SUKABUMIUPDATE.com – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan resmi meluncurkan inovasi teknologi berupa gelang RFID (Radio Frequency Identification). Langkah ini diambil sebagai standar keselamatan baru menyusul evaluasi besar-besaran selama masa penutupan jalur sejak akhir 2025.
Inovasi ini bertujuan untuk memodernisasi sistem pengawasan pendakian sekaligus memastikan keselamatan para pendaki di gunung yang berada di wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi tersebut.
“Untuk itu, Direktorat PJL Kementerian Kehutanan bersama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menghadirkan gelang RFID,” dikutip dari unggahan @ayoketamannasional_official, Selasa (20/1/2026).
Berikut adalah 6 fakta penting mengenai kebijakan gelang RFID yang wajib diketahui calon pendaki Gunung Gede Pangrango yang dirangkum dari berbagai sumber, termasuk suara.com:
1. Pelacakan Real-Time dan Fitur Panic Button
Gelang RFID bukan sekadar aksesoris. Di dalamnya tertanam chip pemancar sinyal yang memungkinkan petugas memantau pergerakan pendaki secara real-time saat melewati titik pemeriksaan (check point).
Menariknya, sistem ini juga didukung dengan infrastruktur Panic Button atau tombol darurat (SOS) yang ditempatkan di titik-titik krusial sepanjang rute. Fitur ini berfungsi sebagai saluran komunikasi instan yang terhubung langsung ke pusat kendali petugas di pos jaga utama.
Baca Juga: Elang Jawa 'Raja Dirgantara' Kembali Mengangkasa di Langit Sukabumi, Dipantau GPS
2. Optimalisasi Operasi SAR (Search and Rescue)
Keselamatan adalah prioritas utama. Dengan chip sensor ini, akurasi pemetaan titik koordinat terakhir pendaki menjadi sangat presisi. Jika terjadi kondisi darurat atau ada pendaki yang dilaporkan hilang, tim evakuasi dapat memangkas durasi pencarian yang selama ini terkendala rimbunnya vegetasi. Operasi SAR pun kini menjadi jauh lebih efektif dan terukur.
3. Diterapkan di Dua Jalur Utama
Sebagai tahap awal, sistem pemantauan berbasis RFID difokuskan pada dua jalur dengan volume pendaki tertinggi, yakni Jalur Cibodas dan Jalur Gunung Putri. Salah satu titik sensor otomatis yang sangat krusial telah dipasang di kawasan Surya Kencana. Setiap pendaki yang melintas akan terekam secara sistematis, memastikan mereka tetap berada di jalur aman.
4. Material Waterproof dan Wajib Digunakan
Gelang ini dirancang khusus untuk medan ekstrem. Terbuat dari material karet sintetis yang elastis dan bersifat waterproof (tahan air), gelang tetap berfungsi optimal di tengah hujan atau kelembapan tinggi.
- Prosedur: Pendaki menerima gelang saat verifikasi di pintu masuk.
- Kewajiban: Wajib dipakai di pergelangan tangan selama pendakian dan dilarang dilepas.
- Checkout: Gelang harus dikembalikan saat melapor turun sebagai bukti sah pendaki telah keluar kawasan dengan selamat.
Baca Juga: Thailand Jadi Tailan, Ini Daftar Ejaan Baru Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia
5. Filter Ketat bagi Pendaki Ilegal
Teknologi ini menjadi "benteng" untuk menekan angka pendaki ilegal. Proses validasi data tidak lagi manual, melainkan melalui sinkronisasi data yang terintegrasi. Pendaki yang tidak mengenakan gelang atau datanya tidak terekam dalam sistem akan langsung teridentifikasi sebagai penyusup, sehingga proteksi terhadap kawasan konservasi lebih terjaga.
6. Bagian dari Pembenahan Total TNGGP
Implementasi RFID merupakan hasil kolaborasi Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) Kementerian Kehutanan dengan Balai Besar TNGGP. Inovasi ini adalah komitmen perbaikan sistem setelah penutupan jalur sejak 13 Oktober 2025 lalu. Penutupan tersebut tidak hanya digunakan untuk pembersihan sampah, tetapi juga persiapan matang menyambut pembukaan kembali pendakian dengan wajah yang lebih modern dan aman.





