Prabu Siliwangi, menjadi kisah yang paling dikenal. Konon, ia pernah mandi di air terjun tersebut. Dari sanalah nama “Manik” melekat, diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak hanya itu, masyarakat juga mempercayai adanya dua danau di bawah aliran Sungai Ciletuh yang kedalamannya masih menjadi misteri. Sesekali, muncul pula cerita tentang cahaya berkilau di puncak air terjun, yang diyakini sebagai jejak harta karun peninggalan masa kerajaan.
Baca Juga: 2 Tahun Berlalu, Siswa SDN 2 Cibenda Sukabumi Masih Belajar di Lantai Meski Kelas Sudah Direhab
Namun, pesona dan cerita itu kini berhadapan dengan kenyataan yang tak mudah. Curug Puncak Manik yang dibangun pada 2017 dengan anggaran sekitar Rp5 miliar, dulunya dilengkapi fasilitas lengkap, mulai dari 1.000 anak tangga, area parkir, hingga deretan warung milik warga. Kini, semua itu perlahan membisu.
“Sejak akhir tahun 2020, pengunjung mulai sepi. Pengurus perlahan meninggalkan lokasi, begitu juga warung-warung warga,” ungkap Ade Rizwan.
Waktu berjalan, dan harapan sempat meredup. Namun warga tak benar-benar menyerah. Dalam rentang 2021 hingga 2023, gotong royong tetap dilakukan, meski tanpa kepastian kapan wisatawan akan kembali datang.
Persoalan utama yang dihadapi bukan pada keindahan, melainkan akses. Jalan sepanjang kurang lebih 8 kilometer menuju lokasi dalam kondisi rusak, menjadi hambatan besar bagi siapapun yang ingin berkunjung.
Baca Juga: Bejat! Lansia 72 Tahun Tega Hamili Gadis 13 Tahun Asal Kebonpedes Sukabumi
Di sisi lain, perjuangan juga berlangsung di meja-meja administrasi. Status lahan yang masih berupa hutan cadangan membuat pemerintah desa harus menempuh proses panjang untuk pelepasan kawasan melalui Perhutani.
“Lahan yang sudah dibangun sekitar 2 hektare, ditambah lahan garapan warga yang diajukan, totalnya sekitar 14 hektare,” jelasnya.
Langkah demi langkah telah dilalui. Sejak 2020, peninjauan dilakukan hingga ke tingkat provinsi dan pusat. Hingga akhirnya, pada 2023, Surat Keputusan pelepasan kawasan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terbit, mencakup sekitar 800 hektare di wilayah Ciemas. Kini, prosesnya tinggal menunggu penyelesaian di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Di tengah keterbatasan itu, semangat warga tetap menyala. Setiap ayunan sabit yang membersihkan ilalang, setiap langkah yang membuka jalan setapak, menjadi simbol bahwa Curug Puncak Manik belum ditinggalkan.
Bagi warga Cibenda, curug ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah bagian dari identitas, ruang hidup, sekaligus harapan ekonomi yang ingin kembali mereka bangun.
Dan pagi itu, di antara embun yang perlahan menghilang, cerita tentang kebangkitan Curug Puncak Manik mulai ditulis kembali, pelan, namun pasti.





