Kisah Besar KH Ahmad Sanusi: Menulis di Pengasingan, Menengahi Negara di Sidang BPUPKI

Sukabumiupdate.com
Rabu 11 Mar 2026, 14:47 WIB
Kisah Besar KH Ahmad Sanusi: Menulis di Pengasingan, Menengahi Negara di Sidang BPUPKI

Ilustrasi KH Ahmad Sanusi. | Foto: Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Di ruang tamu sederhana Pondok Pesantren Syamsul Ulum, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, kisah tentang ulama besar dihidupkan. Bukan dari arsip negara atau buku sejarah, melainkan ingatan keluarga. Hj Neni Fauziah, cucu sekaligus penerus lembaga pendidikan yang didirikan kakeknya, mengisahkan sosok KH Ahmad Sanusi bukan pertama-tama sebagai tokoh nasional, tetapi ayah, suami, dan guru dalam keluarga.

Nama KH Ahmad Sanusi telah dikenal sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Pahlawan Nasional yang dianugerahkan pemerintah pada 2022. Namun di balik itu, tersimpan cerita yang jarang disorot tentang bagaimana seorang ulama yang menulis lebih dari 100 karya membangun pendidikan keluarga yang disiplin, menghargai wanita, dan menanamkan nilai kasih sayang sebagai fondasi dakwah.

Neni mengungkapkan warisan intelektualnya terawat hingga sekarang. Manuskrip-manuskrip KH Ahmad Sanusi masih tersimpan, termasuk naskah tentang pengobatan dengan racikan tradisional dan panduan amalan keluarga berupa wirid. Karya tafsirnya, Raudhatul Irfan Fii Ma'arifatil Qur'an, menjadi rujukan banyak majelis taklim dan ustaz di berbagai daerah.

Ketua Umum Yaspi Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi Hj Neni Fauziah. | Foto: Oksa Bachtiar CamsyahKetua Umum Yaspi Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Kota Sukabumi Hj Neni Fauziah. | Foto: Oksa Bachtiar Camsyah

Tetapi perjalanan hidup KH Ahmad Sanusi jauh dari kata tenang. Ia pernah ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Dipenjara di Cianjur selama sembilan bulan, dipindahkan ke penjara Kota Sukabumi kurang lebih enam bulan, lalu diasingkan ke Tanah Tinggi Senen, Batavia Centrum. Namun masa pengasingan justru menjadi periode produktif bagi KH Ahmad Sanusi untuk menulis kitab-kitab yang diminta masyarakat atas berbagai hal.

Satu fakta menarik yang jarang diketahui: dalam sidang BPUPKI pada Juli 1945, ketika terjadi perdebatan antara bentuk negara kerajaan atau republik, KH Ahmad Sanusi tampil sebagai penengah. Ia menjelaskan keduanya dari perspektif Islam dan menyimpulkan Indonesia paling sesuai berbentuk imamat—konsep yang dalam konteks saat itu dimaknai sebagai republik.

Kisahnya juga menyimpan episode unik yang memperlihatkan keteguhan akidahnya. Di salah satu pondok pesantren yang ia dirikan, pernah ada kolam yang diyakini sebagian masyarakat membawa kesembuhan. Alih-alih memanfaatkan popularitas tersebut, KH Ahmad Sanusi justru menutupnya karena khawatir menimbulkan pengultusan.

Kini, di tengah perhatian baru terhadap makamnya setelah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, keluarga berharap generasi muda tidak hanya mengenal KH Ahmad Sanusi di buku sejarah atau sebagai nama jalan. Mereka ingin publik membaca karya-karyanya, memahami gagasannya, dan melihat bagaimana seorang ulama dari Sukabumi pernah menempuh perjalanan panjang.

Bagaimana sebenarnya jejak intelektual dan politik KH Ahmad Sanusi hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia? Kisah lengkapnya dapat dibaca di teras.id dalam artikel berjudul "Jejak Pikiran dan Perjuangan Ajengan Gunungpuyuh".

Berita Terkait
Berita Terkini