SUKABUMIUPDATE.COMÂ - Cerita haru tertinggal dari riuh ribuan ummat Muslim Kota dan Kabupaten Sukabumi yang bertekad untuk tetap berangkat menuju Jakarta guna mengikuti Doa Bersama dan Aksi Super Damai Bela Islam III, pada Jumat 2 Desember 2016, hari ini.
Dari titik keberangkatan Kadupugur, seorang santri bernama Muhamad Najib (17) Â nekad menjual handset miliknya seharga Rp300 ribu untuk modal mengikuti aksi yang populer disebut Aksi 212 tersebut. Tidak hanya itu, ia juga nekad meninggalkan ujian tengah semester di sekolahnya.
"Saya malu dapat esemes dari teman, disebut banci jika tidak ikut ke Jakarta," terang Najib kepada sukabumiupdate.com, Kamis (1/2) malam, sekira pukul 23.00 WIB.
Sedangkan dari titik keberangkatan Palagan Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Ismail Abufathan sang Koordinator Lapangan, menyayangkan banyaknya perusahaan otobus (PO) yang membatalkan keberangkatan.
Karena alasan itulah, akhirnya ia harus berjuang menitipkan sebagian peserta yang tidak terangkut dalam puluhan kendaraan pribadi dari area parkir Palagan Bojongkokosan, ke setiap kendaraan dari kelompok keberangkatan berbeda, dari daerah lain di Sukabumi.
"Dari Palabuhanratu aja bis yang dibatalkan ada empat dari rencana delapan, tapi kita tetap berangkat walaupun dengan risiko harus berdesakan," terang Ismail.
Hal berbeda dikemukakan oleh Cepy Sofyan, tadi malam ia nampak sibuk mengatur lalu lintas kendaraan di area tempat bersejarah di Kabupaten Sukabumi itu. "Saya gak bisa berangkat, karena besok giliran nengok tetangga yang dirawat di rumah sakit," terangnya.
Karena alasan tersebut, posisi Cepy akhirnya digantikan oleh pamannya, yang sejak sore mendapat giliran mengurus salah seorang warga yang sakit.