SUKABUMIUPDATE.com - Suara kipas angin, obrolan teman, atau denting jam dinding umumnya terdengar biasa bagi kebanyakan orang. Namun, bagi sebagian anak, suara-suara tersebut justru terasa sangat mengganggu bahkan menyakitkan.
Kondisi ini dikenal sebagai hiperakusis, yaitu gangguan pendengaran yang membuat anak menjadi sangat sensitif terhadap bunyi di sekitarnya.
Hiperakusis bisa membuat anak merasa tidak nyaman, takut, hingga menolak beraktivitas seperti biasa. Meski tergolong jarang, kondisi ini perlu dikenali sejak dini agar tidak mengganggu perkembangan emosional dan kualitas hidup anak di kemudian hari.
Apa Itu Hiperakusis pada Anak?
Hiperakusis adalah gangguan pendengaran yang menyebabkan telinga merespons suara secara berlebihan. Anak dengan kondisi ini dapat menganggap suara normal sebagai bunyi yang terlalu keras atau menyakitkan.
Baca Juga: Vitiligo pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mendukung Kepercayaan Diri Anak
Sensitivitas ini bukan disebabkan oleh suara yang benar-benar keras, melainkan oleh cara otak memproses rangsangan suara.
Pada beberapa kasus, hiperakusis juga berkaitan dengan gangguan pendengaran lain seperti tinnitus, yaitu kondisi telinga berdenging. Anak dengan hiperakusis biasanya kesulitan menoleransi suara sehari-hari, seperti bunyi air mengalir, klakson kendaraan, mesin rumah tangga, atau bahkan lipatan kertas.
Gejala Hiperakusis pada Anak
Hiperakusis pada anak sering kali sulit dikenali karena gejalanya tidak selalu terlihat jelas. Selain keluhan fisik, perubahan perilaku juga menjadi tanda penting yang perlu diwaspadai.
Secara fisik, anak dapat mengeluh sakit atau nyeri pada telinga, sering menutup telinga dengan tangan, mudah terkejut, serta berusaha menjauh dari sumber suara. Anak juga tampak tidak nyaman berada di lingkungan yang ramai atau bising.
Dari sisi perilaku, anak mungkin tiba-tiba menangis, berteriak, atau mengalami tantrum tanpa sebab yang jelas. Beberapa anak menunjukkan tanda kecemasan, ketakutan berlebih, atau menolak mengikuti aktivitas tertentu karena merasa terganggu oleh suara di sekitarnya.
Pada anak yang belum mampu mengungkapkan perasaannya dengan baik, perubahan perilaku ini sering menjadi petunjuk utama.
Penyebab Hiperakusis pada Anak
Penyebab hiperakusis cukup beragam. Kondisi ini dapat dipicu oleh paparan kebisingan, cedera kepala, migrain, gangguan pemrosesan pendengaran, hingga stres pascatrauma.
Baca Juga: Hadapi AS Monaco, Real Madrid Targetkan Poin Penuh
Pada sebagian anak, hiperakusis juga dikaitkan dengan kondisi perkembangan tertentu, seperti gangguan pemusatan perhatian atau spektrum autisme.
Secara medis, hiperakusis diduga terjadi akibat aktivitas berlebih pada jalur pendengaran di batang otak. Hal ini membuat suara yang seharusnya normal terdengar jauh lebih keras dari kenyataannya.
Cara Diagnosis dan Penanganan Hiperakusis pada Anak
Diagnosis hiperakusis biasanya dilakukan berdasarkan keluhan dan respon anak terhadap suara. Dokter akan menanyakan jenis suara yang dirasa mengganggu dan melakukan pemeriksaan pendengaran menyeluruh untuk memastikan tidak ada gangguan lain pada telinga.
Penanganan hiperakusis tergantung pada penyebabnya. Dalam beberapa kasus, sensitivitas suara dapat membaik seiring waktu. Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan terapi desensitisasi suara. Terapi ini dilakukan dengan memperkenalkan suara pelan secara bertahap agar telinga dan otak anak dapat beradaptasi kembali.
Selain terapi, peran orang tua sangat penting. Orang tua perlu memberi pemahaman pada lingkungan sekitar, termasuk sekolah, mengenai kondisi anak. Hindari membiasakan anak menutup telinga terus-menerus, karena kebiasaan ini justru dapat meningkatkan sensitivitas suara.
Baca Juga: Sejak Juli 2025 Dua Ribu Pegawai SPPG Sudah Jadi PPPK, 32 Ribu Menyusul pada Februari 2026
Hiperakusis pada anak adalah kondisi langka yang membuat suara normal terasa sangat mengganggu atau menyakitkan. Gejalanya dapat muncul secara fisik maupun perilaku dan seringkali mempengaruhi aktivitas sehari-hari anak.
Sumber: hellosehat





