SUKABUMIUPDATE.com - Setiap orang punya cara berbeda saat menghadapi rasa galau, stres, atau tekanan hidup. Ada yang tiba-tiba makan banyak, belanja tanpa sadar, pergi healing, hingga memilih menghilang dari lingkungan sekitar. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai coping mechanism, yaitu cara seseorang merespons emosi yang sedang tidak stabil.
Berikut beberapa bentuk pelarian yang sering dilakukan saat seseorang sedang galau:
1. Emotional Eating, Mencari Rasa Nyaman Lewat Makanan
Sebagian orang memilih makanan sebagai pelarian emosional. Makanan manis seperti es krim, cokelat, atau minuman favorit sering dikonsumsi untuk memperbaiki suasana hati.
Secara psikologis, makanan tertentu dapat memicu hormon dopamin dan serotonin yang memberi rasa nyaman sementara. Sementara makanan pedas bagi sebagian orang membantu mengalihkan pikiran dari stres yang dirasakan.
2. Belanja Berlebihan untuk Mengurangi Penat
Ada juga orang yang melampiaskan kesedihan dengan belanja atau checkout barang secara impulsif. Membeli sesuatu yang diinginkan bisa memberi rasa senang sesaat dan membuat pikiran terasa lebih ringan.
Namun, kebiasaan ini sering hanya menjadi pelarian sementara karena rasa lega biasanya tidak bertahan lama.
Baca Juga: 12 Makanan Tinggi Protein yang Cocok untuk Diet dan Pembentukan Otot
3. Healing dan Liburan untuk Menenangkan Pikiran
Saat merasa lelah secara emosional, sebagian orang memilih pergi ke tempat baru, menikmati alam, atau sekadar keluar dari rutinitas harian.
Psikologi menjelaskan bahwa suasana baru dapat membantu otak lebih rileks dan mengurangi tekanan mental. Karena itu, healing sering menjadi cara untuk mengembalikan energi dan suasana hati.
4. Menghilang dan Menarik Diri dari Lingkungan
Tidak semua orang menunjukkan kesedihannya secara terbuka. Ada yang memilih diam, sulit dihubungi, malas beraktivitas, bahkan kehilangan semangat hidup.
Biasanya, mereka sedang membutuhkan ruang untuk memproses emosi yang dirasakan. Namun, jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena bisa berdampak pada kesehatan mental.
Pada akhirnya, setiap orang memang memiliki cara berbeda untuk bertahan saat hati sedang lelah. Karena itu, daripada langsung menghakimi, mencoba memahami perasaan seseorang bisa menjadi bentuk dukungan sederhana yang sangat berarti.
Baca Juga: Sarapan Tinggi Karbohidrat atau Tinggi Protein, Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh?
Sumber; Psikologytoday




